Barsela24news.com | Mataram NTB, 19 Agustus 2026 – Bursa pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Barat (NTB) memasuki babak mengejutkan. Dua nama yang selama ini menjadi sorotan, Lalu Muhamad Iqbal dan Mori Hanafi, dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) sebagai calon Ketua KONI NTB periode 2026–2030.
Keputusan tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi dinamika Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI NTB. Pasalnya, kedua nama tersebut sebelumnya digadang-gadang memiliki kekuatan masing-masing dalam perebutan kursi pimpinan organisasi olahraga NTB.
Berdasarkan hasil verifikasi Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP), persoalan yang dihadapi kedua kandidat berbeda.
Untuk Lalu Muhamad Iqbal, TPP menilai persyaratan terkait pengalaman kepemimpinan dalam organisasi olahraga tidak terpenuhi. Ketentuan tersebut berkaitan dengan pengalaman sebagai ketua umum pengurus provinsi cabang olahraga atau Ketua KONI Kabupaten/Kota.
Sementara itu, Mori Hanafi terkendala persoalan dukungan. Dalam proses verifikasi ditemukan adanya dukungan ganda dari sejumlah KONI Kabupaten/Kota. Dukungan yang dinilai ganda tersebut kemudian tidak dapat digunakan sebagai dasar pencalonan.
Keputusan TPP ini sekaligus membuka pertanyaan besar mengenai arah Musorprov KONI NTB. Sebab, dua figur yang sejak awal menjadi pusat perhatian justru tersingkir pada tahap verifikasi persyaratan.
Situasi tersebut juga berpotensi mengubah peta dukungan menjelang Musorprov. Konstelasi yang sebelumnya diperkirakan mengarah pada pertarungan Iqbal versus Mori kini harus dihitung ulang.
Lebih menarik lagi, sebelumnya Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman sempat menyampaikan dukungan terhadap Iqbal untuk memimpin KONI NTB. Dukungan tersebut dikaitkan dengan kebutuhan memperkuat persiapan NTB menghadapi PON NTB–NTT 2028.
Namun, dukungan politik maupun rekomendasi tidak serta-merta menggugurkan ketentuan administratif yang telah ditetapkan dalam proses penjaringan dan penyaringan.
Kini pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang masih memenuhi syarat untuk maju.
Jika keputusan TMS terhadap Iqbal dan Mori tetap bertahan, maka Musorprov KONI NTB berpotensi memasuki babak baru yang jauh lebih terbuka. Kandidat lain akan memiliki ruang lebih besar untuk mengonsolidasikan dukungan dari KONI Kabupaten/Kota dan cabang olahraga.
Di sisi lain, keputusan TPP juga akan menjadi ujian terhadap kredibilitas proses penjaringan. Publik olahraga NTB tentu menunggu penjelasan terbuka mengenai dasar hukum, mekanisme verifikasi dukungan, serta parameter pengalaman organisasi yang digunakan untuk menyatakan seorang kandidat memenuhi atau tidak memenuhi syarat.
Dua nama besar sudah tersingkir. Kini pertarungan Ketua KONI NTB bukan sekadar soal siapa yang mendapat dukungan terbanyak, tetapi juga siapa yang mampu melewati seluruh persyaratan secara sah dan transparan.
Musorprov KONI NTB pun kini memasuki fase yang jauh lebih panas. Peta kekuatan berubah, kandidat bergeser, dan kursi Ketua KONI NTB kembali terbuka. (Red)
