Budaya Mangan Rabee Jukut Suku Kluet, Tradisi Makmeugang Sehari Sebelum Ramadhan

Barsela24news.com

Aceh Selatan – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Suku Kluet di Kabupaten Aceh Selatan memiliki tradisi turun-temurun yang hingga kini tetap dilestarikan, yakni budaya Mangan Rabee Jukut pada momentum Makmeugang, sehari sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi Makmeugang sendiri merupakan kearifan lokal masyarakat Aceh yang dilaksanakan menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Namun bagi masyarakat Suku Kluet, yang mendiami wilayah seperti Kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, Kluet Timur , terdapat kekhasan tersendiri dalam pelaksanaannya.

Mangan Rabee Jukut secara harfiah berarti makan daging bersama, Pada hari Makmeugang, masyarakat berbondong-bondong membeli dan memasak daging sapi atau kerbau untuk disantap bersama keluarga besar. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.

Sejak pagi hari, suasana pasar tradisional di wilayah Kluet  Utara tampak ramai. Para pedagang daging dipadati pembeli yang ingin memastikan keluarga mereka dapat menikmati hidangan istimewa sebelum memasuki bulan Suci ramadhan, Harga daging biasanya mengalami kenaikan, namun hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk mendapatkan daging tersebut guna dimakan bersama keluarga. 

Di setiap rumah, aroma masakan khas seperti gulai daging, rendang, hingga masakan khas Kluet mulai tercium. Keluarga besar berkumpul, termasuk sanak saudara yang merantau dan pulang kampung untuk merayakan momen kebersamaan ini. Anak-anak hingga orang tua duduk bersama menikmati hidangan, mempererat silaturahmi dan saling bermaafan.

Salah seorang masyarakat Gampong Ruak Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan  Hamidah, kepada media barsela 24nwes.com Selasa 17/02/2026, menyebutkan bahwa Mangan Rabee Jukut memiliki makna mendalam bagi kami, karena biasanya setiap meugang kami bersama orang tua makan dengan Rabee jukut,tahun ini orang tua kami sudah tidak ada lagi, namun tradisi meugang dengan masak Rabee jukut tetap kami buat,karena makanan tradisional Kluet turun temurun,sejak dulu. 

Selain mempererat hubungan keluarga, tradisi ini juga menjadi momentum berbagi kepada fakir miskin dan tetangga yang membutuhkan.“Makmeugang bukan hanya tentang makan daging, tetapi tentang kebersamaan dan rasa syukur, ucapnya dengan berlinangan air mata. 

Ini warisan budaya yang harus dijaga,”
Tradisi ini juga menjadi identitas kuat masyarakat Suku Kluet yang tetap mempertahankan nilai-nilai adat di tengah perkembangan zaman.tutupnya.

Pemerhati budaya di Aceh Selatan Muzakir, menilai pelestarian Mangan Rabee Jukut menjadi bagian penting dalam menjaga khazanah budaya daerah.

Dengan tetap lestarinya budaya Mangan Rabee Jukut pada momentum Makmeugang, masyarakat Suku Kluet membuktikan bahwa nilai adat dan ajaran agama dapat berjalan selaras, menjadi pondasi kuat dalam menyambut bulan suci Ramadhan setiap tahunnya. pungkasnya.

Laporan: Hartini