Jakarta, 30 Mei 2026, Barsela24News.com - Dua hari menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, Muhamad Amri Akbar, Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), mengajak seluruh mahasiswa Indonesia menghidupkan kembali nilai Pancasila bukan sebagai teks hafalan, melainkan sebagai panduan tindakan.
“Setiap 1 Juni kita upacara, kita hafal 5 sila. Tapi ujian Pancasila yang sesungguhnya bukan di lapangan upacara. Ujiannya ada di media sosial yang makin polar, ada di lapangan kerja yang makin sempit, ada di kampus yang kadang lupa jadi rumah dialog. Karena itu saya tegaskan: Pancasila bukan pajangan dinding, tapi GPS hidup kita,” ujar Amri di Kantor PP KAMMI, Jakarta, Jumat 30/5.
Pancasila Generasi Z: Relevan untuk 3 Musuh Baru 2026. Amri merumuskan tantangan generasi muda hari ini dalam “3M Baru” yang harus dijawab Pancasila:
1. Medsos Polar: Algoritma media sosial membuat anak muda makin terkotak dalam ruang gema. Jawabannya Sila ke-3 Persatuan Indonesia.
2. Mesin AI: Kecerdasan buatan mengancam pekerjaan rutin. Jawabannya Sila ke-5 Keadilan Sosial melalui upskilling dan pemerataan akses digital.
3. Miskin Akses: Ketimpangan internet, modal, dan koneksi membuat mahasiswa daerah tertinggal. Jawabannya Sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
“Dulu Pancasila mempersatukan kita melawan penjajah. Sekarang Pancasila harus mempersatukan kita melawan hoaks, melawan kemiskinan, melawan individualisme. Nilainya tidak kuno. Yang kuno kalau kita malas mengamalkan,” tegasnya.
5 Pesan KAMMI untuk Mahasiswa Indonesia Menjelang 1 Juni
1. Sila Ketuhanan: Jadikan Media Sosial Ruang Dakwah Damai
Amri menyorot maraknya ujaran kebencian berkedok agama di kolom komentar. PP KAMMI lewat program “KAMMI Cyber Dakwah Toleran” telah melatih 3.000+ kader di 34 provinsi untuk membuat konten literasi digital dan anti-hoaks sektarian. “Tuhan tidak butuh pembela yang kasar. Tuhan butuh umat yang beradab,” ujarnya.
2. Sila Kemanusiaan: Jangan Ada Mahasiswa Tertinggal karena UKT
“Kemanusiaan yang adil dan beradab itu kalau ada mahasiswa IPK 3,9 di NTT harus drop out karena orang tuanya PHK. Itu luka kemanusiaan,” kata Amri. KAMMI mendorong dana abadi pendidikan lebih berpihak ke mahasiswa pra-sejahtera dan menguatkan program “Kak Asuh KAMMI” yang sudah membantu 5.000+ mahasiswa.
3. Sila Persatuan: Kampus Rumah Dialog, Bukan Arena Baku Hantam
“Persatuan itu bukan memaksa sama. Persatuan itu ketika anak KAMMI, HMI, PMII, GMNI bisa debat gagasan di forum ilmiah, lalu pulang bareng naik KRL. Itu Pancasila hidup,” pesannya. KAMMI telah memfasilitasi Forum Lintas Ormas Kampus di 50 PTN/PTS.
4. Sila Kerakyatan: Hidupkan Demokrasi Kampus yang Beradab
Menjelang Pemilu Raya BEM dan Pilkada 2026, Amri mendesak transparansi anggaran BEM dan perlindungan bagi mahasiswa kritis. “Musyawarah mufakat itu kalau suara mahasiswa soal UKT dan kurikulum didengar senat, bukan jadi formalitas,” jelasnya.
5. Sila Keadilan Sosial: Anak Indonesia Harus Jadi Tuan Rumah
Amri paling keras menyorot ketimpangan kerja. “Keadilan sosial itu kalau anak SMK di Sumba bisa jualan desain di Fiverr. Kalau lulusan swasta di Bekasi punya peluang magang sama besar dengan anak PTN di Jakarta. Kalau proyek IKN dan KEK Mandalika memprioritaskan tukang lokal,” tegasnya. Melalui “KAMMI Career Hub”, 15.000+ mahasiswa sudah terhubung ke UMKM dan startup lokal.
Seruan Penutup
Amri menutup dengan ajakan konkret: “Adik-adik mahasiswa, 1 Juni nanti kita upacara angkat tangan hormat. Tapi setelah itu kepalkan tangan untuk kerja. Kerja melawan hoaks. Kerja melawan putus sekolah. Kerja melawan ketimpangan.”
“Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 untuk seluruh pemuda Indonesia. Mari jadikan 5 sila itu GPS hidup kita. Kalau kampus mengamalkan Pancasila, insyaAllah Indonesia Emas 2045 bukan mimpi. Dari mahasiswa, untuk Indonesia. KAMMI Menjaga Indonesia!” pungkas Amri.
Tentang PP KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan nasional berlandaskan Islam rahmatan lil ‘alamin dan nilai kebangsaan. Hadir di 34 provinsi, 250+ kampus, dengan 100.000+ kader. Fokus kerja: kaderisasi, pemberdayaan ekonomi mahasiswa, literasi digital, dan pengawalan kebijakan publik. (BR)
