Oleh: Muhammad Rais
Mataram, NTB - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja melantik Sekretaris Daerah (Sekda) NTB yang baru berasal dari Jawa. Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Bank NTB Syariah telah dilantik sebelumnya, yaitu Nazaruddin, seorang tokoh senior di dunia perbankan nasional.
Nazaruddin, kelahiran Sigli tahun 1968, memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ia pernah menjabat sebagai Regional CEO BRI Jakarta 3, Regional CEO BRI Banjarmasin, dan Wakil Pemimpin Wilayah Bidang Bisnis Kanwil Semarang. Sebelum menjadi Dirut Bank NTB Syariah, Nazaruddin menjabat sebagai Komisaris PT Bank Syariah Indonesia (BSI) periode 2024-2025.
Penunjukan Nazaruddin sebagai Dirut Bank NTB Syariah telah melalui proses seleksi ketat. Ia mengikuti uji kompetensi yang digelar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) pada 24-26 Juni 2025 dan dinyatakan memenuhi kriteria rekomendasi dengan status "Disarankan".
Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, H. Wirajaya Kusuma, menjelaskan bahwa penunjukan Nazaruddin telah melalui tahapan seleksi ketat dan akan efektif setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan lulus dalam uji Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (fit and proper test).
Sementara itu, posisi Direktur Utama Bank NTB Syariah saat ini masih diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt), yakni Zainal Abidin Wahyu Nugroho, yang juga menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Operasional.
Pemerintah Provinsi NTB berharap agar Nazaruddin dapat membawa Bank NTB Syariah menuju kinerja yang lebih baik, sehat, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional.
Pertanyaan besar muncul di benak masyarakat NTB: mengapa posisi Sekda NTB diisi oleh orang luar, padahal NTB memiliki banyak putra putri cerdas dan berprestasi? Apakah karena faktor politik, atau memang ada alasan lain? Ini perlu dipertanyakan dan dibahas lebih lanjut.
Banyak pejabat di NTB yang bukan putra putri asli NTB, seperti Sekda NTB yang baru saja dilantik. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah NTB tidak memiliki putra putri yang cerdas dan berprestasi? Padahal, banyak putra putri NTB yang sukses di tingkat nasional dan internasional.
Selain Sekda, ada juga pejabat lain di Bank NTB yang berasal dari luar NTB, seperti Dirut Bank NTB Syariah yang telah dilantik sebelumnya, yang berasal dari Aceh. Ini menimbulkan kesan bahwa NTB kekurangan orang cerdas dan berprestasi.
Kenyataannya, NTB memiliki banyak putra putri yang cerdas dan berprestasi, tapi mengapa mereka tidak dipertimbangkan untuk posisi-posisi strategis? Apakah karena faktor politik, atau memang ada alasan lain? Ini perlu dipertanyakan dan dibahas lebih lanjut.
NTB yang terdiri dari 8 kabupaten dan 2 kota, memiliki potensi SDM yang luar biasa. Banyak putra putri NTB yang sukses di berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri. Maka, sudah saatnya SDM lokal menjadi prioritas utama dalam pengisian posisi-posisi strategis di NTB. Mari kita dukung dan prioritaskan putra putri NTB untuk memimpin NTB ke arah yang lebih baik!
Sayangnya, kesempatan kerja bagi putra putri terbaik NTB masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah saat ini. Banyak lowongan kerja yang diisi oleh orang luar, sementara putra putri NTB yang cerdas dan berprestasi harus berjuang keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Apa yang salah dengan sistem seleksi yang ada? Apakah ada kepentingan politik yang bermain di balik semua ini?
Pemerintah NTB harus segera mengambil tindakan untuk memprioritaskan putra putri NTB dalam pengisian posisi-posisi strategis. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan orang luar untuk memimpin NTB. Saatnya kita bangkit dan mengambil kendali atas nasib kita sendiri! Mari kita dukung putra putri NTB untuk memimpin NTB ke arah yang lebih baik!
Namun, apakah dengan adanya beberapa pejabat dari luar NTB berdampak positif bagi kemajuan NTB? Faktanya, NTB saat ini masih belum menunjukkan hasil yang signifikan dari segi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan SDM nya. Apakah ini berarti bahwa strategi pemerintah NTB dalam mengisi posisi-posisi strategis dengan orang luar tidak efektif? Ataukah ada faktor lain yang mempengaruhi kinerja pemerintah NTB? Ini perlu dipertanyakan dan dibahas lebih lanjut.
Tidak hanya itu, banyak perusahaan dari luar NTB yang mengerjakan proyek-proyek strategis di NTB, sementara perusahaan lokal NTB masih kurang mendapat kesempatan. Apakah ini berarti bahwa pemerintah NTB tidak memprioritaskan pemberdayaan lokal dan potensi pengusaha lokal NTB? Sepertinya, pemberdayaan lokal dan potensi pengusaha lokal NTB masih jauh panggang dari api...
NTB tidak kekurangan orang-orang hebat, tapi mengapa mereka tidak diberi kesempatan untuk memimpin? Apakah karena kurangnya kepercayaan diri, atau karena ada kepentingan lain yang bermain? Kita perlu mempertanyakan hal ini dan mencari solusi untuk memprioritaskan potensi lokal NTB.
Saatnya kita bangkit dan mengambil kendali atas nasib kita sendiri! Mari kita dukung putra putri NTB untuk memimpin NTB ke arah yang lebih baik! Dengan potensi SDM yang luar biasa, NTB bisa menjadi lebih baik jika kita diberi kesempatan untuk memimpin. (BR)
