KSB MAJU: MEMBANTU MASYARAKAT ATAU MEMELIHARA KETERGANTUNGAN KEMISKINAN?

Barsela24news.com

SUMBAWA BARAT, NTB — Program Kartu Sumbawa Barat Maju (KSB Maju) menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang diluncurkan pada 20 Mei 2025. Program ini mencakup tujuh bidang, yakni pendidikan, kesehatan, perumahan, sosial, tani ternak, perikanan, dan UMKM.

Program tersebut patut diapresiasi karena bertujuan meringankan beban masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap pelayanan dasar. Namun, di balik besarnya cakupan program, terdapat pertanyaan mendasar yang perlu dijawab secara terbuka: apakah KSB Maju benar-benar menjadi jalan keluar dari kemiskinan, atau baru sebatas membantu masyarakat bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak bantuan pemerintah. Sebaliknya, ini merupakan dorongan agar program yang menggunakan anggaran publik tidak hanya dinilai dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Berdasarkan data dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025, angka kemiskinan Kabupaten Sumbawa Barat turun dari 12,23 persen pada 2024 menjadi 10,98 persen pada 2025. Artinya, terdapat penurunan sebesar 1,25 poin persentase.

Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif. Namun, keberhasilan ini tidak boleh langsung diklaim sebagai hasil KSB Maju semata. Program tersebut baru diluncurkan pada Mei 2025, sehingga diperlukan evaluasi yang mampu memisahkan kontribusi program dari pengaruh pertumbuhan ekonomi, kondisi pasar kerja, serta berbagai kebijakan pembangunan lainnya.

Pertanyaan yang perlu dijawab pemerintah daerah adalah: berapa banyak keluarga penerima manfaat yang mengalami peningkatan pendapatan? Berapa banyak yang berhasil mengembangkan usaha? Dan berapa banyak keluarga yang benar-benar keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan?

Tanpa indikator tersebut, penurunan angka kemiskinan belum cukup untuk menjelaskan sejauh mana KSB Maju memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam laporan yang sama, sasaran KSB Maju disebut mencapai 51.519 kepala keluarga. Hingga akhir 2025, program dilaporkan telah menjangkau 51.133 kepala keluarga atau sekitar 99,25 persen dari sasaran.

Dari sisi jangkauan, angka tersebut menunjukkan bahwa program telah menyentuh sebagian besar keluarga yang ditargetkan. Namun, luasnya cakupan tidak otomatis membuktikan bahwa persoalan kemiskinan telah teratasi.

Keberhasilan program sosial tidak cukup diukur dari berapa banyak kartu disalurkan, tetapi harus dilihat dari berapa banyak kehidupan masyarakat yang benar-benar berubah.

Kartu dan bantuan merupakan instrumen kebijakan, bukan tujuan akhir. Pemerintah perlu memastikan bahwa manfaat yang diberikan sesuai kebutuhan, tepat sasaran, serta menghasilkan perubahan yang dapat diukur.

Jangan sampai keberhasilan administratif justru lebih menonjol daripada keberhasilan substantif yang dirasakan masyarakat.

Bantuan Penting, tetapi Pemberdayaan Tidak Boleh Diabaikan. Bantuan pendidikan dapat meringankan beban biaya sekolah. Dukungan kesehatan membantu mengurangi pengeluaran keluarga. Bantuan sosial juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat miskin ekstrem, lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.

Namun, kemiskinan tidak selalu dapat diselesaikan melalui bantuan konsumtif. Banyak keluarga menghadapi persoalan yang lebih mendasar, seperti terbatasnya lapangan pekerjaan, rendahnya keterampilan, minimnya modal usaha, dan sulitnya mengakses pasar.

Karena itu, KSB Maju perlu memiliki strategi yang lebih kuat untuk menghubungkan bantuan dengan pemberdayaan ekonomi.

Pada sektor pertanian dan peternakan, misalnya, dukungan tidak seharusnya berhenti pada pemberian sarana produksi. Petani dan peternak juga membutuhkan pendampingan, akses pembiayaan, kepastian pemasaran, serta perlindungan dari gejolak harga.

Demikian pula sektor perikanan dan UMKM. Bantuan peralatan atau modal akan lebih bermakna apabila disertai peningkatan keterampilan, pengembangan produk, akses pasar digital, kemitraan usaha, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Tujuannya bukan sekadar membuat masyarakat menerima bantuan, melainkan memperbesar kemampuan mereka untuk memperoleh penghasilan secara mandiri.

