Gotong Royong Warga Desa Mujur, Pembangunan Jembatan Orok-Orok Kudung Are Menuju Tembuku Masuk Tahap Pengecoran

Barsela24news.com

Lombok Tengah, NTB — Semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, terlihat nyata dalam pembangunan Jembatan Orok-orok yang menghubungkan wilayah Kudung Are menuju Tembuku. Pada Minggu, 11 Oktober 2026, pembangunan jembatan tersebut telah memasuki tahap pengecoran, sebagai salah satu tahapan penting menuju penyelesaian konstruksi.

Sejak awal pengerjaan, masyarakat bahu-membahu menyumbangkan tenaga, pikiran, serta dukungan material demi terwujudnya jembatan yang diharapkan dapat memperlancar aktivitas sehari-hari warga.

Pembangunan jembatan ini memiliki arti penting bagi masyarakat, terutama dalam menunjang akses ekonomi, sosial, pendidikan, hingga kegiatan ibadah. Dengan adanya jembatan tersebut, warga diharapkan dapat menempuh perjalanan dengan lebih mudah tanpa harus mengambil jalur memutar seperti sebelumnya.

Antusiasme masyarakat dalam pembangunan jembatan tidak terlepas dari harapan besar terhadap manfaat yang akan dirasakan bersama. Salah seorang warga mengungkapkan rasa syukurnya atas perkembangan pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, keberadaan jembatan akan sangat membantu aktivitas masyarakat, khususnya ketika hendak menuju pasar.

“Alhamdulillah, sekarang kalau menuju pasar terasa lebih dekat. Kami tidak perlu lagi memutar jauh seperti sebelumnya,” ungkap salah seorang warga kepada awak media Barsela24news 

Ungkapan itu menggambarkan betapa pembangunan infrastruktur sederhana dapat memberikan dampak nyata terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Hal senada juga disampaikan oleh Agus yang merupakan salah satu panitia pelaksana dalam kegiatan tersebut. Dirinya mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan tersebut dapat berjalan berkat kerja sama dan kepedulian masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki akses penghubung antarwilayah.

Menurut Agus, meskipun pembangunan tersebut dilaksanakan secara swadaya tanpa bantuan pemerintah, masyarakat tetap berkomitmen menyelesaikannya melalui semangat kebersamaan.

“Alhamdulillah, meskipun tanpa bantuan pemerintah, pembangunan jembatan ini dapat kami selesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan,” ujar Agus.

Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa partisipasi masyarakat memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
Meski demikian, gotong royong masyarakat diharapkan tetap mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah, terutama dalam memastikan kualitas konstruksi, keamanan jembatan, serta keberlanjutan pemanfaatannya.

Segenap panitia pembangunan bersama lima orang inisiator menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Mujur yang telah berkontribusi dalam proses pembangunan jembatan tersebut.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada warga yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, material, maupun bantuan moral selama pengerjaan berlangsung.

Apresiasi khusus juga diberikan kepada warga Desa Mujur yang berdomisili di luar daerah, tetapi tetap menunjukkan kepedulian dengan ikut menyumbangkan bantuan demi terwujudnya pembangunan jembatan.

Bagi panitia, dukungan tersebut menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan masyarakat Desa Mujur tetap terjaga meskipun sebagian warga tinggal jauh dari kampung halaman.
Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pembangunan jembatan yang manfaatnya kelak diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah semangat gotong royong tersebut, perhatian awak media juga tertuju kepada sosok Dr. Ir. H. Abdul Hakim, MM., yang terlihat aktif mengikuti perkembangan pembangunan jembatan.

Meskipun berdomisili di Kota Mataram, Abdul Hakim disebut tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat Desa Mujur. Ia bahkan terlihat berulang kali menempuh perjalanan Mataram–Mujur untuk mengikuti kegiatan dan perkembangan pembangunan tersebut.

Kehadirannya menjadi gambaran kepedulian seorang putra daerah terhadap kampung halaman, tanpa memandang jarak maupun latar belakang jabatan yang pernah diemban.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun awak media Barsela24news, Abdul Hakim pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dirinya juga disebut pernah mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kabupaten Sumbawa Barat pada  2015.

Untuk memastikan informasi tersebut, awak media melakukan konfirmasi langsung kepada Abdul Hakim. Dalam keterangannya, ia membenarkan bahwa dirinya pernah menjabat sebagai Plt. Bupati Kabupaten Sumbawa Barat pada 2015.

Kepeduliannya terhadap pembangunan di Desa Mujur menunjukkan bahwa keterikatan dengan kampung halaman tidak harus terputus oleh jarak maupun perjalanan karier di luar daerah.

Pembangunan Jembatan Orok-orok, Kudung Are menuju Tembuku, bukan sekadar pekerjaan fisik untuk menghubungkan dua wilayah. Lebih dari itu, pembangunan ini menjadi cerminan kepedulian, persatuan, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akses infrastruktur bagi kehidupan bersama.

Ketika masyarakat bersatu untuk mewujudkan kebutuhan bersama, keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk memulai perubahan. Kini, dengan pengerjaan yang telah memasuki tahap pengecoran, masyarakat Desa Mujur menaruh harapan agar pembangunan jembatan tersebut segera rampung, memiliki konstruksi yang aman, serta dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Semangat gotong royong yang telah ditunjukkan masyarakat diharapkan menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah, agar inisiatif warga dalam membangun fasilitas umum dapat memperoleh dukungan yang memadai.

Dari Desa Mujur, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: ketika masyarakat bersatu dan bergotong royong, harapan untuk menghadirkan perubahan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Reporter: Jamiri
Editor: Danang