Senggigi, Lombok Barat – Suasana penuh kekhusyuk'an dan kebersamaan terasa kental dalam kegiatan pengajian ba'da subuh yang bertema Hikmah Syawwal dan Halal Bihalal yang dirangkaikan dengan zikir serta tradisi Rowah Lebaran Ketupat di Masjid Jami' Nurul Iman Senggigi, Sabtu (28/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan penceramah kharismatik, "TGH M. Taisir Al Azhar, Lc.M.A", yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan seputar makna bulan Syawwal, pentingnya halal bihalal, serta nilai spiritual dalam tradisi Lebaran Ketupat yang hidup di tengah masyarakat Lombok.
Kehadiran TGH M. Taisir Al Azhar, Lc. menjadi magnet utama. Dalam tausiyahnya, ia melontarkan pesan tegas yang menyentil kebiasaan masyarakat yang dinilai mulai menggeser makna halal bihalal.
“Jangan sampai halal bihalal hanya jadi acara salaman, makan-makan, lalu selesai. Tapi hati masih penuh dendam,” tegasnya lantang di hadapan jamaah.
Menurutnya lagi, bahwa bulan Syawwal adalah ujian lanjutan setelah Ramadhan. Jika selama Ramadhan umat mampu menahan diri, maka di Syawwal saatnya membuktikan keikhlasan dalam memaafkan dan memperbaiki hubungan sosial.
beliau menegaskan bahwa bulan Syawwal bukan sekadar penutup rangkaian ibadah Ramadhan, melainkan momentum untuk menjaga konsistensi iman dan memperkuat hubungan sosial.
“Halal bihalal bukan hanya tradisi saling bermaafan, tetapi merupakan sarana menyucikan hati, memperbaiki hubungan antar sesama, serta menghapus sekat-sekat sosial yang mungkin sempat terbangun,” ungkapnya lagi di hadapan jamaah.
Ia juga menjelaskan bahwa tradisi Rowah dan Lebaran Ketupat memiliki makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penguatan ukhuwah Islamiyah. Ketupat yang menjadi simbol dalam perayaan tersebut dimaknai sebagai representasi kesalahan yang telah “terbungkus” dan dilebur melalui permohonan maaf.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh jamaah untuk tidak menjadikan halal bihalal sebagai seremoni tahunan semata, melainkan sebagai budaya hidup yang terus dijaga dalam keseharian.
“Silaturahmi harus terus hidup, bukan hanya saat Syawwal. Karena di situlah keberkahan rezeki, panjang umur, dan ketenangan hidup,” tambahnya.
Acara yang dirangkaikan dengan zikir bersama tersebut semakin memperkuat nuansa spiritual. Jamaah yang hadir tampak larut dalam lantunan doa dan dzikir, memohon keberkahan serta keselamatan bagi diri, keluarga, dan masyarakat.
Tradisi Rowah Lebaran Ketupat yang menjadi bagian dari kegiatan ini juga menunjukkan kekayaan kearifan lokal masyarakat Lombok yang tetap selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Panitia Masjid Jami’ Nurul Iman Senggigi, menyampaikan, bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan sebagai wadah mempererat kebersamaan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus memperkuat persatuan umat, menjaga tradisi yang baik, serta menjadi sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” ungkapnya.
Dengan antusiasme jamaah yang tinggi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai halal bihalal, zikir, dan tradisi keagamaan lokal tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya di kawasan Senggigi."Tutupnya
Laporan : Bagoes
