Aceh Utara I Banjir memang telah surut dari wilayah Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Namun, bagi dunia pendidikan, bencana itu belum benar-benar berakhir dan juga pulih. Hingga Sabtu, 18/4/2026, aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah masih berlangsung dalam kondisi darurat jauh dari kata layak.
Di tingkat sekolah dasar, seperti SDN 2 Kecamatan Langkahan, dari amatan media, para murid terpaksa mengikuti pelajaran di bawah tenda darurat. Tanpa meja dan kursi, tak jauh berbeda di SDN 7 Langkahan. Murid duduk bersila di atas lantai, menulis dengan buku di pangkuan. Terpal tipis menjadi pelindung dari terik matahari yang menyengat, sementara lantai keras menjadi alas untuk merangkai huruf demi huruf.
Pemandangan ini bukan sekadar potret keterbatasan, melainkan gambaran nyata lambannya pemulihan sektor pendidikan pascabencana. Di saat berbagai klaim percepatan pemulihan digaungkan, anak-anak di Langkahan justru masih bergelut dengan kondisi yang seharusnya sudah ditangani lebih cepat.
Situasi serupa juga terjadi di tingkat menengah pertama. Di SMPN 3 Langkahan, ruang kelas belum sepenuhnya pulih. Meja dan kursi yang rusak akibat banjir belum tergantikan secara memadai. Akibatnya, para pelajar kembali harus menundukkan kepala di atas lantai dingin untuk menulis pelajaran.
Bekas-bekas banjir masih terasa jelas. Dinding yang lembap, fasilitas yang terbatas, serta ruang belajar yang belum layak menjadi saksi bahwa pemulihan belum menyentuh sektor pendidikan secara menyeluruh. Namun di tengah kondisi itu, para siswa tetap hadir dengan seragam sederhana dan semangat yang tak surut.
Ironi ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana letak prioritas pemulihan ketika anak-anak masih harus belajar dalam kondisi darurat? Ketika perhatian publik mulai beralih, pendidikan di wilayah terdampak justru masih tertinggal.
Lebih dari sekadar kerusakan fisik, kondisi ini mengancam hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka bukan hanya menghadapi sisa-sisa bencana, tetapi juga ketidakpastian akan masa depan yang seharusnya dijaga bersama.
Banjir mungkin telah meninggalkan wilayah Langkahan, tetapi dampaknya masih mengendap di ruang-ruang kelas. Di atas lantai dan di bawah tenda darurat, anak-anak terus belajar membuktikan bahwa semangat mereka tetap hidup. Namun, semangat saja tidak cukup jika fasilitas dasar pendidikan masih dibiarkan terabaikan.
Potret ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya proses belajar hari ini, melainkan masa depan generasi di Aceh yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan secara utuh dan bermartabat. (alman)
