Sampah Menggunung di Pasar Umum Mujur, Pedagang dan Pengunjung Terganggu — Pemda Lombok Tengah Diminta Bertanggung Jawab

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Lombok Tengah, NTB — Tumpukan sampah yang menggunung di sisi selatan Pasar Umum Mujur, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, kembali dikeluhkan warga, pedagang, dan pengunjung pasar.
Kondisi tersebut dinilai bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, tetapi telah mengganggu kenyamanan dan aktivitas masyarakat yang setiap hari bertransaksi di pasar.

Pantauan di lokasi pada Kamis, 20 Agustus 2026, menunjukkan tumpukan sampah terlihat menumpuk di area selatan pasar. Sampah tersebut didominasi sisa aktivitas perdagangan dan terus bertambah dari hari ke hari.

"Ini tempat pembuangan sampah atau pasar?" tanya seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Tumpukan sampah tidak hanya merusak pemandangan. Bau menyengat juga dikeluhkan warga karena tercium hingga kawasan permukiman di sekitar pasar.

Pedagang mengaku kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Ironisnya, mereka merasa kewajiban membayar retribusi tetap berjalan, sementara persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah di pasar dinilai belum mendapat penanganan serius.

"Kami di sini setiap hari dipungut retribusi. Per orang sekitar Rp3.000 sampai Rp10.000, tergantung jumlah dagangan. Pemerintah selalu ingat menarik retribusi, tetapi soal perawatan Pasar Umum Mujur seolah tidak mau tahu," keluh seorang pedagang.

Menurutnya, persoalan semakin terasa ketika hujan turun. Selain bau sampah yang semakin menyengat, kondisi lingkungan pasar berubah menjadi becek dan berlumpur.

"Kalau hujan, kami bukan hanya mencium bau sampah, tetapi terkadang juga berkubang lumpur," ujarnya.

BKD Ikut Turun Tangan. 
Untuk menjaga keamanan dan kondusivitas pasar, Pemerintah Desa Mujur menempatkan sejumlah anggota Badan Keamanan Desa (BKD) di kawasan Pasar Umum Mujur.

Namun, keberadaan BKD juga tidak luput dari keluhan pedagang terkait persoalan sampah. Bahkan, karena keluhan terus disampaikan, sejumlah anggota BKD terkadang secara sukarela ikut membantu pedagang membersihkan, membuang, hingga membakar tumpukan sampah.

Padahal, BKD bukan petugas kebersihan.
Mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban pasar, bukan menangani persoalan pengangkutan sampah. Namun kondisi di lapangan membuat mereka ikut terseret dalam persoalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola pasar dan instansi terkait.

"Kami ditugaskan menjaga keamanan, bukan sebagai petugas sampah. Tapi kalau pedagang sudah mengeluh terus karena bau dan tumpukan sampah, kami juga tidak tega.

 Akhirnya sebisa mungkin kami bantu," demikian keluhan yang disampaikan di lapangan.

Gunungan Sampah Tak Bisa Diselesaikan Secara Manual. Persoalannya, tumpukan sampah yang telah berlangsung lama tidak mungkin diselesaikan hanya dengan tenaga manual.

Dibutuhkan armada pengangkut dan sistem pengelolaan sampah yang rutin agar persoalan tidak kembali berulang.
Pedagang dan masyarakat pun mempertanyakan perhatian Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, khususnya Dinas Perdagangan dan Perindustrian, terhadap kondisi Pasar Umum Mujur.

Jika retribusi pasar terus dipungut dari pedagang, masyarakat mempertanyakan bagaimana tanggung jawab pemerintah terhadap kebersihan, kenyamanan, dan kelayakan fasilitas pasar.
Apakah retribusi hanya berhenti pada penarikan uang dari pedagang, sementara persoalan kebersihan dibiarkan?

Pertanyaan tersebut kini menunggu jawaban pemerintah. Pedagang dan warga berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah segera mengerahkan armada pengangkut sampah khusus atau terjadwal secara rutin ke Pasar Umum Mujur, sekaligus membenahi sistem pengelolaan sampah di kawasan pasar.

Sebab pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Pasar adalah ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat. Membiarkan sampah menggunung di dalamnya berarti membiarkan persoalan lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat terus berlarut.

Kini yang ditunggu bukan lagi janji, tetapi tindakan nyata Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Laporan: Tim Loteng