Abdya - Wakil ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) Mustiari, menyoroti peristiwa truk pengangkut biji besi yang menabrak pengendara becak di jalan nasional Meulaboh-Tapaktuan tepatnya di Gampong Alue Jerjak, Kecamatan Babahrot yang merenggut korban jiwa. Sabtu (28-03-2026)
Seorang pengemudi becak bernama Rizki Wahyudi (32), warga Dusun Pasar, Desa Pantee Rakyat, harus meregang nyawa di lokasi kejadian usai terlibat tabrakan dengan kendaraan berat tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian becak yang dikendarai korban melaju dari arah Blangpidie menuju Babahrot. Sementara mobil hauling datang dari arah berlawanan, yakni dari Babahrot menuju Blangpidie.
Benturan keras tak terhindarkan saat kedua kendaraan berpapasan. Akibatnya, korban mengalami luka sangat parah, termasuk rahang yang dilaporkan patah akibat hantaman keras.
Warga yang berada di sekitar lokasi sempat memberikan pertolongan, namun korban dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).
Mobil hauling yang terlibat dalam insiden ini diketahui bernomor polisi BL 8990 TB dan diduga tengah beroperasi seperti biasa di jalur umum saat kecelakaan terjadi.
Di tengah proses peliputan, muncul dugaan adanya pihak yang menghalangi kerja wartawan.
Seorang jurnalis mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum yang diduga terkait dengan pihak mobil hauling. Bahkan, sempat terjadi ketegangan saat wartawan berupaya mengambil gambar dan menggali informasi di lokasi.
Sementara itu, jenazah korban telah dibawa pulang ke rumah duka di Desa Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, untuk disemayamkan. Rencananya, almarhum akan dikebumikan di Kecamatan Kuala Batee.
Insiden ini pun menuai kecaman keras dari Wakil Ketua I DPRK Aceh Barat Daya, Tgk Mustiari. Politisi Partai Aceh yang akrab disapa Mus Seudong itu menegaskan, kecelakaan yang terus berulang akibat aktivitas mobil hauling di jalan umum sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak bisa lagi dibiarkan.
Ia secara khusus mengecam operasional mobil hauling yang tetap beraktivitas baik siang maupun malam hari tanpa memperhatikan aspek keselamatan masyarakat pengguna jalan.
“Ini harus jadi perhatian serius. Mau siang atau malam, kalau mobil hauling tetap beroperasi di jalan umum tanpa pengawasan ketat, risikonya sangat besar. Ingat, keselamatan masyarakat itu yang utama,” tegasnya.
Mus Seudong juga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk segera mengevaluasi total aktivitas kendaraan hauling, termasuk mempertimbangkan pembatasan jam operasional hingga penertiban jalur khusus.
“Jangan tunggu korban berikutnya. Harus ada langkah tegas dan nyata. Keselamatan warga tidak boleh dikorbankan,” ujarnya.
Selain itu, ia turut menyoroti dugaan penghalangan terhadap kerja jurnalistik di lokasi kejadian. Ia mengingatkan agar semua pihak menghormati kebebasan pers dan tidak mengintimidasi wartawan.
“Pers itu bekerja untuk publik. Tidak boleh ada yang menghalangi apalagi sampai mengintimidasi,” tambahnya.
Insiden kecelakaan ini kembali memicu keresahan warga Babahrot. Aktivitas mobil hauling yang kerap melintasi jalan umum dinilai semakin membahayakan pengguna jalan, terutama kendaraan kecil seperti becak dan sepeda motor.
“Setiap hari kami was-was. Mobil hauling sering lewat, padahal ini jalan umum dan cukup ramai. Sangat berbahaya,” ujar salah seorang warga.
Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh dan langkah konkret dari pemerintah agar kejadian serupa tidak kembali terulang, serta keselamatan pengguna jalan dapat lebih terjamin di wilayah tersebut.
Laporan : NR

