Nagan Raya, 29 Agustus 2026 — Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa trauma healing berbasis nilai-nilai keislaman bagi siswa terdampak banjir di SD Negeri 1 Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan kontribusi sivitas akademika STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yang terdampak bencana. Selain membantu memulihkan kondisi psikologis siswa, kegiatan ini juga diarahkan untuk memberikan penguatan nilai-nilai keislaman sebagai bekal spiritual dalam menghadapi musibah dan proses pemulihan pascabencana.
Tim pengabdian terdiri atas Rahimi, MA, Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam sebagai ketua tim, serta Syaibatul Hamdi, MH dan Sumardi Efendi, M.Ag, keduanya merupakan Dosen Program Studi Hukum Pidana Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.
Dalam kegiatan tersebut, para dosen mengajak siswa mengikuti berbagai aktivitas yang bersifat edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Pendekatan trauma healing dilakukan dengan menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman sehingga siswa dapat mengekspresikan perasaan, kembali membangun kepercayaan diri, serta memperoleh motivasi untuk melanjutkan proses belajar setelah mengalami bencana.
Penguatan nilai keislaman menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para siswa diberikan pemahaman bahwa musibah merupakan ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran, doa, ikhtiar, dan sikap saling membantu. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membantu siswa membangun ketahanan mental sekaligus meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah Swt.
Kegiatan ini dilaksanakan di tengah kondisi sekolah yang masih terdampak bencana. Banjir yang melanda kawasan Beutong Ateuh Banggalang pada 26 November 2025 menyebabkan kerusakan dan dampak yang cukup besar bagi masyarakat. Sekitar 100 rumah warga terdampak banjir dengan ketinggian air berkisar antara 50 hingga 80 sentimeter. Bencana tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, termasuk jembatan Beutong Ateuh dan masjid yang mengalami kerusakan akibat derasnya arus banjir.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas pendidikan. Para siswa SD Negeri 1 Beutong Ateuh harus mengikuti proses pembelajaran dalam kondisi yang belum sepenuhnya normal, termasuk memanfaatkan tenda sebagai tempat belajar karena gedung sekolah belum dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Kepala SD Negeri 1 Beutong Ateuh, Zainuddin, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan kehadiran dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh dalam memberikan pendampingan kepada para siswa.
Menurutnya, kegiatan trauma healing sangat membantu anak-anak untuk kembali bersemangat dalam belajar setelah menghadapi dampak bencana banjir.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim pengabdian dari STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh yang telah hadir dan memberikan pendampingan kepada anak-anak kami. Kegiatan seperti ini sangat berarti bagi siswa karena mereka membutuhkan dukungan, perhatian, dan motivasi setelah mengalami musibah,” ungkap Zainuddin.
Ia juga berharap pembangunan kembali gedung sekolah dapat segera direalisasikan, sehingga para siswa tidak perlu lagi belajar di dalam tenda. Menurutnya, keberadaan gedung sekolah yang layak sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung proses pendidikan anak-anak.
“Kami berharap sekolah ini dapat segera dibangun kembali sehingga anak-anak tidak lagi belajar di tenda. Kami ingin mereka dapat kembali belajar di gedung sekolah yang layak, aman, dan nyaman seperti anak-anak di sekolah lainnya,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, Rahimi, MA, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam merespons persoalan sosial yang muncul akibat bencana.
Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali sarana dan prasarana, tetapi juga menyangkut pemulihan kondisi psikologis dan spiritual masyarakat, terutama anak-anak.
“Anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus setelah bencana. Mereka tidak hanya membutuhkan tempat belajar yang layak, tetapi juga dukungan psikologis dan spiritual agar dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan penuh semangat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan keislaman dalam trauma healing diharapkan dapat memberikan ketenangan kepada siswa. Nilai sabar, tawakal, doa, kepedulian, dan optimisme ditanamkan agar anak-anak memiliki kekuatan dalam menghadapi pengalaman sulit yang mereka alami.
Hal senada disampaikan anggota tim pengabdian, Syaibatul Hamdi, MH, yang menilai bahwa kegiatan pengabdian seperti ini menjadi ruang bagi dosen untuk menghadirkan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat. Kehadiran perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik di lingkungan kampus, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Sumardi Efendi, M.Ag, menyampaikan bahwa perhatian terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak korban bencana harus menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, kondisi pascabencana tidak boleh menyebabkan anak-anak kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
“Anak-anak harus tetap memiliki harapan dan kesempatan untuk belajar. Karena itu, selain pendampingan psikologis, pemulihan sarana pendidikan juga menjadi hal yang sangat penting. Kami berharap perhatian berbagai pihak terhadap kondisi sekolah ini dapat terus berlanjut sampai proses pembangunan kembali dapat diwujudkan,” katanya.
Kegiatan pengabdian tersebut diharapkan tidak hanya memberikan dampak jangka pendek berupa keceriaan dan motivasi bagi para siswa, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan yang berkelanjutan. Kehadiran dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat sekaligus menunjukkan komitmen kampus dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan trauma healing berbasis nilai keislaman ini, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh turut memberikan pesan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kerja sama semua pihak. Anak-anak korban bencana harus terus mendapatkan dukungan agar mereka mampu bangkit, kembali percaya diri, dan melanjutkan pendidikan demi masa depan yang lebih baik.
(Muhammad Fawazul)
