"Lantai Tanah, Tak Punya MCK dan Sumur—Lansia 67 Tahun di Aceh Selatan Ini Hanya Bisa Berharap Ada Uluran Tangan"
Barsela24news.com | Aceh Selatan — Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, pembangunan terus digaungkan di berbagai penjuru negeri. Namun di balik kemajuan itu, masih ada warga lanjut usia yang harus menjalani hari-hari dalam keterbatasan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih dan tempat buang air.
Salah satunya adalah Siti Katijah (67), warga Desa Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan.
Di usia senjanya, Katijah masih tinggal seorang diri di sebuah rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak. Lantai rumah masih berupa tanah. Tidak tersedia fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), bahkan tidak memiliki sumur sendiri.
Untuk mendapatkan air sehari-hari, Katijah harus mengambilnya dari rumah anaknya yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Kondisi tersebut bukan baru sehari atau dua hari dijalaninya. Dalam keterbatasan ekonomi dan usia yang semakin menua, Katijah bertahan dengan mengandalkan bantuan keempat anaknya, bantuan sosial, serta pekerjaan serabutan yang masih sanggup ia lakukan.
“Untuk makan sehari-hari, saya mengharapkan bantuan dari anak-anak. Kalau ada pekerjaan yang bisa saya lakukan, seperti mencari dan membelah pinang, saya kerjakan,” ujar Katijah saat ditemui wartawan, Senin (10/8/2026).
BLT Lansia Jadi Penopang Hidup
Katijah mengaku juga menerima bantuan langsung tunai (BLT) bagi lanjut usia. Bantuan tersebut menjadi salah satu sumber yang digunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bantuan BLT lansia itulah yang saya gunakan untuk makan,” katanya dengan suara terbata.
Di tengah kondisi tersebut, keinginan untuk memiliki rumah yang lebih layak sebenarnya tetap ada. Namun Katijah sadar, membangun rumah sendiri hampir mustahil dilakukan dengan kondisi ekonominya saat ini.
“Kalau untuk membangun rumah, saya rasa sudah tidak mungkin. Kecuali ada orang baik atau pemerintah yang mau membantu,” tuturnya.
Tak Meminta Rumah Mewah, Hanya Ingin MCK dan Air yang Layak
Meski hidup serba kekurangan, Katijah tidak banyak menuntut.
Ia mengaku tetap bersyukur karena masih mempunyai tempat untuk berlindung ketika hujan maupun panas datang.
“Walaupun saya tinggal di rumah seperti ini, saya tetap bersyukur karena masih ada tempat berteduh,” ujarnya.
Namun ada satu hal yang sangat diharapkannya: fasilitas MCK dan akses air yang layak.
Ketiadaan fasilitas tersebut membuat Katijah harus bergantung kepada keluarga. Bahkan dalam kondisi tertentu, ia mengaku harus pergi ke sumur pada malam hari.
“Saya berharap kepada pemerintah atau siapa pun yang mau membantu, tolong bantu MCK. Saya sudah tua dan terkadang harus pergi ke sumur pada malam hari,” ungkapnya.
Listrik Pun Masih Menumpang
Keterbatasan tidak berhenti pada persoalan air dan sanitasi.
Untuk penerangan, Katijah masih mengandalkan sambungan listrik dari rumah anaknya yang berada di sebelah rumahnya.
Sementara untuk kebutuhan air sehari-hari, ia juga mengambil air dari rumah anaknya.
Situasi ini menunjukkan betapa kebutuhan dasar Katijah masih sangat bergantung kepada keluarga di sekitarnya.
81 Tahun Merdeka, Jangan Sampai Ada yang Terlupakan
Kisah Siti Katijah menjadi potret kecil dari persoalan sosial yang masih membutuhkan perhatian.
Di tengah berbagai program pembangunan dan bantuan sosial, masih ada warga lanjut usia yang hidup seorang diri dalam kondisi rumah yang belum memenuhi kebutuhan dasar.
Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah warga seperti Katijah sudah masuk dalam pendataan dan pemetaan penerima program perbaikan rumah serta bantuan sosial pemerintah?
Pemerintah daerah, pemerintah desa, dinas terkait, maupun pihak-pihak yang memiliki kewenangan diharapkan dapat turun langsung untuk melihat kondisi Katijah secara faktual.
Jika berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi Katijah memenuhi persyaratan, bantuan rehabilitasi rumah, pembangunan MCK, akses air bersih, maupun dukungan sosial lainnya patut dipertimbangkan sesuai ketentuan program yang tersedia.
Sebab persoalannya bukan sekadar memperbaiki lantai tanah atau membangun sebuah kamar mandi.
Ini tentang martabat seorang warga negara yang telah menjalani 67 tahun kehidupannya dan kini memasuki usia senja.
Kemerdekaan seharusnya tidak hanya terasa dalam pembangunan gedung, jalan, maupun berbagai proyek besar.
Kemerdekaan juga harus hadir ketika seorang lansia dapat tidur dengan aman, memiliki air yang layak, mempunyai toilet yang sehat, dan tidak lagi harus berjalan mencari air atau pergi ke sumur pada malam hari.
81 tahun Indonesia merdeka. Semoga tidak ada lagi Siti Katijah yang harus menjalani usia senja dengan bertahan seorang diri di rumah yang tak layak huni.
Kini tinggal menunggu: akankah pemerintah hadir dan melihat langsung kondisi Siti Katijah?
Laporan: Hartini
