Mataram, NTB - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, H. Lalu Hadrian Irfani, S.T., M.T., yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR RI, menyampaikan ucapan Selamat Memperingati Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat, para budayawan, seniman, pelaku sanggar, penjaga tradisi, tokoh adat, dan generasi muda.
Hari Kebudayaan Nasional yang berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 162/M/2025 diperingati setiap tanggal 17 Oktober, merupakan sebuah momentum historis yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Tanggal 17 Oktober dipilih merujuk pada peristiwa penting pada tanggal 17 Oktober 1951, ketika Pemerintah Republik Indonesia menetapkan lambang negara Garuda Pancasila yang di dalamnya terdapat pita bertuliskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951. Penetapan tersebut menjadi simbol bahwa kebudayaan adalah jiwa pemersatu bangsa.
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Barat II yang meliputi seluruh Pulau Lombok ini menegaskan bahwa peringatan Hari Kebudayaan Nasional tidak boleh dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan semata. Lebih dari itu, peringatan ini harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi mendalam, introspeksi kolektif, dan komitmen nyata dalam menjaga, merawat, mengembangkan, dan mewariskan kebudayaan nasional kepada generasi mendatang.
Menurut Lalu Hadrian Irfani yang akrab disapa Lalu Ari, Indonesia adalah bangsa yang dianugerahi kekayaan budaya yang luar biasa. Di Nusa Tenggara Barat saja, kita memiliki kekayaan tradisi yang tidak ternilai, mulai dari Gendang Beleq, Presean, Wayang Kulit Sasak, Gamelan, Tenun Ikat dan Songket khas Lombok dan Bima, Tradisi Bau Nyale, Tradisi Bau Nyale, Perang Topat, hingga tradisi-tradisi lisan, kuliner, dan ritual adat yang tersebar di ribuan desa. Semua kekayaan tersebut adalah wujud nyata dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang bermitra langsung dengan Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Lalu Hadrian Irfani menyampaikan beberapa pandangan dan komitmen sebagai berikut:
Pertama, kebudayaan harus menjadi landasan utama dalam pembangunan karakter bangsa. Di tengah tantangan era digitalisasi, globalisasi, dan penetrasi budaya asing yang sangat cepat melalui media sosial, maka benteng utama kita adalah jati diri kebudayaan. Oleh karena itu, pendidikan kebudayaan harus diperkuat sejak usia dini, mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi. Kurikulum harus memberikan ruang yang lebih besar bagi muatan lokal dan pengenalan budaya Nusantara.
Kedua, negara harus hadir untuk menyejahterakan pelaku budaya. Banyak seniman, maestro tenun, empu keris, penari tradisional, dan penjaga adat yang hingga hari ini masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagai anggota Komisi X, Fraksi PKB berkomitmen untuk terus memperjuangkan peningkatan alokasi anggaran fungsi kebudayaan, penguatan Dana Abadi Kebudayaan, perlindungan hukum atas kekayaan intelektual komunal, fasilitasi revitalisasi sanggar dan balai adat, serta jaminan sosial bagi pelaku budaya.
Ketiga, kebudayaan harus menjadi motor penggerak ekonomi rakyat dan diplomasi daerah. Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu daerah super prioritas pariwisata nasional memiliki modal budaya yang sangat kuat. Desa-desa adat seperti Desa Sade, Desa Ende, Desa Sembalun, hingga kawasan-kawasan adat di Bima dan Dompu adalah etalase budaya Indonesia di mata dunia. Pengelolaan pariwisata berbasis budaya harus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal, dikelola oleh masyarakat lokal, dan tidak menggerus nilai-nilai sakral tradisi itu sendiri.
Keempat, pelestarian kebudayaan membutuhkan kolaborasi lintas generasi. Lalu Hadrian Irfani mengajak para pemuda dan pelajar di NTB untuk tidak malu dan tidak gengsi dalam mempelajari dan mengenakan pakaian adat, memainkan alat musik tradisional, dan berbicara dalam bahasa daerah. Membuat budaya menjadi keren, relevan, dan menjadi gaya hidup di era digital adalah kunci agar budaya tetap hidup.
Pada kesempatan ini, Lalu Hadrian Irfani juga mengapresiasi langkah Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang telah mengapresiasi berbagai inisiatif masyarakat dalam menyambut Hari Kebudayaan Nasional tahun ini, termasuk inisiatif dari berbagai lembaga adat di seluruh Indonesia yang secara swadaya menggelar berbagai kegiatan kebudayaan.
Menutup pernyataannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Nusa Tenggara Barat ini mengajak seluruh Bupati, Walikota, Kepala Desa, Kepala Sekolah, pimpinan sanggar, dan seluruh elemen masyarakat di NTB untuk menyambut Hari Kebudayaan Nasional pada tanggal 17 Oktober 2026 mendatang dengan kegiatan-kegiatan yang nyata dan membumi, seperti membersihkan situs-situs cagar budaya, menggelar pentas seni di alun-alun desa, mengajarkan menenun di sekolah, serta mendokumentasikan cerita-cerita lisan dari para sesepuh adat.
Mari kita jadikan Hari Kebudayaan Nasional sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kita bersama. Kebudayaan bukan hanya tentang masa lalu yang harus kita kenang, tetapi tentang masa depan yang harus kita bangun. Jika kita menjaga kebudayaan, maka kebudayaan itu sendiri yang akan menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
(BR)
