Puskesmas Tanah Jambo Aye Krisis Air Bersih Pasca Banjir Bandang Aceh Utara

Barsela24news.com
Pasien saat mendapatkan perawatan medis di Puskemas Tanah Jambo Aye. (Photo : Ist)

Aceh Utara | Puskesmas Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, hingga kini masih dilanda krisis air bersih yang serius untuk menunjang pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien rawat inap. Kondisi ini terjadi pasca banjir bandang yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Aceh Utara hampir sebulan lalu dan belum Kembali pulih hingga Senin. 22/12/2025.

Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat vital dalam pelayanan medis, mulai dari menjaga kebersihan ruang perawatan, sterilisasi alat kesehatan, hingga kebutuhan sanitasi dan konsumsi pasien. Namun ironisnya, fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi tumpuan ribuan warga di Kecamatan Tanah Jambo Aye justru harus beroperasi dengan keterbatasan sarana air bersih.

Kepala Puskesmas Tanah Jambo Aye, H. Yusri, kepada media ini mengungkapkan bahwa sejak banjir bandang melanda, pihaknya terpaksa mengandalkan air sumur dengan kondisi sangat keruh untuk memenuhi kebutuhan operasional puskesmas. Air tersebut keruh akibat menyerap lumpur banjir dan hanya digunakan secara terbatas untuk kebutuhan yang paling mendesak.

“Sejak PDAM lumpuh akibat banjir bandang, kami hanya mengandalkan air sumur yang kualitasnya jauh dari layak. Airnya sangat keruh dan tentu tidak ideal, apalagi untuk kebutuhan pasien rawat inap,” ujar H. Yusri.

Ia menjelaskan, banjir bandang yang terjadi hampir sebulan lalu tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga merusak parah fasilitas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Instalasi dan jaringan pipa terendam lumpur dan hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki, sehingga pasokan air bersih ke Puskesmas Tanah Jambo Aye terhenti total.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, namun sampai sekarang air PDAM belum bisa mengalir kembali. Kondisi ini sangat mengganggu pelayanan kesehatan,” tambahnya.

Krisis air bersih ini dikhawatirkan berdampak serius terhadap mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Selain mengganggu kebersihan lingkungan puskesmas, keterbatasan air juga berpotensi meningkatkan risiko infeksi, terutama bagi pasien yang membutuhkan perawatan intensif.

Meski berada dalam kondisi serba terbatas, tenaga medis dan seluruh staf Puskesmas Tanah Jambo Aye tetap berupaya maksimal memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Penggunaan air dilakukan secara ketat dan diprioritaskan untuk kebutuhan medis yang paling mendesak agar pelayanan tetap berjalan.

Sejak kembali mengaktifkan layanan rawat inap pasca banjir pada 9 Desember 2025, Puskesmas Tanah Jambo Aye menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan yang masih dapat melayani rawat inap di wilayah timur Aceh Utara. Puskesmas lain seperti Puskesmas Lhok Beringen, Puskesmas Simpang Tiga, dan Puskesmas Langkahan mengalami kerusakan berat akibat banjir dan belum dapat difungsikan.

Akibatnya, seluruh warga terdampak banjir di wilayah timur Aceh Utara terpaksa dirujuk dan dirawat inap di Puskesmas Tanah Jambo Aye, meskipun fasilitas alat kesehatan dan ketersediaan air bersih sangat terbatas. Kondisi ruang rawat inap pun hampir setiap hari penuh oleh pasien korban banjir.

H. Yusri berharap adanya perhatian serius dan langkah cepat dari pemerintah maupun pihak swasta untuk membantu mengatasi krisis air bersih tersebut. Menurutnya, solusi darurat seperti distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, penyediaan toren penampung air, atau percepatan perbaikan PDAM sangat dibutuhkan.

“Kami sangat berharap ada bantuan konkret untuk mengatasi persoalan air bersih ini. Bukan hanya untuk kebutuhan puskesmas, tetapi demi keselamatan dan kesehatan pasien. Jangan sampai pelayanan kesehatan terganggu berkepanjangan akibat masalah yang seharusnya bisa ditangani secara darurat,” pungkasnya.

Krisis air bersih yang dialami Puskesmas Tanah Jambo Aye menjadi gambaran nyata dampak lanjutan banjir bandang Aceh Utara yang belum sepenuhnya tertangani. Pemulihan infrastruktur dasar, khususnya layanan air bersih, menjadi kebutuhan mendesak demi memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal bagi masyarakat terdampak bencana. (Alman)