Pasca Kebakaran Desa Adat Sade, Warga Hanya Bisa Menyelamatkan Diri: Rumah, Pakaian hingga Benda Sejarah Ludes Dilalap Api

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Lombok Tengah NTB, Senin, 24 Agustus 2026 - Duka masih menyelimuti Desa Adat Sade pascakebakaran yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Di antara runtuhan rumah yang hangus, warga hanya bisa menatap sisa-sisa tempat tinggal yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Salah seorang korban, Inaq Aris, mengisahkan bagaimana malam kebakaran berubah menjadi kepanikan. Dalam situasi tersebut, keselamatan diri dan keluarga menjadi satu-satunya hal yang terpikirkan.

«“Tidak ada satu pun pakaian yang tersisa selain yang melekat di badan kami. Termasuk pakaian seragam sekolah anak kami,” tutur Inaq Aris.»

Inaq Aris mengatakan dirinya memiliki lima anak. Anak sulungnya telah menikah, sementara empat anak lainnya masih bersekolah.

Namun, kebakaran tidak hanya menghanguskan rumah dan pakaian. Buku pelajaran, seragam, serta berbagai perlengkapan sekolah milik anak-anaknya juga ikut menjadi abu.

“Buku dan peralatan sekolah lainnya habis terbakar. Tidak ada yang bisa kami selamatkan,” katanya.

Malam yang Mengubah Segalanya

Inaq Aris mengenang malam kejadian sebagai salah satu malam paling mencekam bagi warga Sade.

Menurutnya, kobaran api membuat warga tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan harta benda.

“Malam kejadian, Sabtu malam tanggal 22 Agustus 2026, tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkan harta benda. Yang kami pikir bagaimana kami bisa menyelamatkan diri dan keluarga. Itu saja,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut salah seorang tetangganya kehilangan uang dalam jumlah besar karena ikut terbakar.

“Uang tetangga saya saja terbakar jadi abu semua. Kerugiannya lebih dari Rp700 juta, ditambah barang-barang lainnya,” tambah Inaq Aris.

Besarnya kerugian tersebut menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan adat ini bukan sekadar kehilangan bangunan, tetapi juga menghancurkan barang berharga, dokumen, pakaian, perlengkapan pendidikan, hingga harta benda yang dikumpulkan warga selama bertahun-tahun.

Bukan Hanya Rumah, Jejak Sejarah Sasak Ikut Terbakar

Kebakaran Desa Adat Sade juga menyisakan kekhawatiran lain: hilangnya benda-benda bersejarah yang selama ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Sasak.

Media menemui salah satu tokoh Lombok Tengah, Lalu Sungkul, mantan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah. Ia menuturkan bahwa sejumlah benda bersejarah ikut terdampak dalam musibah tersebut, termasuk lontar yang berkaitan dengan babad atau sejarah leluhur Sasak.

Menurut Lalu Sungkul, lontar tersebut merupakan peninggalan bernilai sejarah yang ditulis pada lembaran daun lontar menggunakan aksara lama.

“Ini bukan hanya soal benda. Di dalamnya terdapat cerita dan jejak leluhur Sasak yang memiliki nilai sejarah bagi generasi berikutnya,” tutur Lalu Sungkul saat ditemui bersama salah seorang korban, Marwan.

Kehilangan tersebut menjadi pukulan tersendiri karena Desa Adat Sade selama ini dikenal bukan hanya sebagai permukiman tradisional, tetapi juga sebagai salah satu simbol kebudayaan Sasak dan destinasi wisata budaya Lombok.

Gagasan Museum Sejarah Sade

Di tengah musibah tersebut, Lalu Sungkul berharap tragedi kebakaran dapat menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian sejarah dan budaya Desa Adat Sade.

Ia mengungkapkan adanya rencana untuk membuat museum sejarah di Desa Adat Sade.

“Kami berencana membuat museum bersejarah di Desa Adat Sade ini. Biar anak cucu kita ke depannya tetap ingat peristiwa ini. Sisa-sisa kebakaran, termasuk peninggalan lontar atau babad Sasak yang masih bisa diselamatkan, akan kami simpan di museum tersebut nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama. Lebih dari itu, museum dapat menjadi ruang untuk merekam sejarah, termasuk tragedi kebakaran yang menimpa masyarakat Sade.

Dengan demikian, musibah tidak berhenti sebagai cerita tentang rumah yang terbakar, tetapi menjadi bagian dari catatan sejarah yang dapat dipelajari generasi mendatang.

Ketika Media Asing Datang Bertanya

Lalu Sungkul juga disebut didatangi sejumlah media luar negeri yang ingin mengetahui kondisi dan cerita di balik kebakaran Desa Adat Sade.

Sebagai sosok yang selama ini dikenal dekat dengan kalangan media, ia tidak segan menjelaskan kronologi dan dampak musibah tersebut, termasuk persoalan hilangnya sebagian benda-benda yang memiliki nilai sejarah.

Bagi warga, perhatian media menjadi harapan agar kondisi mereka tidak berhenti menjadi pemberitaan sesaat.

Sebab setelah api padam, persoalan baru justru dimulai.

Warga harus memikirkan tempat tinggal, pakaian, kebutuhan sekolah anak-anak, pemulihan ekonomi keluarga, serta bagaimana kehidupan mereka dapat kembali berjalan.

Api Padam, Tetapi Luka Belum Selesai

Kini, yang tersisa di sejumlah titik hanyalah puing-puing rumah dan benda-benda yang berubah menjadi abu.

Di tengah reruntuhan itu, warga mencoba kembali menata kehidupan.

Bagi Inaq Aris dan keluarga, kehilangan bukan hanya soal bangunan. Mereka kehilangan pakaian, perlengkapan sekolah anak, barang-barang rumah tangga, serta bagian dari kehidupan yang tidak mungkin dikembalikan seperti semula.

Kebakaran memang telah padam.

Namun bagi warga Desa Adat Sade, bara kehilangan masih menyala dalam ingatan.

Dan di balik puing-puing tersebut, ada satu pertanyaan besar yang kini menunggu jawaban: seberapa cepat masyarakat korban dapat bangkit, dan siapa yang akan memastikan bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi seluruh beban musibah ini sendirian?

Laporan: Jamiri