Sumbawa Barat, NTB — Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat melalui Bidang P3KL menggelar Rapat Koordinasi dan Advokasi Pelaksanaan Kegiatan Tim Krisis Kesehatan dalam Penanganan Potensial Bencana/Potensial Bencana (KLB Rabies) Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kedai Sawah, Selasa (14/4/2026).
Rapat koordinasi ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, di antaranya kepala OPD terkait, RSUD Asy-Syifa, para Kepala Puskesmas, serta pengelola program surveilans/zoonosis dari seluruh Puskesmas se-Kabupaten Sumbawa Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan komitmen lintas sektor dalam penanganan dan pencegahan KLB rabies secara efektif dan terpadu.
Secara khusus, kegiatan ini diarahkan untuk mengidentifikasi situasi dan permasalahan rabies di wilayah, meningkatkan pemahaman lintas sektor terkait penanganan KLB rabies, menyusun langkah strategis dan rencana tindak lanjut, serta mendorong dukungan kebijakan dan sumber daya dari seluruh pemangku kepentingan.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, Akhiruddin Juliadi, SKM., M.Si., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta. Ia menekankan pentingnya optimalisasi peran Tim Krisis Kesehatan dalam menghadapi potensi KLB rabies melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor.
“Melalui rapat koordinasi ini, kita diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai permasalahan di lapangan, merumuskan kebijakan bersama, dan mengimplementasikannya secara nyata. Peran seluruh pihak, baik OPD maupun lintas sektor, harus berjalan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing agar penanganan rabies dapat dilakukan secara optimal,” ujar Sekretaris Dinas.
Lebih lanjut disampaikan bahwa dengan sinergi yang kuat, diharapkan pada akhir tahun 2026 angka kasus rabies di Kabupaten Sumbawa Barat dapat ditekan dan menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2025 tercatat berada di bawah angka 432 kasus.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para narasumber, di antaranya Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat yang menyampaikan situasi terkini kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Kabupaten Sumbawa Barat, perwakilan Dinas Pertanian terkait kebijakan penanggulangan hewan penular rabies (HPR), serta Dinas Kesehatan Provinsi NTB yang memaparkan gambaran umum situasi rabies dan pentingnya peran lintas sektor dalam penanggulangannya.
Selanjutnya, kegiatan diisi dengan sesi diskusi yang berlangsung aktif dan konstruktif, membahas berbagai hambatan dan kendala yang dihadapi di lapangan serta merumuskan upaya bersama dalam meningkatkan capaian program penanganan rabies di Kabupaten Sumbawa Barat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama yang kuat antar lintas sektor dalam penanganan rabies, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian dapat berjalan lebih efektif, terkoordinasi, dan berkelanjutan demi melindungi masyarakat dari risiko KLB rabies. (Red)
