Lombok Timur, NTB - Pada hari Senin (09/02/2026), saat melakukan silaturahmi dengan Kepala Desa Pringgasela Induk, awak media barsela24news.com, mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai potensi yang siap mengangkat nama wilayah ini ke tingkat lebih tinggi. Dengan kombinasi daya tarik pariwisata dan produk unggulan berbasis kerajinan lokal, Pringgasela Induk siap menunjukkan wajah baru sebagai destinasi yang menjanjikan.
Dalam sambutan hangat yang disampaikannya, Kepala Desa mengungkapkan bahwa desa memiliki aset berharga yang berada hanya 700 meter dari kantor desa. Sebuah lahan seluas 60 are yang dikelola langsung oleh pemerintah desa telah dibangun menjadi kompleks bungalow dan penginapan dengan konsep "tinggal sambil belajar budaya lokal".
Kompleks ini terdiri dari 8 unit bungalow yang dirancang dengan arsitektur khas daerah, menggunakan bahan bangunan lokal seperti kayu jati dan anyaman bambu. Setiap unit dilengkapi dengan fasilitas dasar yang nyaman, termasuk kamar mandi dalam dan area terbuka untuk menikmati pemandangan sawah dan pegunungan sekitar. Selain itu, pengelola desa juga menyediakan paket wisata yang mencakup aktivitas seperti belajar bertani organik, membuat kerajinan tangan, dan menikmati masakan khas Pringgasela yang dibuat dari bahan lokal segar.
"Semua keuntungan dari pengelolaan bungalow ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa dan membantu program kesejahteraan warga. Kami juga memberikan kesempatan kerja bagi anak muda lokal sebagai petugas pelayanan dan pemandu wisata," jelas Kepala Desa.
Tak hanya pariwisata, kebanggaan desa berupa sarung tenun Pringgasela juga menjadi sorotan utama. Kain tenun yang dibuat secara langsung oleh tangan terampil warga lokal telah meraih pengakuan hingga tingkat nasional dan sering menjadi pilihan oleh berbagai instansi pemerintah serta kolektor kerajinan.
Proses pembuatan sarung ini memakan waktu hingga 2-3 minggu per buah, dimulai dari pemilihan benang katun atau sutra berkualitas tinggi yang kemudian diwarnai dengan bahan alami seperti getah pohon mengkudu, daun pepaya, dan kulit kayu mahoni. Para perajin yang sebagian besar adalah perempuan desa, menggunakan alat tenun tradisional yang disebut "gedogan" yang telah digunakan oleh leluhur mereka selama puluhan tahun. Motif yang dihasilkan pun memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Pringgasela, seperti motif "bunga melati" yang melambangkan kesucian dan "garis sungai" yang melambangkan kelangsungan hidup.
"Sarung tenun Pringgasela bukan hanya produk dagangan, tapi juga warisan budaya yang harus kita jaga dan kembangkan. Saat ini kami sedang bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk mendaftarkan kain tenun ini sebagai produk khas daerah yang terlindungi," tambah salah satu perajin yang ditemui awak media.
"Kami berharap dengan potensi yang ada, Pringgasela Induk bisa menjadi contoh desa yang mandiri dan mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh warganya," pungkas Kepala Desa dalam kesempatan itu.
Laporan: Masykur Hadi
