Diduga Dampak Illegal Logging, Desa Mataiyang "Desa Di Atas Awan" Sumbawa Barat Diterjang Banjir Bandang

Barsela24news.com

Sumbawa Barat, NTB – Desa Mataiyang, yang dikenal sebagai “Desa di atas awan” di Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, untuk pertama kalinya diterjang banjir bandang pada Selasa, 24 Februari 2026. Banjir datang setelah hujan deras mengguyur kawasan perbukitan tersebut selama beberapa jam.

Air bercampur lumpur, kayu, dan bebatuan meluncur dari kawasan hutan di bagian hulu dan meluap hingga ke permukiman warga. Sejumlah rumah terendam, sementara lahan pertanian milik masyarakat dilaporkan rusak akibat terjangan arus.

Beberapa warga menduga banjir bandang itu berkaitan dengan maraknya praktik penebangan liar di kawasan hutan sekitar desa dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menilai kondisi hutan yang kian terbuka membuat daya serap air berkurang sehingga aliran permukaan meningkat saat hujan lebat.

“Dulu walaupun hujan deras, tidak pernah sampai banjir seperti ini. Sekarang hutan sudah banyak ditebang,” kata seorang warga yang ditemui di lokasi.

Hingga Selasa sore, pemerintah desa masih melakukan pendataan dampak kerusakan serta membantu warga membersihkan material banjir. Belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerugian materiil diperkirakan cukup besar, terutama pada sektor pertanian.

Peristiwa ini memunculkan kembali sorotan terhadap pengawasan kawasan hutan di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat. Sejumlah pihak mendesak pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum untuk menindak tegas praktik illegal logging yang diduga menjadi salah satu faktor pemicu bencana.

Selain penegakan hukum, upaya rehabilitasi dan reboisasi hutan dinilai mendesak guna mencegah peristiwa serupa terulang. Kerusakan tutupan hutan di daerah hulu berpotensi meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

Banjir bandang di Desa Mataiyang menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung pada keselamatan warga, bahkan di wilayah yang sebelumnya relatif aman dari bencana serupa.

Laporan: Danang Mario