Tontonan bukan Tuntunan! Ironi Perayaan Tahun Baru Islam di Daerah Religius Lombok Timur: Gemerlap Panggung Redupnya Syiar

Barsela24news.com

Barsela24news.com, Lombok Timur NTB - Peringatan Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum yang sarat makna. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ruang refleksi untuk mengingat kembali semangat hijrah, memperkuat keimanan, dan membangun kesadaran moral di tengah berbagai tantangan zaman.

Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di daerah Kabupaten Lombok Timur dalam perayaan 1 Muharam 1448 H tahun 2026 ini. Di daerah yang dikenal religius dan menjadikan identitas keislaman sebagai kebanggaan daerah, panggung hiburan justru tampil sebagai magnet utama. Band nasional dihadirkan dengan promosi besar-besaran, sementara ruang syiar keagamaan seolah berada di posisi kedua.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Ketika momentum keagamaan lebih banyak diingat karena konser musik daripada pesan hijrah yang disampaikan, apakah substansi perayaan masih menjadi prioritas?

Tidak ada yang menolak hiburan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Namun dalam konteks peringatan Tahun Baru Islam, publik berharap ada keseimbangan yang jelas antara kemeriahan acara dan kedalaman pesan keagamaan. 

Sebab ruh 1 Muharam bukanlah keramaian, melainkan perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Ironi semakin terasa ketika hal tersebut terjadi di daerah yang selama ini mengusung citra religius. Julukan daerah seribu masjid, kota santri, atau wilayah yang kuat dengan tradisi keislamannya bukan sekadar slogan. Julukan itu mengandung tanggung jawab moral untuk menjaga agar simbol keagamaan berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat—mulai dari penyalahgunaan narkoba, kekerasan terhadap perempuan dan anak, korupsi, hingga krisis keteladanan—kehadiran tokoh agama, ulama, maupun cendekiawan Muslim seharusnya menjadi bagian penting dalam peringatan hari besar Islam. 

Masyarakat membutuhkan ruang pencerahan, bukan hanya ruang hiburan.
Yang menjadi sorotan bukan siapa yang tampil di atas panggung, melainkan pesan apa yang hendak ditinggalkan setelah panggung itu dibongkar.

Sebab konser akan berakhir dalam hitungan jam, tetapi nilai dan pesan keagamaan dapat membekas jauh lebih lama dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, peringatan Tahun Baru Islam perlu dikembalikan pada ruhnya. Kemeriahan boleh menjadi pelengkap, tetapi syiar harus tetap menjadi pusat. Jangan sampai panggung semakin gemerlap, sementara pesan hijrah semakin redup.

Jika peringatan hari besar Islam lebih banyak menghadirkan tontonan daripada tuntunan, maka kritik publik bukanlah sesuatu yang berlebihan. Itu adalah bentuk kepedulian agar momentum keagamaan tidak kehilangan makna dan arah.

Pada akhirnya, masyarakat hanya ingin memastikan satu hal: bahwa Tahun Baru Islam diperingati untuk memperkuat nilai-nilai Islam, bukan sekadar meramaikan panggung hiburan.

Redaksi