Mataram, NTB – Tragedi menyakitkan mengguncang wilayah Lombok, dimana seorang ibu bernama Yeni Rudi Astuti (52 tahun) dari Kelurahan Monjok Baru, Kota Mataram, ditemukan terbakar hingga tak berwujud di Dusun Batu Leong, Kecamatan Sekotong. Pelaku yang mengaku bertindak adalah anak kandungnya sendiri, Bara Prima Rio (29 tahun), yang kini telah diamankan oleh pihak kepolisian.
Kasus yang pertama kali ditemukan oleh warga sekitar pukul 19.30 WIB pada hari Selasa (27/01/2026) itu, awalnya dianggap hanya kebakaran sampah yang biasa terjadi di lokasi tersebut. Namun, ketika aroma menyengat semakin kuat dan bentuk yang terbakar tidak seperti benda biasa, warga segera melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sekotong.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal dan penyelidikan lapangan, tim penyidik mengidentifikasi korban sebagai Yeni Rudi Astuti, yang sebelumnya dinyatakan tidak bernyawa sebelum tubuhnya dibakar. Informasi lebih lanjut menyatakan bahwa korban dibungkam di rumahnya sendiri di Monjok Baru sebelum tubuhnya diangkut dan dibakar di lokasi kejadian.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan keterangan pelaku, korban telah tidak bernyawa sebelum tubuhnya dibakar. Pelaku mengaku melakukan tindakan tersebut karena masalah pribadi yang berkaitan dengan sakit hati dan utang piutang yang telah menumpuk," ujar Kapolsek Sekotong, AKP I Gede Arya Wirawan dalam konferensi pers yang digelar pada hari ini.
Pelaku, Bara Prima Rio, dikenal oleh warga sekitar sebagai orang yang pendiam dan sopan. Namun, data kepolisian menunjukkan bahwa ia merupakan residivis narkoba yang pernah menjalani proses hukum karena kasus serupa pada tahun 2023. Namun pihak kepolisian menegaskan bahwa narkoba bukanlah sebab utama dari peristiwa ini, melainkan lebih pada kondisi psikologis dan masalah ekonomi yang dialami pelaku.
"Kita tidak bisa menyalahkan semuanya pada narkoba. Ada masalah yang lebih dalam yang menjadi pemicu tindakan ini, antara lain rasa frustrasi dan ketidakmampuan pelaku dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa masalah kecil yang tidak ditangani dengan baik bisa berkembang menjadi hal yang sangat mematikan," tambah Kapolsek.
Proses penyelidikan kasus ini masih terus dilakukan oleh tim khusus dari Polres Mataram untuk mengungkap seluruh kronologi dan faktor-faktor yang menjadi dasar tindakan pelaku. Pihak kepolisian juga bekerja sama dengan pihak kesehatan untuk melakukan pemeriksaan psikologis terhadap pelaku dan mendalami latar belakang masalah yang terjadi di dalam keluarga korban.
Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat dan Anak Polres Nusa Tenggara Barat, AKBP Dewi Sartika, menyampaikan kedalaman rasa prihatin terkait peristiwa ini dan mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga serta akses bantuan bagi mereka yang mengalami kesulitan.
"Kita sangat prihatin dengan kejadian yang tragis ini. Rumah seharusnya menjadi tempat yang aman dan penuh kasih, bukan tempat di mana kekerasan terjadi. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu menjaga komunikasi dengan anggota keluarga, dan jangan ragu untuk mencari bantuan jika menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Ada banyak lembaga dan pihak yang siap membantu, termasuk dari kepolisian," jelasnya.
Peristiwa ini juga menjadi panggilan kesadaran bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, hubungan keluarga yang harmonis, serta perlunya dukungan sosial bagi mereka yang mengalami kesulitan ekonomi atau masalah pribadi.
"Kita berharap tragedi seperti ini tidak akan terulang lagi. Setiap nyawa berharga, dan hubungan antara ibu dan anak adalah ikatan yang paling sakral di dunia ini. Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli dan saling membantu satu sama lain," pungkas Kapolres Mataram, Kombes Pol I Wayan Sumerta.
Saat ini tubuh korban telah diserahkan kepada keluarga untuk dilakukan proses pemakaman sesuai dengan adat dan kepercayaan yang dianut keluarga. (*)
