FAKHRUDDIN ROB ANGGOTA KOMISI IV DPRD NTB: HARI KEBUDAYAAN NASIONAL MOMENTUM PERKUAT JATI DIRI TANA SAMAWA

Barsela24news.com

Mataram, 15 Oktober 2026 - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dari Fraksi Partai Nasional Demokrat Komisi IV Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Daerah Pemilihan VI Kabupaten Sumbawa - Kabupaten Sumbawa Barat, Fakhruddin Rob, menyampaikan ucapan Selamat Hari Kebudayaan Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Oktober kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya masyarakat Tana Samawa di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Ucapan ini disampaikan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada Lembaga Adat Tana Samawa, para pemangku adat, tokoh agama dan tuan guru, para budayawan, seniman, pelaku sanggar, penenun, pengrajin, pelaku UMKM kuliner tradisional, serta seluruh generasi muda Tau Samawa yang hingga hari ini tetap setia menjaga warisan leluhur.

Fakhruddin Rob menyampaikan bahwa penetapan Hari Kebudayaan Nasional setiap tanggal 17 Oktober berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 162/M/2025 merupakan keputusan yang sangat monumental dan bersejarah bagi perjalanan kebangsaan kita. Tanggal 17 Oktober 1951 adalah hari ditetapkannya lambang negara Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951. Penetapan ini menegaskan bahwa sejak awal para pendiri bangsa telah menyadari bahwa kebudayaan adalah jiwa, adalah roh, dan adalah infrastruktur utama yang mempersatukan keberagaman Indonesia.

Sebagai Anggota Komisi IV DPRD Provinsi NTB yang membidangi infrastruktur dan lingkungan hidup, Fakhruddin Rob memaknai Hari Kebudayaan Nasional dengan perspektif yang berbeda dan mendalam. Menurutnya, selama ini pembangunan seringkali hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik semata, seperti pembangunan jalan, jembatan, gedung, irigasi, dan bendungan. Padahal, ada pembangunan yang jauh lebih fundamental yaitu pembangunan infrastruktur jiwa bangsa, yaitu kebudayaan itu sendiri.

Jika Komisi IV mengawal pembangunan jalan Lenangguar - Lunyuk di Sumbawa sebagai infrastruktur fisik untuk membuka akses ekonomi rakyat, maka kebudayaan seperti Barempuk, Barapan Kebo, Sakeco, Lawas, Tenun Kre, Singang dan Sepat adalah infrastruktur budaya untuk membuka dan menjaga akses jati diri rakyat. Jalan bisa rusak karena hujan, tetapi jati diri yang hilang karena budaya dilupakan akan jauh lebih sulit untuk diperbaiki. Oleh karena itu, infrastruktur fisik dan infrastruktur budaya harus berjalan beriringan dan seimbang.

Fakhruddin Rob menegaskan bahwa Sumbawa dan Sumbawa Barat adalah surga kebudayaan yang lengkap, yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Kekayaan ini adalah modal besar yang harus dijaga oleh negara.

Pertama adalah Barempuk dengan jerami di tangan. Fakhruddin Rob menjelaskan bahwa Barempuk adalah tradisi adiluhung yang harus dilestarikan sesuai pakem aslinya. Barempuk bukanlah ajang kekerasan, bukan perkelahian bebas. Barempuk adalah seni ketangkasan, adu keberanian, adu kekuatan fisik dan mental antara dua pemuda Tau Samawa yang saling berhadapan dengan gagah berani, dengan memegang jerami di tangan sebagai alat untuk saling memukul secara sportif dan terhormat. Jerami yang digunakan bukanlah sembarang jerami, jerami tersebut adalah simbol hasil panen, simbol kesuburan tanah Samawa, simbol kerja keras petani. Makna filosofisnya sangat dalam, keberanian seorang pemuda Samawa harus lahir dari kerja keras, dari tanah, dari keringat. Setelah Barempuk selesai, keduanya wajib berpelukan, saling memaafkan, dan bersaudara kembali tanpa dendam. Inilah pendidikan karakter yang paling jujur. Di dalam Barempuk ada keberanian, ada kejantanan, ada sportivitas, ada persaudaraan, ada penghormatan kepada lawan, dan ada nilai memaafkan. Barempuk dengan jerami di tangan adalah sekolah kehidupan bagi pemuda Samawa.

