Barsela24news.com | Karanganyar, 13 Agustus 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi sorotan. Bukan karena kritik dari masyarakat, melainkan karena kepala dapur SPPG sendiri mengalami mual, pusing hingga muntah setelah mencicipi menu ayam rempah yang hendak disalurkan kepada penerima manfaat.
Peristiwa terjadi di SPPG Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Rabu, 12 Agustus 2026.
Kejanggalan bermula ketika ayam rempah yang telah dimasak diketahui memiliki aroma, rasa dan warna yang berbeda dari kondisi normal. Tim dapur kemudian melakukan pengecekan sebelum makanan didistribusikan.
Kepala SPPG, Abra Yudha Raya, ikut mencicipi makanan tersebut.
Tak lama kemudian, ia mengalami mual, pusing dan muntah. Kondisi tersebut tentu memunculkan pertanyaan besar: jika makanan yang akan diberikan kepada anak-anak sudah membuat orang yang melakukan pengecekan mengalami gejala seperti itu, seberapa ketat sebenarnya proses pengawasan makanan sebelum keluar dari dapur SPPG?
Pihak SPPG akhirnya mengambil langkah pencegahan dengan mengamankan dan menarik menu yang dicurigai bermasalah, sehingga makanan tersebut tidak diteruskan kepada penerima manfaat.
Langkah itu patut diapresiasi. Namun persoalan tidak boleh berhenti pada penarikan makanan.
Bukan Sekadar Soal Muntah, Ini Soal Sistem Pengawasan
Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa gejala yang dialami kepala SPPG merupakan keracunan makanan. Faktor lain, termasuk kondisi tubuh dan kelelahan, masih mungkin berpengaruh.
Tetapi ada fakta yang tidak bisa diabaikan: makanan tersebut dilaporkan mengalami perubahan aroma, rasa dan warna sebelum dibagikan.
Di titik inilah pengawasan MBG harus dipertanyakan.
Bagaimana bahan baku ayam diperiksa ketika tiba di dapur?
Bagaimana suhu dan rantai dinginnya dikontrol?
Berapa lama ayam disimpan sebelum dimasak?
Apakah ada pencatatan suhu penyimpanan dan proses pemasakan?
Siapa yang melakukan pemeriksaan mutu sebelum makanan dikemas?
Dan yang paling penting, mengapa makanan dengan karakteristik yang sudah dianggap tidak normal sempat masuk ke tahap siap distribusi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar kasus ini tidak sekadar dianggap sebagai insiden dapur biasa.
Jangan Tunggu Anak-anak Menjadi Korban
Program MBG menyasar anak-anak, kelompok yang membutuhkan jaminan keamanan pangan secara ketat.
Karena itu, prinsipnya harus sederhana: kalau makanan meragukan, jangan didistribusikan.
Lebih baik ribuan porsi makanan ditarik dan program dievaluasi daripada satu porsi makanan bermasalah sampai kepada anak dan kemudian menimbulkan persoalan kesehatan.
Kasus di SPPG Jati juga seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan pengelola MBG untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar food safety, terutama pengadaan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, uji organoleptik, distribusi, serta mekanisme penanganan apabila ditemukan makanan yang mencurigakan.
Sebab MBG bukan hanya soal berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan.
MBG juga harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih fundamental:
Apakah setiap porsi yang sampai ke tangan anak benar-benar aman?
Dan ketika kepala SPPG sendiri sampai mengalami mual dan muntah setelah mencicipi makanan yang akan dibagikan, publik berhak meminta penjelasan, bukan sekadar penarikan makanan.
Jika ditemukan adanya pelanggaran standar keamanan pangan, pihak yang bertanggung jawab harus dievaluasi sesuai ketentuan.
Jangan sampai program yang dirancang untuk memenuhi gizi anak justru menyisakan tanda tanya besar soal keamanan makanan.
Redaksi
