Barsela24news.com | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap kesehatan dan masa depan anak-anak. Tujuannya jelas, memastikan setiap siswa mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk belajar dan tumbuh dengan baik.
Namun ketika makanan yang dibagikan justru dikeluhkan, tidak dimakan, bahkan berakhir ditempat sampah, maka ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Istilah "Sampah MBG" memang terdengar keras, tetapi itu lahir dari kekecewaan publik. Makanan bergizi seharusnya dimakan dengan lahap oleh anak-anak, bukan ditolak karena kualitasnya dipertanyakan.
Masalah ini bukan sekadar soal rasa atau menu. Ini menyangkut pengelolaan anggaran, kualitas penyediaan makanan, serta pengawasan program. Jika anggaran besar sudah dialokasikan, maka kualitas yang diterima anak-anak juga harus besar.
Ketika porsi mengecil, kualitas menurun, atau makanan tidak layak konsumsi, maka kritik publik menjadi hal yang wajar. Kritik bukan untuk menjatuhkan program, tetapi untuk memastikan program tersebut tidak melenceng dari tujuan mulianya.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak butuh program yang sekedar terlihat baik di atas kertas. Mereka butuh makanan yang benar-benar bergizi diatas meja maka mereka.
Jika makanan yang seharusnya bergizi justru berakhir di tempat sampah, maka pertanyaan publik menjadi sangat sederhana, ada apa dengan MBG?. (Red)
Oleh: Ahmad S. A.Md. Koordinator LSPI
