MATARAM NTB, 26 Mei 2026 – Ketua Muaythai Provinsi NTB, Eddy Sophiaan, ST, mengajak seluruh atlet, pelatih, dan keluarga besar Muaythai NTB menjadikan Hari Raya Idul Adha 1447 H sebagai momentum memperkuat mental juara, disiplin, dan semangat pengorbanan di dalam dan luar arena.
Dalam pesan resminya yang disampaikan menjelang 10 Dzulhijjah 1447 H, Eddy menyampaikan ucapan selamat Idul Adha sekaligus refleksi tentang nilai-nilai kurban yang sejalan dengan karakter atlet Muaythai.
“Atas nama Muaythai Provinsi NTB, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga semangat berkurban Nabi Ibrahim AS menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya para atlet NTB, untuk terus berkorban waktu, tenaga, dan ego demi mengharumkan nama daerah,” ujarnya.
Semangat Kurban dan Mentalitas Petarung
Eddy menegaskan bahwa esensi Idul Adha sangat dekat dengan jiwa seorang petarung Muaythai. Olahraga tempur ini menuntut pengorbanan yang tidak ringan: bangun subuh untuk lari, menahan lapar saat cutting weight, menanggung sakit saat sparring, dan mengorbankan waktu bersama keluarga demi latihan.
“Di Muaythai, tidak ada juara yang lahir tanpa pengorbanan. Sama seperti Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan yang paling dicintai karena taat kepada Allah, seorang atlet juga harus rela mengorbankan kenyamanan untuk mencapai prestasi. Itulah makna kurban yang harus kita hidupkan di sasana,” katanya.
Ia mengutip hadits Rasulullah ﷺ:
_“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah kurban kalian.”_ [HR. Tirmidzi]
Menurut Eddy, “memperbagus kurban” bagi atlet berarti memperbagus niat, disiplin latihan, dan sportivitas saat bertanding.
Kurban sebagai Pelajaran Kerendahan Hati dan Kepedulian
Lebih lanjut, Eddy menyoroti sisi sosial Idul Adha yang harus menjadi cermin bagi atlet Muaythai NTB. Ia mengingatkan hadits:
_“Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.”_ [HR. Bukhari & Muslim]
“Seorang juara sejati bukan hanya kuat memukul, tapi juga kuat hatinya untuk berbagi. Setelah bertanding, jangan lupa berbagi ilmu dengan junior. Setelah menang, jangan lupa bantu teman yang belum punya kesempatan. Itu juga bentuk kurban,” tegasnya.
Ia juga mengutip prinsip keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an:
_“Sungguh telah ada pada mereka suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kemudian.”_ [QS. Al-Mumtahanah: 6]
“Idul Adha mengajarkan kita tawadhu. Sekuat apa pun kita di ring, kita tetap hamba Allah. Kekalahan dan kemenangan adalah ujian. Yang penting adalah bagaimana kita bersikap setelahnya,” jelasnya.
Pesan untuk Atlet Muaythai NTB Menuju Event Nasional dan Internasional
Eddy menekankan bahwa Idul Adha 1447 H datang di momen penting bagi Muaythai NTB yang sedang mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan nasional, Pra-PON, hingga event internasional. Ia meminta seluruh atlet menjadikan semangat kurban sebagai bahan bakar mental.
“Jangan pernah merasa puas dengan latihan biasa. Kalau mau jadi juara di tingkat nasional apalagi internasional, kita harus berani ‘berkurban’ lebih dari yang lain. Kurban waktu tidur, kurban nongkrong, kurban rasa malas. Karena medali emas tidak datang kepada orang yang setengah-setengah,” ujarnya.
Ia juga mengajak pelatih dan ofisial untuk menjaga kebersamaan dan sportivitas. Menurutnya, soliditas tim adalah kunci agar Muaythai NTB bisa bersaing dan membawa nama NTB harum di kancah nasional maupun internasional.
“Semoga Idul Adha ini menguatkan ukhuwah kita di sasana. Mari kita jadikan setiap pukulan, tendangan, dan keringat latihan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian untuk NTB. Dengan hati yang ikhlas dan mental pantang menyerah, saya yakin Muaythai NTB bisa melahirkan lebih banyak juara di event nasional dan internasional,” tutup Eddy. (BR)
(Humas Muaythai Provinsi NTB)
