Lombok Utara NTB , 6 September 2026 - Suasana penuh khidmat, damai, dan kebersamaan mewarnai pelaksanaan peringatan Ulang Tahun Sanggha yang ke-50 sekaligus kegiatan Pattidana di Vihara Sattabojangga, Dusun Tebango, Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan keagamaan tersebut menjadi momentum penting bagi umat Buddha di NTB untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta meneguhkan kembali semangat kebersamaan dalam menjalankan dan melestarikan ajaran Buddha Dharma.
Kegiatan dihadiri oleh 15 Bhikkhu Sanggha, serta sekitar 1.500 tamu undangan dan umat Buddha yang berasal dari berbagai vihara di seluruh wilayah NTB. Masing-masing vihara turut membawa umat, dengan jumlah sekitar 50 umat, bersama para Romo, Pandita, dan Upacarika.
Kehadiran ribuan umat tersebut menunjukkan bahwa peringatan 50 tahun Sanggha bukan sekadar sebuah acara seremonial, tetapi menjadi momentum spiritual yang memiliki makna mendalam bagi perjalanan umat Buddha, khususnya dalam menjaga kesinambungan kehidupan beragama, pembinaan umat, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam suasana penuh penghormatan, para umat mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat. Kebersamaan antara Bhikkhu Sanggha, Romo, Pandita, Upacarika, tokoh umat, serta masyarakat menjadi gambaran kuat tentang semangat gotong royong dan persaudaraan dalam kehidupan beragama.
Bhante Upasilo Thera: Sanggha Harus Menjadi Teladan dalam Kehidupan
Yang Mulia Bhante Upasilo Thera, selaku Ketua Padesanayaka NTB, memberikan pesan penting mengenai makna perjalanan Sanggha dan tanggung jawab umat dalam menjaga kehidupan beragama.
Menurut pesan yang dapat dirumuskan dari momentum tersebut, 50 tahun perjalanan Sanggha hendaknya tidak hanya dipandang sebagai angka atau usia sebuah perjalanan, tetapi sebagai refleksi atas pengabdian, perjuangan, keteladanan, dan kesinambungan Dharma dari generasi ke generasi.
“Lima puluh tahun bukan hanya tentang lamanya waktu yang telah kita lalui. Lima puluh tahun adalah perjalanan pengabdian, perjalanan menjaga Dharma, membimbing umat, serta menjaga nilai-nilai kebaikan agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Bhante Upasilo Thera juga menekankan bahwa kekuatan umat Buddha tidak hanya terletak pada banyaknya jumlah umat, tetapi terutama pada kualitas kehidupan umat dalam mengamalkan Dharma.
“Dharma tidak cukup hanya didengar dan dipelajari. Dharma harus diwujudkan dalam sikap, ucapan, dan perbuatan. Ketika umat mampu menjaga sila, mengembangkan kasih sayang, menghormati sesama, dan hidup dalam kebijaksanaan, di situlah Dharma benar-benar hidup.”
Pesan untuk Generasi Muda
Dalam momentum 50 tahun Sanggha tersebut, perhatian terhadap generasi muda juga menjadi bagian penting. Generasi muda dinilai memiliki peranan strategis dalam melanjutkan keberadaan dan perkembangan kehidupan umat Buddha di masa mendatang.
“Kepada generasi muda umat Buddha, jangan pernah merasa bahwa Dharma adalah sesuatu yang hanya menjadi bagian dari masa lalu. Dharma adalah pedoman kehidupan yang tetap relevan untuk masa kini dan masa depan. Karena itu, pelajarilah Dharma dengan sungguh-sungguh, hormati para guru, hormati orang tua, dan jadilah generasi yang memiliki karakter, moralitas, serta kepedulian terhadap sesama.”
Bhante juga mengajak seluruh umat agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan. Perbedaan latar belakang, organisasi, vihara maupun cara pengabdian hendaknya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan persaudaraan.
“Kita boleh berbeda tempat, berbeda peran, bahkan berbeda cara dalam menjalankan pengabdian. Namun jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan. Kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga Dharma dan membangun kehidupan umat yang damai, bermoral, dan penuh kasih.”
Pattidana sebagai Wujud Kebajikan dan Penghormatan
Pelaksanaan Pattidana dalam rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi umat untuk mengembangkan kebajikan, mengenang jasa para pendahulu, serta mendoakan kebahagiaan dan kedamaian bagi semua makhluk.
Pattidana bukan sekadar ritual, tetapi menjadi pengingat bagi umat bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari hubungan dengan sesama. Kebajikan yang dilakukan hendaknya menjadi kekuatan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kebajikan yang kita lakukan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Setelah kita kembali ke rumah masing-masing, bawalah Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah manusia yang lebih sabar, lebih peduli, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi orang lain.”
1.500 Umat Menjadi Simbol Persatuan
Kehadiran sekitar 1.500 umat dari berbagai vihara se-NTB memberikan pesan kuat bahwa kehidupan umat Buddha di NTB memiliki semangat persatuan yang terus dijaga.
Mereka hadir bukan hanya untuk mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga untuk memperkuat tali silaturahmi antarsesama umat, bertemu para Bhikkhu Sanggha, para Romo, Pandita, dan Upacarika, serta bersama-sama merawat nilai-nilai luhur Dharma.
Dari Vihara Sattabojangga, semangat tersebut diharapkan terus berkembang menjadi energi positif bagi kehidupan umat Buddha di NTB.
Pesan Penutup Yang Mulia Bhante Upasilo Thera
Sebagai penutup, pesan Yang Mulia Bhante Upasilo Thera dapat dirangkum dalam sebuah ajakan yang sederhana namun mendalam:
“Mari kita jadikan peringatan 50 tahun Sanggha ini bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai awal untuk memperkuat langkah kita ke depan. Jangan hanya bangga dengan sejarah yang telah kita lalui, tetapi jadilah bagian dari sejarah yang baik untuk generasi berikutnya.”
“Rawat vihara, rawat persaudaraan, hormati Sanggha, bina generasi muda, dan yang paling penting, rawat Dharma di dalam diri kita masing-masing. Karena Dharma yang hidup bukan hanya Dharma yang dibicarakan, tetapi Dharma yang terlihat melalui perilaku dan perbuatan.”
“Semoga seluruh umat Buddha di NTB semakin bersatu, semakin dewasa dalam menjalankan kehidupan beragama, saling menghormati, saling menguatkan, dan bersama-sama memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.”
Peringatan Ulang Tahun Sanggha ke-50 dan Pattidana di Vihara Sattabojangga akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah perhelatan keagamaan. Ia menjadi ruang refleksi, penghormatan terhadap perjalanan Sanggha, penguatan persaudaraan umat, sekaligus pesan moral bahwa Dharma harus terus dijaga, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dari Vihara Sattabojangga, Lombok Utara, semangat Dharma dan persaudaraan umat Buddha NTB terus menyala: bersama dalam Dharma, bersatu dalam kebajikan, dan melangkah menuju kehidupan yang damai dan sejahtera. (Red)
