Meulaboh – Presiden Mahasiswa (Presma) BEM Universitas Cipta Mandiri (UNCM), Herli Farizal, mengecam kebisingan yang diduga berasal dari aktivitas operasional PLTU Nagan Raya dan kini telah dirasakan hingga ke lingkungan kampus. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai keluhan segelintir orang karena telah berulang kali disuarakan masyarakat dan kini berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan.
Herli menyebut bahwa berbagai video keluhan masyarakat terkait suara bising PLTU telah beredar dan menjadi pembicaraan publik dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, dokumentasi yang direkam dari lingkungan kampus juga menunjukkan bahwa suara bising tersebut dapat terdengar hingga ke area perkuliahan.
"Ini bukan sekadar asumsi atau isu yang dibuat-buat. Sudah banyak video keluhan masyarakat yang beredar. Bahkan kami sendiri mendokumentasikan kondisi di lingkungan kampus saat proses belajar berlangsung. Fakta bahwa suara tersebut dapat terdengar hingga ke kawasan pendidikan harus menjadi alarm serius bagi perusahaan dan pemerintah," ujar Herli di Meulaboh, Jumat (12/6).
Menurutnya, jika keluhan masyarakat selama ini belum cukup untuk mendorong evaluasi menyeluruh, maka terganggunya aktivitas pendidikan seharusnya menjadi peringatan bahwa persoalan ini telah memasuki tahap yang lebih serius.
"Selama ini masyarakat sudah bersuara. Video-video keluhan sudah banyak beredar. Hari ini mahasiswa juga merasakan dampaknya. Pertanyaannya, sampai kapan keluhan-keluhan ini akan dianggap angin lalu?" tegasnya.
Herli menilai perusahaan tidak boleh menutup mata terhadap keresahan yang terus muncul dari berbagai lapisan masyarakat. Apalagi, keberadaan industri harus berjalan berdampingan dengan kepentingan masyarakat, lingkungan, dan pendidikan.
"Kami tidak menolak investasi, tetapi investasi yang baik adalah investasi yang menghormati masyarakat di sekitarnya. Jangan sampai keuntungan perusahaan dibayar dengan terganggunya kenyamanan warga dan rusaknya suasana belajar mahasiswa," katanya.
BEM UNCM juga meminta pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, serta pihak terkait untuk segera turun tangan melakukan investigasi dan pengukuran tingkat kebisingan secara terbuka dan independen.
"Jangan tunggu sampai kemarahan publik semakin besar. Jangan tunggu sampai mahasiswa turun ke jalan. Pemerintah harus hadir dan memastikan bahwa aktivitas industri tetap berada dalam koridor yang tidak merugikan masyarakat maupun dunia pendidikan," ujar Herli.
Ia menegaskan bahwa kampus merupakan tempat lahirnya calon-calon pemimpin masa depan daerah. Karena itu, menurutnya, tidak boleh ada pihak yang mengabaikan kenyamanan dan kualitas proses pendidikan.
"Kalau suara bising industri sudah mengalahkan suara dosen di ruang belajar, maka ada yang salah dan harus segera diperbaiki. Pendidikan tidak boleh menjadi korban. Kampus tidak boleh dipaksa beradaptasi dengan gangguan yang seharusnya bisa dicegah," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Herli meminta manajemen PLTU Nagan Raya untuk tidak menganggap remeh kritik dan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
"Jangan hanya mendengar ketika masyarakat berteriak lebih keras. Hari ini bukti-bukti sudah ada, keluhan masyarakat sudah banyak, dokumentasi dari kampus juga ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan nyata, bukan pembiaran, Dan ketika masyarakat mengeluh, mungkin masih dianggap biasa. Ketika kampus ikut mengeluh, seharusnya semua pihak mulai sadar bahwa persoalan ini tidak lagi bisa disembunyikan di balik suara mesin". tutup Herli.
(Muhammad Fawazul Alwi)