Potensi Ekonomi Daerah Harus Membuka Kesempatan bagi Masyarakat. Kabupaten Sumbawa Barat memiliki potensi ekonomi yang besar, termasuk dari sektor pertambangan. Potensi tersebut perlu dihubungkan dengan upaya memperluas kesempatan kerja dan mengembangkan usaha masyarakat lokal.

Pemerintah daerah dapat memperkuat pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, mendorong kemitraan antara pelaku UMKM dan perusahaan, serta membuka peluang bagi usaha lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok industri.

Dengan pendekatan tersebut, program pengentasan kemiskinan tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dengan kebijakan investasi, ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, dan pengembangan ekonomi daerah.

Sebab, masyarakat tidak cukup hanya diberi bantuan untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan layak, meningkatkan keterampilan, dan membangun usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Pemerintah Perlu Membuka Evaluasi Berbasis Hasil. Agar KSB Maju dapat dinilai secara objektif, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat perlu memublikasikan evaluasi berkala yang tidak hanya berisi jumlah penerima dan besaran penyaluran bantuan.

Evaluasi tersebut setidaknya perlu menjelaskan:

1. Perubahan pendapatan keluarga penerima manfaat sebelum dan sesudah mengikuti program.
2. Jumlah usaha penerima manfaat yang tumbuh, bertahan, atau mengalami kegagalan.
3. Jumlah lapangan kerja yang tercipta melalui dukungan program.
4. Perkembangan keluarga penerima manfaat yang berhasil keluar dari kemiskinan.
5. Ketepatan sasaran, kualitas pelayanan, serta efektivitas penggunaan anggaran.
6. Keberlanjutan kondisi ekonomi keluarga setelah memperoleh dukungan program.

Data tersebut penting agar publik dapat mengetahui apakah anggaran yang dikeluarkan telah menghasilkan manfaat sesuai tujuan kebijakan.

Evaluasi juga perlu membedakan kelompok penerima berdasarkan kebutuhan. Keluarga yang memerlukan perlindungan sosial jangka panjang tentu tidak dapat disamakan dengan keluarga usia produktif yang memiliki potensi mengembangkan usaha atau memasuki dunia kerja.

Jangan Menyalahkan Masyarakat atas Ketergantungan. Istilah ketergantungan terhadap bantuan perlu digunakan secara hati-hati. Tidak adil jika masyarakat dianggap tidak mandiri ketika kesempatan kerja, akses modal, keterampilan, dan peluang pasar masih terbatas.

Bagi kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan berkelanjutan, bantuan merupakan bagian penting dari tanggung jawab pemerintah. Mereka tetap berhak mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Sementara itu, bagi keluarga yang memiliki potensi produktif, pemerintah perlu membuka jalan agar mereka dapat meningkatkan pendapatan dan memperkuat ketahanan ekonomi.

Dengan demikian, ukuran kemandirian bukanlah memaksa seluruh penerima berhenti mendapatkan bantuan. Ukurannya adalah memastikan setiap keluarga memperoleh dukungan yang sesuai, memiliki kesempatan berkembang, dan tidak terjebak dalam kemiskinan akibat terbatasnya akses terhadap sumber penghidupan.

KSB Maju Harus Melampaui Sekadar Penyaluran Bantuan. KSB Maju memiliki peluang untuk menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbawa Barat. Namun, peluang tersebut membutuhkan kebijakan yang terukur, pendampingan yang konsisten, dan evaluasi yang terbuka kepada publik.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program ini tidak hanya berhasil dalam penyaluran, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha lokal, dan penurunan kemiskinan yang berkelanjutan.

Kritik terhadap program ini bukan berarti menafikan manfaat bantuan sosial. Justru, kritik diperlukan agar kebijakan publik terus diperbaiki dan setiap anggaran yang digunakan memberikan hasil yang semakin jelas bagi masyarakat.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk melewati kesulitan hari ini. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak, mengembangkan usaha, menyekolahkan anak, serta membangun masa depan yang lebih baik.

Bantuan meringankan beban. Pemberdayaan membuka kesempatan. Kemandirian memperkuat masa depan.

KSB Maju akan semakin bermakna ketika manfaatnya tidak hanya dirasakan saat bantuan diberikan, tetapi juga ketika masyarakat memiliki kemampuan dan kesempatan lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan.

Kini, tantangannya bukan sekadar memperluas jangkauan program, melainkan membuktikan dampaknya. Sebab, ukuran akhir keberhasilan pengentasan kemiskinan bukan berapa banyak masyarakat yang menerima bantuan, tetapi sejauh mana kebijakan tersebut membantu mereka keluar dari kesulitan ekonomi tanpa mengabaikan kelompok yang masih membutuhkan perlindungan.

Oleh: Danang Mario