Barsela24news.com | Lombok Tengah NTB, 23 September 2026 — Sampah plastik menjadi persoalan yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata di kawasan pesisir Teluk Awang, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
Botol plastik, kantong plastik hingga kemasan makanan dan minuman masih ditemukan di kawasan pesisir. Kondisi tersebut menjadi perhatian Program Studi Sosiologi Universitas Mataram (Unram) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pemuda Peduli Pesisir: Edukasi, Ekologi dan Aksi Partisipatif Pemuda dalam Upaya Mitigasi Krisis Sampah Plastik demi Keberlanjutan Ekosistem Pesisir.”
Program ini tidak sekadar mengajak pemuda membersihkan sampah. Lebih jauh, pemuda Teluk Awang didorong menjadi agen perubahan yang mampu mengubah kebiasaan, mencegah timbulan sampah dan membangun gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Pemetaan awal yang dilakukan tim menemukan beragam jenis sampah plastik di kawasan pesisir. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya soal sampah yang terlihat, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan, kebiasaan, perilaku dan pola pengelolaan sampah masyarakat.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada aksi bersih-bersih.
Program disusun melalui empat tahapan, yakni pemetaan awal, edukasi, penguatan kelompok pemuda dan aksi partisipatif.
Dalam tahap edukasi, pemuda diajak memahami sumber sampah plastik, dampaknya terhadap ekosistem pesisir serta pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Pemuda tidak hanya menjadi peserta, tetapi didorong menjadi pelaksana sekaligus penggerak kegiatan lingkungan,” ujar salah satu mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut.
Pemuda Teluk Awang kemudian dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Mereka berbagi peran dalam kebersihan lingkungan, dokumentasi, evaluasi serta koordinasi dengan masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan melalui aksi bersih pesisir, pengumpulan sampah plastik dan edukasi lingkungan secara langsung.
Langkah ini menjadi penting karena membersihkan sampah tanpa mengubah perilaku hanya akan menyelesaikan persoalan di permukaan. Ketika sumber sampah tidak dikendalikan, kawasan yang telah dibersihkan berpotensi kembali dipenuhi sampah.
Atas dasar itu, program “Pemuda Peduli Pesisir” diarahkan menjadi model gerakan lingkungan berbasis pemuda dengan cakupan lebih luas: mencegah timbulan sampah, membangun perubahan perilaku, mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas dan memperkuat kelembagaan pemuda.
Keberlanjutan gerakan juga membutuhkan dukungan masyarakat dan Pemerintah Desa Mertak, termasuk melalui kegiatan lingkungan secara berkala serta penyediaan sarana pengelolaan sampah.
Bagi tim mahasiswa Program Studi Sosiologi Unram, persoalan sampah plastik di Teluk Awang bukan semata persoalan kebersihan. Ini menyangkut bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, membangun kesadaran dan mengambil tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan pesisir.
Dari Teluk Awang, gerakan itu sedang dibangun: pemuda bukan hanya memungut sampah, tetapi didorong menjadi penggerak perubahan sebelum sampah kembali mencemari pesisir.
(Tim)
