Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia, tampil mengenakan busana adat Sasak Lombok, dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Foto: (Ist)
Barsela24news.com | Mataram NTB, 18 Agustus 2026 — Jejak pembangunan dan perhatian terhadap Pulau Lombok menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pemerintahan Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia sekaligus mantan Presiden RI.
Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sosok Jokowi kembali menjadi perhatian setelah tampil mengenakan busana adat Sasak. Pakaian tersebut menjadi simbol kedekatan dengan identitas budaya Lombok sekaligus mengingatkan kembali berbagai kebijakan dan proyek pembangunan yang berkembang selama satu dekade pemerintahannya.
Pilihan busana adat Sasak bukan sekadar persoalan penampilan. Di tengah perayaan kemerdekaan, simbol tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya daerah yang menjadi bagian penting dari wajah Indonesia.
Mandalika, Warisan Pembangunan Era Jokowi
Salah satu proyek paling monumental yang mengubah wajah Lombok adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah.
Di era pemerintahan Jokowi, pembangunan Mandalika dipercepat sebagai salah satu proyek strategis pariwisata nasional. Kehadiran Pertamina Mandalika International Street Circuit kemudian membawa Lombok ke panggung olahraga dunia melalui penyelenggaraan MotoGP.
Nama Lombok yang sebelumnya lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam kini semakin sering muncul dalam pemberitaan internasional karena menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga dan kegiatan berskala global.
Mandalika juga membuka peluang baru bagi sektor perhotelan, transportasi, UMKM, kuliner, ekonomi kreatif hingga lapangan pekerjaan masyarakat.
Namun, warisan pembangunan tersebut sekaligus menyisakan pekerjaan rumah.
Pertanyaan pentingnya adalah: seberapa besar manfaat ekonomi Mandalika benar-benar dirasakan masyarakat Lombok, khususnya masyarakat di sekitar kawasan?
Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari megahnya sirkuit atau banyaknya event internasional. Ukuran akhirnya tetap sama: apakah kesejahteraan masyarakat meningkat?
Jokowi dan Lombok
Selama menjadi presiden, Jokowi beberapa kali melakukan kunjungan kerja ke NTB. Ia meninjau berbagai pembangunan, mengunjungi pasar, bertemu masyarakat, melihat aktivitas UMKM hingga meresmikan sejumlah proyek infrastruktur.
Kehadiran presiden secara langsung di tengah masyarakat menjadi bagian dari gaya kepemimpinan Jokowi yang kerap menampilkan pendekatan turun ke lapangan.
Bagi Lombok, berbagai kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk menyampaikan aspirasi masyarakat secara langsung kepada pemerintah pusat.
Tetapi setelah masa kepresidenannya berakhir, warisan kebijakan tersebut kini memasuki fase pembuktian.
Pemerintah setelah Jokowi memiliki tantangan untuk memastikan pembangunan yang telah dimulai tidak berhenti sebagai proyek fisik, tetapi terus memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Budaya Lokal Tidak Boleh Kalah oleh Modernisasi
Busana adat Sasak yang dikenakan Jokowi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan Lombok menjadi salah satu destinasi internasional.
Lombok memiliki kekayaan budaya, tradisi, bahasa, seni, kerajinan dan tenun yang menjadi identitas masyarakat Sasak.
Ketika kawasan seperti Mandalika berkembang menjadi destinasi sport tourism kelas dunia, budaya lokal semestinya tidak ditempatkan hanya sebagai ornamen pariwisata.
Budaya harus menjadi bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat.
Tenun Sasak, misalnya, bukan sekadar kain tradisional. Di baliknya terdapat keterampilan, sejarah dan kehidupan ekonomi masyarakat yang harus terus dilindungi dan dikembangkan.
Dari Mandalika ke Dunia
Joko Widodo kini bukan lagi kepala pemerintahan. Ia tercatat sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia yang telah menyelesaikan masa jabatannya.
Karena itu, berbagai proyek yang dibangun pada masa pemerintahannya kini harus dilihat sebagai bagian dari warisan pembangunan yang akan diuji oleh waktu.
Mandalika adalah salah satu contoh paling nyata.
Dari kawasan yang dahulu relatif sepi, kini berdiri sirkuit berstandar internasional yang membawa nama Lombok ke panggung dunia.
Tetapi pekerjaan belum selesai.
Mandalika harus mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Pariwisata harus membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga lingkungan dan tetap menghormati budaya lokal.
Sebab, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya ketika dunia datang ke Lombok.
Pembangunan disebut berhasil ketika masyarakat Lombok sendiri merasakan bahwa masa depan mereka menjadi lebih baik.
Dari Mandalika ke dunia, nama Lombok telah semakin dikenal.
Dan di balik perjalanan itu, terdapat jejak panjang pembangunan yang salah satunya lahir pada era Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia.
Kini sejarah akan menilai: apakah warisan pembangunan tersebut benar-benar menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat Lombok? atau hanya menjadi monumen besar dari sebuah era pemerintahan.
Redaksi
