Barsela24news - Lombok Utara, NTB | Kisah perjuangan sebuah keluarga sederhana di Dusun Gumantar Gubuk Gol Moto, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, menyentuh hati banyak pihak. Senin pagi (16/2/2026) sekitar pukul 10.50 WITA, Aliansi Bajang Bayan Nusantara (ABBN) bersama keluarga dari Kecamatan Bayan menyempatkan diri menjenguk seorang warga bernama Ramedan (41) yang tengah terbaring sakit di rumahnya.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABBN, Muhammad Alwan. Kedatangan mereka disambut dengan senyum hangat dari Ramedan, meskipun kondisi fisiknya saat ini sangat memprihatinkan.
Ramedan diketahui telah menderita sakit selama kurang lebih satu tahun terakhir. Akibat penyakit yang dideritanya, ia kini tidak mampu berdiri maupun berjalan. Tangan sebelah kanannya pun terlihat sulit digerakkan.
Meski demikian, suasana haru bercampur bahagia terasa saat Ramedan melihat para tamu yang datang menjenguknya. Senyum cerah tampak menghiasi wajahnya, seolah menjadi tanda terima kasih atas perhatian yang diberikan.
“Kami tidak berbincang terlalu lama karena kondisi beliau perlu banyak istirahat,” ujar Muhammad Alwan.
Di tengah keterbatasan tersebut, Ramedan bersama istrinya, Suriani (43), tetap berjuang membesarkan dua anak mereka yang masih bersekolah. Anak pertama bernama Wendra Pratama saat ini duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri 3 Kayangan dengan jarak sekitar 1 kilometer dari rumah. Sementara anak kedua, Nuryunda, masih duduk di kelas 2 SD Negeri 2 Gumantar yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah.
Setiap hari kedua anak tersebut berjalan kaki menuju sekolah mereka. Untuk uang saku pun sangat terbatas. Wendra hanya membawa Rp4.000 per hari, sementara adiknya Nuryunda membawa Rp2.000.
Kondisi ekonomi keluarga ini semakin berat karena Ramedan tidak lagi mampu bekerja sejak sakit. Sang istri, Suriani, kini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suriani berjualan opak-opak keliling dari kampung ke kampung. Ia membeli opak-opak dari pemasok lalu menjualnya kembali untuk mendapatkan keuntungan kecil yang diputar demi menghidupi keluarganya.
“Modal usaha itu didapat dari pinjaman Bank Mekar yang kemudian diputar untuk kebutuhan keluarga,” jelas Muhammad Alwan.
Tak hanya kondisi ekonomi yang sulit, keluarga ini juga harus bertahan di rumah yang kondisinya rusak berat. Rumah berukuran sekitar 4x6 meter itu memiliki atap yang bocor di banyak bagian.
Ketika hujan turun, air kerap masuk melalui sela-sela atap sehingga menggenangi bagian dalam rumah. Situasi ini tentu menambah beban kehidupan keluarga tersebut.
Melihat kondisi tersebut, pihak keluarga berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak-pihak dermawan untuk membantu mereka keluar dari kesulitan yang dialami.
Beberapa harapan sederhana pun disampaikan keluarga Ramedan kepada pemerintah daerah.
Pertama, mereka berharap dapat memiliki rumah yang layak huni agar keluarga bisa tinggal dengan aman dan nyaman.
Kedua, mereka berharap anak-anaknya dapat memiliki sepeda agar lebih mudah pergi dan pulang sekolah tanpa harus berjalan jauh setiap hari.
Ketiga, mereka juga berharap adanya bantuan modal usaha agar Suriani bisa mengembangkan usahanya sehingga ekonomi keluarga dapat perlahan membaik.
Kisah keluarga Ramedan menjadi gambaran nyata tentang keteguhan sebuah keluarga dalam menghadapi cobaan hidup. Di tengah keterbatasan dan kesulitan, mereka tetap berusaha bertahan demi masa depan anak-anaknya.
Kunjungan Aliansi Bajang Bayan Nusantara diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membuka perhatian berbagai pihak agar keluarga tersebut mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
(Narsum: Ketua Umum ABBN)
Editor: BA
