TELISIK SEMEN LANGKA DI LOMBOK: PRODUKSI TURUN, PASOKAN SERET, HARGA NAIK—DI MANA TITIK PUTUS DISTRIBUSINYA?

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Lombok NTB, 29 September 2026 — Kelangkaan semen di Pulau Lombok mulai memasuki wilayah yang perlu ditelusuri lebih serius. Persoalannya bukan lagi sekadar harga yang naik, tetapi bagaimana pasokan dari produsen bergerak hingga sampai ke toko dan konsumen.

Di Lombok Timur, pasokan yang sebelumnya bisa mencapai sekitar 400–500 zak setiap dua hari dilaporkan dalam sepekan terakhir turun menjadi sekitar 150 zak. Dampaknya, harga ikut bergerak naik. Semen Tiga Roda bahkan dilaporkan mencapai sekitar Rp95 ribu per zak, sementara Bosowa sekitar Rp70 ribu di tingkat pedagang.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Lombok lainnya. Keluhan mengenai sulitnya memperoleh semen muncul dari Lombok Timur, Lombok Tengah hingga Lombok Barat. Di sejumlah pengecer Lombok Barat, harga bahkan dilaporkan mencapai Rp87 ribu hingga sekitar Rp90 ribu per zak.

PRODUKSI MENURUN, BAHAN BAKAR JADI PERSOALAN

Pemerintah daerah dan pelaku distribusi menyebut salah satu sumber persoalan berada pada sisi produksi.

Disperindag NTB menyatakan terdapat masalah pasokan dari produsen. Salah satu penjelasan yang muncul adalah keterbatasan batu bara yang digunakan dalam proses produksi semen. NTB sendiri masih bergantung pada pasokan semen dari luar daerah karena belum memiliki pabrik semen.

Di Lombok Barat, informasi dari distributor juga menyebut adanya kendala energi dan logistik yang berdampak terhadap produksi dan pengiriman. Menurut keterangan yang dihimpun pemerintah daerah, pasokan mulai terbatas sejak sekitar Juli hingga September 2026.
Namun, di sinilah persoalan menjadi menarik.

Jika sumber utama memang berada di pabrik, mengapa kelangkaan dan harga di tingkat pengecer berbeda-beda?

PELABUHAN LEMBAR NORMAL, LALU TERPUTUS DI MANA?

Pemprov NTB telah melakukan penelusuran sampai Pelabuhan Lembar.
Hasil pemantauan yang disampaikan Disperindag NTB menunjukkan aktivitas bongkar muat semen di Pelabuhan Lembar masih berjalan normal. Artinya, berdasarkan informasi pemerintah saat ini, persoalan tidak otomatis dapat diarahkan kepada aktivitas bongkar muat di pelabuhan.

Justru karena itu, Disperindag NTB menyatakan tim pengawasan turun ke lapangan untuk mencari di mana mata rantai distribusi terputus setelah semen keluar dari pelabuhan.

Pertanyaan berikutnya menjadi penting:
Apakah masalah berhenti di distributor?
Apakah distribusi antartoko tidak merata?
Apakah terdapat pembatasan ritase atau jumlah pasokan kepada toko tertentu?
Atau justru persoalannya berada pada tingkat pengecer?

HARGA NAIK: SUPLAI TURUN ATAU ADA MARGIN TAMBAHAN?

Di Lombok Barat, pemerintah daerah menyatakan harga di tingkat distributor relatif tidak berubah, sementara kenaikan lebih tinggi ditemukan pada tingkat pengecer. Pemkab bahkan berencana mengeluarkan surat edaran agar toko dan pengecer tidak melakukan penimbunan maupun menaikkan harga secara tidak wajar.

Sementara di Lombok Timur, pemerintah daerah menyebut kenaikan harga sebagai konsekuensi berkurangnya pasokan.
Dua fakta ini perlu dibaca bersama.

Sebab, kelangkaan barang memang dapat mendorong harga naik, tetapi publik tetap berhak mengetahui bagaimana harga terbentuk dari:
produsen → distributor → grosir → toko/pengecer → konsumen.

Di setiap mata rantai tersebut harus jelas berapa harga masuk, berapa biaya distribusi, berapa margin, dan berapa harga jual.

BUKAN SEKADAR SOAL SEMEN

Dampaknya bukan hanya dirasakan konsumen rumah tangga. Pelaku konstruksi ikut terdampak karena semen merupakan salah satu komponen utama pekerjaan fisik. Di Lombok Timur bahkan terdapat laporan pekerjaan pengecoran masjid yang terhenti karena sulit memperoleh semen.

Jika kondisi berlangsung lama, persoalannya dapat merembet kepada proyek pembangunan masyarakat, proyek swasta, hingga pekerjaan konstruksi pemerintah.

Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya memastikan ada kapal semen masuk ke Pelabuhan Lembar.

Yang harus dipastikan adalah semen tersebut benar-benar sampai kepada konsumen dengan distribusi yang wajar dan harga yang dapat dipertanggungjawabkan.

7 TITIK YANG PERLU DIBUKA PEMERINTAH

Untuk mengurai persoalan ini, setidaknya ada tujuh data yang layak dibuka kepada publik:
Berapa total produksi semen nasional yang dikirim untuk kebutuhan NTB pada Juli, Agustus dan September 2026?
Berapa volume semen yang masuk melalui Pelabuhan Lembar setiap pekan? Siapa saja distributor utama semen di Pulau Lombok? Berapa kuota atau ritase pasokan masing-masing distributor?
Berapa harga semen di tingkat produsen, distributor, grosir dan pengecer?
Apakah terdapat pembatasan jumlah pembelian atau distribusi kepada toko tertentu? Berapa stok aktual semen di gudang distributor dibandingkan kebutuhan pasar?

Data tersebut akan jauh lebih menjawab persoalan dibanding sekadar pernyataan bahwa semen sedang langka.

PEMERINTAH SUDAH TURUN, PUBLIK MENUNGGU HASILNYA

Disperindag NTB telah menyatakan melakukan penelusuran mata rantai distribusi dan meminta distributor mengoptimalkan pasokan serta melaporkan kondisi stok secara berkala.
Kini publik menunggu hasilnya.

Sebab pertanyaan utamanya sederhana:
"Jika produksi berkurang, berapa sebenarnya kekurangannya? Jika pelabuhan normal, di mana pasokan tersendat? Jika distributor tidak menaikkan harga, siapa yang menaikkan harga di tingkat akhir? Dan jika tidak ada penimbunan, mengapa konsumen kesulitan mendapatkan semen"

Kelangkaan semen di Lombok tidak boleh berhenti sebagai cerita tentang stok kosong dan harga mahal. Publik membutuhkan jejak pasokan dari pabrik sampai toko. Di situlah titik persoalan sebenarnya harus ditemukan.

TELISIK SEMEN LANGKA DI LOMBOK: PRODUKSI TURUN, PASOKAN SERET, HARGA NAIK—DI MANA TITIK PUTUS DISTRIBUSINYA?

Redaksi