Sumbawa, 3 April 2026 - Barsela24news | Dr. Suparman, M.Pd. B.I, seorang putra daerah dari Pulau Ngali, Dusun Lab. Terata Desa Lab.Kuris Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, NTB. Meskipun, ia tinggal di Teluk Saleh (Teluk yang dijuluki “Aquarium Dunia”) di bagian Utara Pulau Sumbawa, namun ia mampu membuktikan bahwa tidak ada impian yang terlalu besar jika kita memiliki kerja keras dan kesederhanaan.
Anak seorang nelayan ini telah menjadi contoh inspiratif bagi banyak orang, menunjukkan bahwa asal ada kemauan, jalan menuju kesuksesan selalu terbuka.
Lahir dari keluarga sederhana, Suparman muda tidak pernah membiarkan latar belakangnya menjadi hambatan. Dengan ulet dan tekun, ia mengejar cita-citanya, hingga akhirnya berhasil menjadi seorang doktor di bidang Linguistik di Universitas Udayana Denpasar Bali. Salah satu cabang makro linguistik yang ditekuni adalah kajian tentang ekolinguistik.
Ekolinguistik merupakan salah satu bidang dalam linguistik, khususnya dalam ranah linguistik terapan, yang secara interdisipliner mengkaji hubungan antara bahasa dan lingkungan (ekologi).
Bidang ini mempelajari bagaimana bahasa tidak hanya mencerminkan realitas alam, tetapi juga memiliki peran dalam mempengaruhi bahkan berpotensi merusak ekosistem. Dalam kajiannya, ekolinguistik menyoroti berbagai aspek seperti hubungan antara bahasa dan lingkungan hidup, termasuk bagaimana kosakata, metafora, serta wacana digunakan untuk menggambarkan alam.
Selain itu, ekolinguistik juga menganalisis wacana lingkungan dalam berbagai teks dan media, misalnya narasi tentang hutan, laut, atau polusi. Fokus lainnya adalah keterkaitan antara keanekaragaman bahasa dan keanekaragaman hayati, di mana hilangnya bahasa lokal seringkali diikuti oleh hilangnya pengetahuan ekologis tradisional.
Lebih jauh lagi, ekolinguistik menempatkan bahasa sebagai alat strategis dalam mendorong perilaku yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, ekolinguistik dapat dipahami sebagai cabang linguistik yang menelaah interaksi antara bahasa, manusia, dan lingkungan, serta peran bahasa dalam menjaga maupun merusak keseimbangan ekologi.
Saat ini, Doktor Suparman juga mengabdikan dirinya sebagai salah satu dosen di Universitas Teknologi Sumbawa, NTB, membagi ilmu dan pengalamannya kepada generasi muda. Ia berharap dapat terus menginspirasi dan memotivasi mahasiswa untuk mencapai cita-cita mereka.
Suparman juga menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dalam hidup. "Jika engkau mewariskan harta, maka itu akan habis, tetapi jika engkau mewariskan ilmu, maka itu untuk masa depanmu kelak dan bisa juga diturunkan untuk anak-anak cucumu kelak," ujarnya.
Dengan kesederhanaan dan keramahan, Doktor Suparman telah menjadi panutan bagi banyak orang, membuktikan bahwa kesuksesan tidak hanya tentang gelar, tetapi tentang bagaimana kita berbagi dan menginspirasi orang lain.
Karya ilmiah Doktor Suparman di bidang Ekolinguistik telah banyak dipublikasikan dan mendapatkan pengakuan luas. Ia telah menulis beberapa artikel tentang hubungan antara bahasa dan lingkungan, serta melakukan penelitian tentang bagaimana bahasa dapat digunakan untuk mendukung upaya konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
Diantara karya ilmiahnya yang sudah dipublikasikan antara lain "The Flora and Fauna Lexicons Within The Ama Samawa of Sumbawa Society In Indonesia: Ecolinguistic Perspective” dan "Ecolinguistics and the Preservation of Linguistic Diversity in the Age of Globalization". Karya-karyanya telah menjadi referensi bagi banyak peneliti dan akademisi di bidang linguistik.
Dengan dedikasinya di bidang pendidikan, Dr. Suparman, M.Pd. B.I telah menjadi contoh inspiratif bagi banyak orang, terutama bagi generasi muda di NTB. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, kesederhanaan, dan komitmen, kita dapat mencapai apa saja yang kita impikan. (BR)