Kedua adalah Barapan Kebo. Barapan Kebo adalah tradisi pacuan kerbau di atas lumpur sawah yang digelar setelah musim panen sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan hasil bumi. Barapan Kebo adalah pesta rakyat, adalah hiburan rakyat, adalah ajang silaturahmi antar desa, dan adalah simbol gotong royong. Barapan Kebo juga sangat erat kaitannya dengan tugas Komisi IV, karena tanpa sawah yang subur, tanpa irigasi yang baik, tanpa lingkungan hidup yang terjaga, maka tradisi Barapan Kebo tidak akan bisa berlangsung.

Ketiga adalah Sakeco dan Lawas. Sakeco adalah seni bertutur tradisional yang menyampaikan sejarah, nasihat, ajaran moral, dan kritik sosial melalui pantun dan syair yang dilantunkan dengan alat musik tradisional. Lawas adalah pantun-pantun bijak Tau Samawa yang penuh makna tentang kejujuran, tentang menghormati orang tua, tentang menjaga alam, dan tentang cara hidup yang beradat. Sakeco dan Lawas adalah perpustakaan berjalan, adalah universitas lisan masyarakat Samawa. Jika Sakeco dan Lawas hilang, maka hilang pula ensiklopedia moral Tau Samawa.

Keempat adalah Tenun Kre Sumbawa. Tenun ikat dan songket khas Sumbawa yang dibuat dengan penuh kesabaran oleh tangan-tangan terampil ibu-ibu di Seteluk, Brang Rea, Sumbawa dan sekitarnya. Setiap motifnya seperti Paling Tumpal dan Kalong Kangkung mengandung doa, mengandung filosofi, dan mengandung cerita tentang alam dan kehidupan. Tenun Kre bukan hanya kain, tetapi adalah identitas, adalah ekonomi kreatif, dan adalah warisan yang harus dibanggakan.

Kelima adalah kuliner asli yaitu Singang dan Sepat. Fakhruddin Rob menegaskan bahwa kuliner adalah bagian dari kebudayaan yang paling dekat dengan rakyat dan paling jujur. Singang adalah olahan ikan segar berkuah dengan cita rasa asam pedas yang segar, dengan bumbu khas Samawa yang kaya rempah namun tetap menjaga kesegaran ikan. Singang selalu hadir dalam acara adat, dalam acara keluarga, dan menjadi kebanggaan setiap rumah tangga di Sumbawa dan Sumbawa Barat. Singang adalah simbol kedekatan Tau Samawa dengan laut dan dengan alam. Sementara Sepat adalah lauk kebanggaan masyarakat pesisir dengan cita rasa yang khas, asam, pedas, gurih, yang dibuat dari ikan pilihan dengan proses tradisional yang diwariskan secara turun temurun dari leluhur. Sepat adalah bukti kecerdasan leluhur dalam mengolah hasil laut. Singang dan Sepat adalah diplomasi budaya yang paling efektif dan paling enak. Jika generasi muda tidak mengenal Singang dan Sepat, maka kita kehilangan sebagian dari jati diri kita.

Sebagai Anggota DPRD Provinsi NTB dari Fraksi NasDem yang duduk di Komisi IV, Fakhruddin Rob menyampaikan komitmen dan dorongan resmi kepada Pemerintah Provinsi NTB. Pertama, mendorong pembangunan infrastruktur kebudayaan berupa pembangunan dan perbaikan arena Barempuk yang permanen dan layak di setiap kecamatan. Kedua, mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB untuk memasukkan muatan lokal tentang Barempuk dengan jerami di tangan, Sakeco, Tenun, serta cara memasak Singang dan Sepat yang benar ke dalam kurikulum sekolah. Ketiga, mendorong pemberdayaan ekonomi budaya melalui bantuan modal, pelatihan, sertifikasi halal, pengemasan modern, dan akses pemasaran digital bagi UMKM Singang dan Sepat. Keempat, berkomitmen mengawal dan memperjuangkan anggaran kebudayaan dalam APBD Provinsi NTB serta mendorong adanya Peraturan Daerah tentang Pelestarian Kebudayaan Tana Samawa.

Di akhir pernyataannya, Fakhruddin Rob mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober 2026 dengan gerakan nyata. Gelar Festival Barempuk antar desa dengan jerami di tangan, gelar Lomba Sakeco antar pemuda, dan gelar Festival Kuliner Singang dan Sepat di setiap kecamatan. Mari kita jaga Barempuk, mari kita jaga Singang dan Sepat, maka budaya dan kuliner itu yang akan menjaga Tana Samawa selamanya.

Pariri Lema Bariri. Adat Barenti Ko Syara, Syara Barenti Ko Kitabullah.

(BR)
Tags