Menakar Janji Manis MBG: Gerakkan Ekonomi Lokal atau Sekadar Rebutan Cuan Para Bohir?

Barsela24news.com

Oleh: Moh. Ali Andro A., Ketua Koalisi Pemuda Untuk Perubahan sekaligus Founder Sahabat Peduli Comunity

Lombok Tengah NTB - ​Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang membawa angin segar dan narasi yang begitu indah di telinga: sebuah mega proyek pemerintah yang dirancang tidak hanya untuk mengisi perut anak-anak bangsa, tetapi juga untuk memutar roda ekonomi dari bawah. 

Di atas kertas, konsep ini nyaris sempurna. Petani, peternak, dan pedagang pasar lokal diproyeksikan menjadi pilar utama pemasok bahan baku.

​Namun, ketika program ini mulai mendarat di realita, wajah aslinya mulai kelihatan. Harapan melihat ekonomi lokal menggeliat justru terbentur oleh syahwat kapitalisme para "bohir" MBG—mereka yang ditunjuk sebagai mitra strategis pemerintah.

​Bagi para pemodal ini, MBG tampaknya tidak dipandang sebagai misi sosial, melainkan sebuah ruang bisnis baru yang sangat seksi. Konsepnya sederhana: bagaimana mengelola bisnis dapur umum berskala masif ini agar menghasilkan cuan yang maksimal. 

Dengan volume yang besar, sedikit saja efisiensi menekan biaya produksi, keuntungan yang masuk kantong pribadi akan melonjak drastis. Prinsip "bisnis tetaplah bisnis" berjalan mulus di ruang-ruang dapur MBG, sementara esensi pemberdayaan lokalnya perlahan menguap.

​Realita di Lapangan: Rakyat Kebagian Lonjakan Harga

​Akibat dominasi kalkulasi bisnis para pemodal, masyarakat di akar rumput mulai merasakan dampak yang bertolak belakang dari janji awal pemerintah. Alih-alih kecipratan untung, warga lokal justru harus berhadapan dengan hukum pasar yang kejam.

​Hadirnya raksasa dapur MBG yang menyerap bahan pokok dalam skala masif tanpa manajemen rantai pasok yang berpihak pada rakyat, justru memicu satu hal: lonjakan harga bahan pokok di pasar tradisional. Ketika permintaan pasar melonjak tajam karena kebutuhan MBG, harga-harga komoditas ikut terkerek naik.

Ironisnya, program yang awalnya digadang-gadang sebagai stimulus ekonomi lokal, kini justru mendefinisikan dirinya sendiri sebagai beban baru bagi isi dompet masyarakat kecil.

​Jeritan dari Pasar Tradisional

​Jika ingin melihat bukti nyata gagalnya efek domino ekonomi yang dijanjikan, datanglah ke pasar tradisional di wilayah terdekat, Di sana, kita akan menemukan riuh rendah suara ibu-ibu pedagang pasar menyimpan getir yang sama.
​Saat ditanya tentang dampak kehadiran MBG, mereka hanya bisa mengelus dada. Bagi mereka, proyek besar ini tidak berpengaruh signifikan terhadap omzet jualan mereka. Mereka tidak dilibatkan sebagai pemasok utama; rantai pasok kemungkinan besar sudah diputus oleh para bohir yang lebih memilih membeli langsung dalam skala industri demi memangkas biaya.

​Bagi ibu-ibu pedagang di pasar, MBG hanyalah cerita sukses orang-orang kota yang mereka tonton di televisi. Sementara di lapak dagangan mereka sendiri, yang tersisa hanyalah harga kulakan yang makin mahal dan pembeli lokal yang makin sepi karena daya beli yang tercekik.

​Kesimpulan: Menagih Kiblat Awal Pemerintah

​Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa evaluasi total, maka Ekonomi Pasca-MBG hanya akan melahirkan ketimpangan gaya baru. Pemerintah harus berani mendisiplinkan para mitra strategisnya.

Program ini tidak boleh dibiarkan berjalan hanya sebagai pemuas dahaga profit para pemodal besar dengan topeng program sosial. ​Sudah saatnya pemerintah mengembalikan MBG ke kiblat awalnya: menggerakkan ekonomi rakyat, bukan menggemukkan kantong para bohir dapur. Jika tidak, program ini hanya akan diingat 
sebagai kebijakan yang berhasil mengenyangkan sebagian anak sekolah, sekaligus berhasil mengosongkan dompet orang tua mereka di pasar tradisional.

(Tim Loteng)