Barsela24news com, Lombok Tengah, 24 Febuari 2026 | Setiap pagi, sebelum bel berbunyi di SMP Satap 8 Praya Timur, ada satu pelajaran yang lebih dulu dihadapi para siswa, yaitu pelajaran tentang kesabaran berjalan di atas jalan yang rusak.
Aspal terkelupas, lubang menganga seperti jebakan, genangan air yang menipu kedalaman namun itulah rute harian anak-anak dari Desa Ganti, Desa Jero Puri, hingga Desa Semoyang. Jalan tersebut bukan hanya sekadar retak. Namun terlihat mulai hancur perlahan, dan seakan dibiarkan menjadi bagian dari rutinitas.
Ironisnya, pendidikan sering disebut sebagai prioritas. Tetapi di Praya Timur, prioritas itu harus melewati lubang demi lubang. Anak-anak yang seharusnya memikirkan tugas matematika atau ujian semester, justru lebih dulu menghitung risiko terpeleset atau terjatuh saat di perjalanan. Setiap keterlambatan bukan semata soal disiplin, melainkan soal medan jalan yang tak ramah.
Pantauan awak Media Barsela24news.com yang turun langsung untuk menyaksikan bagaimana perjalanan yang jarak tempuh beberapa kilometer tersebut malah terasa seperti perjalanan tanpa kepastian. Kendaraan melambat bukan karena macet, tetapi karena kehati-hatian. Sedikit saja salah kendali, kecelakaan bisa terjadi. Apalagi di musim hujan seperti saat ini, kondisi itu seakan berubah menjadi ancaman yang nyata.
Seorang guru yang enggan di sebutkan namanya menyampaikan kegelisahan dengan nada setengah bercanda, namun sarat penuh makna.
“Jalan sudah lama seperti ini. Kami berangkat mengajar pagi, siangnya baru sampai. Jangan salahkan jika kami terlambat,” ujarnya.
Ucapan itu terdengar ringan. Tetapi ia menyentuh inti persoalan, jika akses menuju sekolah saja belum dianggap mendesak untuk dibenahi, bagaimana komitmen terhadap kualitas pendidikan dapat diyakinkan.
Pemerintah daerah tentu memiliki banyak agenda pembangunan. Namun infrastruktur menuju sekolah bukanlah proyek biasa. Melainkan sebuah simbol keberpihakan. Ketika jalan menuju pusat pendidikan rusak bertahun-tahun, maka publik wajar bertanya, "apakah anak-anak di Praya Timur sudah benar-benar ditempatkan sebagai prioritas"?
Tak ada yang berharap sensasi atau viral lebih dulu baru ada tindakan. Tak ada pula yang ingin menunggu korban jatuh sebagai alarm. Yang diharapkan sangat sederhana, hanya perhatian yang nyata sebelum risiko berubah menjadi tragedi.
Jalan rusak memang terlihat seperti persoalan teknis. Namun sebenarnya itu adalah sebuah pesan moral, di atas jalan berlubang itu, anak-anak Praya Timur kini sedang mengajarkan diri tentang arti ketekunan. Kini giliran pemerintah menunjukkan arti tanggung jawab.
Karena pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas dan kurikulum. Tapi diawali dari jalan yang aman untuk sampai ke ruang pendidikan.
Tim: Barsela24
