Mataram, NTB - Koordinator Lembaga Study Profesi Indonesia (LSPI) Ahmad S. A.Md, mengingatkan insan pers untuk menjauhi praktik insinuasi dalam penulisan berita. Ia menilai kesimpulan yang melompat dari fakta serta penggunaan judul yang menggiring merupakan ‘racun’ yang dapat merusak reputasi seseorang dan memperkeruh ruang digital di era algoritma saat ini. Pasalnya, ia menyayangkan fenomena klarifikasi atas berita bohong.
“Insinuasi itu adalah racun jurnalistik modern. Jangan sampai judul dibikin panas dan jadi bias, padahal narasinya tidak seperti itu. Sebut patokan sederhana untuk menghindarinya dengan 3F: Fakta dulu, Fondasi sumber yang jelas, lalu Framing-nya harus fair dan adil,” ujar Ahmad S. A.Md, saat Diskusi Dialektika Literasi Jurnalistik di era digital, di Sekretariat Media Barsela24news.com Lombok Tengah, Kamis (19/2/26)
Ia juga menyoroti tantangan baru di era manipulasi visual dan Artificial Intelligence (AI). Ia memperingatkan bahwa saat ini hoaks bukan lagi sekadar teks, melainkan sudah merambah pada suara dan wajah yang bisa ditiru dengan sangat meyakinkan melalui teknologi.
Menurutnya, hoaks dan disinformasi kini telah menjadi senjata dalam perang modern yang bertujuan untuk memecah belah bangsa serta menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. “Potensi hoaks dengan bantuan AI itu paling mudah dibuat. Peran kawan-kawan pers sangat penting bagi stabilitas keamanan nasional. Perang modern saat ini tidak hanya melalui senjata, tapi bisa melalui narasi misinformasi,” tegas Kang Abi sapaan akrabnya.
“Di era digital kita tidak hanya melawan hoaks, kita sedang menjaga martabat ruang publik. Kawan-kawan jurnalis adalah penjaga terdekat ruang publik itu dengan menyajikan berita yang benar dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Laporan: Danang Mario
