Saat Pemimpin Diuji, Doa Warga Kota Bahagia Mengalir.

Barsela24news.com

Aceh Selatan — Masyarakat Kecamatan Kota Bahagia menggelar yasinan dan doa bersama di Dayah Hidayatul Anam. Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung tertib dan khidmat, diikuti oleh warga, tokoh masyarakat, serta unsur pimpinan dayah, sebagai bagian dari penguatan nilai religius dan kebersamaan sosial, Senin malam (12/1/2026).

Yasinan dan doa bersama itu menjadi ruang refleksi spiritual bagi masyarakat setempat, khususnya dalam menyikapi dinamika yang tengah dihadapi pemimpin Aceh Selatan. Melalui doa-doa yang dipanjatkan, jamaah berharap agar pemimpin daerah diberikan kekuatan, keteguhan hati, serta petunjuk dalam menghadapi berbagai ujian.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai kegiatan tersebut merupakan wujud tradisi keagamaan yang telah lama mengakar di Aceh, di mana persoalan sosial dan kepemimpinan kerap disikapi dengan pendekatan religius. Menurut mereka, setiap amanah kepemimpinan tidak terlepas dari ujian, baik secara pribadi maupun dalam konteks pemerintahan.

Dalam beberapa waktu terakhir, pemimpin Aceh Selatan menjadi sorotan publik menyusul polemik yang berujung pada sanksi administratif dari kementerian. Polemik tersebut berkaitan dengan pelaksanaan nazar ke Tanah Suci Mekkah pasca kemenangan politik, yang kemudian memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai tindakan tersebut melanggar etika pemerintahan, sementara pihak lain memaknainya sebagai bentuk ekspresi spiritual pribadi.

Namun demikian, masyarakat yang hadir di Dayah Hidayatul Anam memilih menyikapi situasi tersebut dengan pendekatan yang menyejukkan. Mereka menilai doa dan munajat menjadi ikhtiar batin yang tidak bertentangan dengan proses hukum dan administrasi yang sedang berjalan.

“Dalam pandangan kami, pemimpin juga manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan ujian. Selain kritik, doa juga penting agar setiap proses dapat dijalani dengan baik,” ujar Abdullah Yen, salah seorang Warga masyarakat usai kegiatan yasinan.

Sementara itu, pimpinan dayah dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan iman dan amanah. Menurutnya, semakin besar tanggung jawab yang diemban seseorang, maka semakin besar pula tantangan yang dihadapi, baik secara lahir maupun batin.

Secara sosial dan politis, kegiatan yasinan ini mencerminkan sikap masyarakat akar rumput dalam merespons dinamika kepemimpinan daerah. Di tengah perbedaan pandangan dan perdebatan publik, masyarakat memilih menjaga ketenangan, persaudaraan, serta nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.

Kegiatan yasinan dan doa bersama tersebut ditutup dengan munajat yang dipimpin oleh ulama dayah. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian doa hingga selesai. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap Aceh Selatan tetap berada dalam suasana kondusif, serta pemimpin daerah diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap proses yang berjalan. (*)

Laporan: Hartini