Jamiluddin Ritonga: Kecil Kemungkinan Prabowo Berhadapan dengan Gibran di Pilpres 2029

Barsela24news.com
Pengamat komunikasi politik M Jamiluddin Ritongan 

Jakarta,– Pengamat komunikasi politik M Jamiluddin Ritongan menilai peluang Prabowo Subianto maju ikut pilpres untuk dua periode sangat besar.

Jamil menyebutlan dua alasannya. Pertama, hasil survei dari beberapa lembaga survei memperlihatkan elektabilitas Prabowo paling tinggi diantara elite politik lainnya. Bahkan elektabilitasnya jauh meninggalkan elite politik.

“Elektabilitas yang relatif dekat dengan Prabowo hanya Anies Baswedan. Karena itu, Prabowo lebih dari layak untuk maju kembali pada Pilpres 2029 bila dapat menjaga elektabilitas tetap tinggi hingga 2028,” kata Jamil kepada media ini, Senin (9/2/2026).

Alasan kedua, masyarakat juga puas dengan kinerja Prabowo. Hal itu juga terekam dari hasil survei beberapa lembaga survei.

“Jadi, kalau kinerja Prabowo konstan hingga 2028, maka partai koalisi akan kembali mengusung Prabowo. Beberapa partai politik, seperti PKB dan PAN, bahkan sudah menyuarakan hal itu,” kata Jamil.

Hal itu menurutnya juga sejalan dengan pernyataan Prabowo, hanya akan maju kembali bila kinerjanya dinilai masyarakat baik. Karena itu, kecil kemungkinan Prabowo akan menolak kembali maju bila masyarakat puas terhadap kinerjanya.

Jamil juga milihat indikasi akan kembali maju juga terekam dari pernyataan Prabowo baru-baru ini. Prabowo menegaskan, bagi yang tidak senang dengannya, silahkan bertarung pada 2029. Hal itu semakin menyiratkan Prabowo akan kembali maju pada Pilpres 2029.

Mengenai Gibran Rakabuming Raka maju melawan Prabowo Subianto, dia menilai kecil sekali. Sebab, hanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kemungkinan mau mengusung Gibran.

“Meski dibantu mati-matian oleh Joko Widodo, peluangnya untuk menjadi partai menengah saja sulit. Sebab, kehadiran Jokowi di PSI tidak akan banyak mendongkrak elektabilitas partai Gajah tersebut,” kata Jamil.

Dijelaskan Jamil, Jokowi saat ini dan ke depan bukan lagi sosok yang dapat dihandalkan untuk mendulang suara besar. Sebab, beragam kasus yang menderainya membuat masyatakat sudah kehilangan kepercayaan kepadanya.

“Di PSI tidak ada sosok yang memiliki nilai jual untuk mendongkrak elektabilitasnya. Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dan Ketua Hariannya Ahmad Ali juga bukan sosok yang punyai nilai jual secara politis,” tegas Jamil.

Karena itu, menurutnya, PSI untuk masuk Senayan saja tampaknya akan sulit bila Parliamentary Threshold (PT) masih diberlakukan pada Pileg 2029. Kalau PSI tidak masuk Senayan, nilai jualnya tentu akan semakin rendah.

Hal itu tentu akan menyulitkan bagi PSI untuk mengajak partai lain untuk mendukung Gibran maju pada Pilpres 2029. Sebab, baik PSI maupun Gibran sama-sama tidak punya nilai jual.

“Setidaknya hal ini ditunjukkan oleh hasil beberapa lembaga survei. Elektabilitas Gibran sangat rendah. Bahkan masih dibawah elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),” ujar Jamil.

Hal itu tentu semakin menyulitkan bagi partai lain mau mengusung Gibran. Sebab, tidak ada partai politik mau mengusung calon hanya untuk kalah.

“Jadi, kecil kemungkinan Gibran maju pada Pilpres 2029. Gibran tampaknya akan berupaya untuk tetap mendampingi Prabowo. Hal ini juga sudah dinyatakan Jokowo, Prabowo-Gibran dua periode,” jelas Jamil.

Namun hal itu kata Jamil, tentu tidak mudah. Sebab, diantara partai koalisi akan ada yang menolaknya. Saat ini saja, PAN sudah menawarkan Ketua Umumnya Zulkifli Hasan untuk mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029.

Begitu juga dengan Partai Demokrat. Ketumnya AHY yang elektabilitasnya terus meningkat, tentu tak ingin mengusung sosok lain yang elektabilitasnya lebih rendah.

“Bagi Gerindra juga kemungkinan akan sulit menerima Gibran sebagai pendamping Prabowo. Sebab, kalau itu terjadi sama saja Gerindra memberi karpet merah kepada Gibran pada Pilpres 2034,” kata Jamil.

Jadi, menurut Jamil, ada kemungkinan Gibran tidak akan menjadi pendamping Prabowo pada Pilpres 2029. Selain Gerindra, partai lain juga tampaknya akan menolak Gibran.

Dalam kondisi demikian, lanjut Jamil, baru ada kemungkinan Gibran “dipaksa” oleh ayahnya untuk maju pada Pilpres 2029. Ini pun kalau Presidential Threshold benar-benar nantinya menjadi nol persen.

Kalau pun Gibran maju, Jamil bepandangan tidak ada partai besar yang mengusungnya. Selain PSI, kemungkinan Gibran hanya didukung partai gurem lainnya.

“Gibran kalau pun maju tampaknya hanya untuk kalah. Sebab, tidak ada indikator yang dapat dijadikan justifikasi Gibran berpeluang menang,” kata mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.(*)