Ironi Sekolah Favorit di Lombok Tengah: Lebih dari 500 Siswa Bertaruh Nyaman di Tengah Gedung Retak dan Plafon Runtuh

Barsela24news.com

LOMBOK TENGAH, NTB — Di balik prestasi, kedisiplinan, dan kepercayaan masyarakat terhadap SMP Negeri 1 Praya Timur, tersimpan kondisi memprihatinkan yang membutuhkan perhatian serius. Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah favorit tersebut justru menghadapi persoalan kondisi bangunan yang dikeluhkan siswa dan tenaga pendidik.

Saat awak media mengunjungi SMPN 1 Praya Timur, Senin (19/10/2026), suasana haru terasa ketika sejumlah siswa menyuarakan harapan agar gedung sekolah mereka segera direnovasi. Mereka ingin belajar dengan nyaman, tanpa harus dihantui kekhawatiran terhadap kondisi bangunan yang mulai mengalami kerusakan.

Dari hasil pengamatan awak media di lokasi, terlihat sejumlah retakan pada tembok bangunan sekolah. Kondisi plafon yang dilaporkan kerap mengalami kerusakan, bahkan runtuh di sejumlah ruang kelas, turut menambah kekhawatiran terhadap kenyamanan dan keselamatan proses belajar mengajar.

Pemandangan ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin sekolah yang dipercaya ratusan keluarga untuk mendidik anak-anak mereka masih harus berhadapan dengan persoalan kelayakan fasilitas belajar?

Seorang tenaga pendidik yang ditemui awak media dan meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa jumlah siswa SMPN 1 Praya Timur telah mencapai lebih dari 500 orang.

Menurutnya, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, di sisi lain, kondisi bangunan membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari pihak yang memiliki kewenangan.

“Ini sebenarnya tanggung jawab kita bersama untuk memberikan rasa nyaman kepada anak didik,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dan pemangku kebijakan tidak hanya melihat sekolah dari sisi jumlah siswa, prestasi, atau kualitas tenaga pengajar. Kelayakan bangunan juga harus menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan keamanan dan kenyamanan peserta didik.

“Yang kami inginkan, siswa kami merasa nyaman dalam belajar,” ujarnya.

Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Sekolah merupakan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, membangun karakter, mengembangkan kemampuan berpikir, serta mempersiapkan masa depan. Karena itu, kondisi sarana dan prasarana pendidikan semestinya sejalan dengan tanggung jawab besar yang diemban sekolah.

Di tengah persoalan kondisi fisik bangunan, SMPN 1 Praya Timur tetap berupaya menjaga kualitas pendidikan dan kedisiplinan siswa.

Berdasarkan keterangan tenaga pendidik dan pengamatan awak media, para guru tidak sekadar menjalankan rutinitas mengajar. Mereka berupaya membangun kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, serta kedekatan emosional dengan peserta didik.

Setiap pagi, mulai sekitar pukul 06.30 WITA, para tenaga pendidik terlihat menyambut kedatangan siswa di gerbang sekolah. Mereka turut memeriksa kerapian dan mengajak peserta didik menjaga kebersihan lingkungan sebelum memasuki ruang kelas.

Siswa juga dibiasakan berdoa dan berselawat sebelum memulai kegiatan belajar.

Kebiasaan tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan materi pelajaran, tetapi juga melalui keteladanan, pembiasaan, dan perhatian yang diberikan guru kepada anak didiknya.

Proses pembelajaran pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan menghafal materi. Siswa perlu didorong untuk berpikir kritis, berani bertanya, serta mampu menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Dedikasi tenaga pendidik inilah yang, menurut keterangan yang dihimpun, menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat tetap menaruh kepercayaan terhadap SMPN 1 Praya Timur.

Namun, dedikasi guru dan semangat siswa tidak seharusnya menjadi alasan bagi pihak berwenang untuk menunda pembenahan fasilitas sekolah.

Guru dapat mendidik dengan hati, tetapi keselamatan dan kelayakan ruang belajar tetap membutuhkan tanggung jawab nyata dari pemerintah.

Kondisi bangunan sekolah yang mengalami keretakan dan persoalan plafon harus ditindaklanjuti melalui pemeriksaan teknis oleh instansi berwenang. Pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan tingkat kerusakan, menentukan ruang yang masih aman digunakan, serta menetapkan kebutuhan rehabilitasi berdasarkan hasil penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika ditemukan bagian bangunan yang membahayakan, langkah pengamanan dan pembatasan penggunaan ruang harus menjadi prioritas sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung di area tersebut.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait juga perlu memberikan penjelasan mengenai kondisi sarana prasarana SMPN 1 Praya Timur, status usulan rehabilitasi apabila sudah diajukan, serta rencana penanganan yang dapat dilakukan.

Jangan sampai persoalan baru mendapatkan perhatian setelah terjadi insiden yang mengancam keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Sekolah bukan sekadar bangunan. Di dalamnya terdapat harapan orang tua, masa depan generasi muda, serta tanggung jawab negara untuk memastikan setiap anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang layak dan aman.

Awak media berupaya menemui kepala SMPN 1 Praya Timur saat kunjungan berlangsung. Namun, yang bersangkutan tidak dapat ditemui secara langsung karena memiliki kesibukan lain.

Dalam komunikasi melalui telepon, kepala sekolah menyampaikan harapannya agar pihak yang berwenang segera memberikan perhatian terhadap kondisi bangunan dan merealisasikan renovasi demi kenyamanan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan fasilitas pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar proses belajar mengajar berlangsung dengan aman dan layak.

Kini, pertanyaan yang patut dijawab bukan sekadar mengapa sekolah favorit itu masih diminati masyarakat, melainkan sejauh mana perhatian terhadap keselamatan dan kebutuhan dasar para siswanya telah diwujudkan.

SMPN 1 Praya Timur memiliki modal penting berupa kepercayaan masyarakat dan dedikasi tenaga pendidik. Namun, kepercayaan tersebut harus diimbangi dengan fasilitas pendidikan yang memadai.

Jangan biarkan semangat siswa dan pengabdian guru berdiri sendirian di tengah bangunan yang membutuhkan perhatian. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sekaligus ruang belajar yang aman dan nyaman.

Laporan: Jamiri Loteng