Badan Jalan Irigasi Jambo Aye–Langkahan Terancam Putus, Ribuan Hektare Sawah di Aceh Utara Dibayangi Krisis Air: Normalisasi Dipertanyakan, Siapa Bertanggung Jawab?

Barsela24news.com
Potret jalan tanggul irigasi di Desa Simpang Tiga ketika air meluap pada senin pagi, 29/6/2026. (Photo : Masyarakat)

Barsela24news.com, Aceh Utara – Ancaman terhadap keberlangsungan irigasi di Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye–Langkahan kembali mencuat. Badan jalan yang sekaligus berfungsi sebagai tanggul pengaman saluran primer dilaporkan mengalami penurunan elevasi setelah diterjang banjir besar beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut kini memunculkan kekhawatiran baru. Apabila titik-titik rawan itu jebol, bukan hanya akses jalan yang terputus, tetapi distribusi air menuju ribuan hektare lahan pertanian di Aceh Utara juga berpotensi terganggu.

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan sejumlah titik pada ruas BJA IV hingga BJA V, khususnya di kawasan Desa Simpang Tiga dan Desa Pante Gaki Balee, menjadi lokasi yang paling rentan mengalami pelimpahan air. Saat debit air irigasi ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan musim tanam, air dilaporkan kerap meluap ke badan jalan yang kondisinya telah turun akibat tergerus banjir.

Fenomena tersebut diduga tidak hanya dipicu oleh turunnya badan jalan, tetapi juga oleh sedimentasi yang semakin menumpuk di dasar saluran. Endapan lumpur menyebabkan kapasitas tampung saluran berkurang sehingga aliran air lebih mudah melimpas ketika debit dinaikkan.

Jika kondisi ini tidak segera ditangani secara menyeluruh, dampaknya dapat menjalar ke wilayah layanan irigasi yang cukup luas, meliputi Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pante Bidari, Madat, hingga Simpang Ulim. Kawasan-kawasan tersebut selama ini bergantung pada pasokan air dari jaringan irigasi Jambo Aye untuk menopang produktivitas pertanian.

Persoalan ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan pascabanjir yang telah dilakukan. Masyarakat menilai berbagai pekerjaan yang pernah dikerjakan belum mampu menghilangkan akar persoalan karena sedimentasi masih terlihat di banyak titik, sementara badan jalan tetap berada dalam kondisi rawan.

Tokoh masyarakat setempat, Razali Yusuf, meminta pemerintah dan instansi teknis tidak menunggu hingga tanggul benar-benar jebol sebelum mengambil tindakan.

"Kami berharap pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I segera menangani titik-titik yang sering mengalami pelimpahan air. Kalau dibiarkan, bukan hanya jalan yang rusak, tetapi distribusi air ke lahan pertanian masyarakat juga bisa terganggu," ujarnya.

Razali juga menilai normalisasi saluran irigasi perlu dilakukan kembali secara menyeluruh. Menurutnya, pekerjaan sebelumnya belum mengangkat seluruh sedimentasi karena saat pelaksanaan pintu air masih dibuka sehingga material lumpur terus terbawa arus dan mengendap kembali di dasar saluran.

Ia turut menyoroti kondisi pintu-pintu air yang dinilai banyak mengalami kerusakan. Menurutnya, pintu air yang tidak lagi berfungsi optimal menyulitkan pengaturan debit air, terutama ketika volume air meningkat setelah hujan atau saat kebutuhan irigasi sedang tinggi.

Di sisi lain, Ketua UPI DI Jambo Aye, Setia Budi, mengakui bahwa banjir telah membawa sedimentasi dalam jumlah besar ke jaringan irigasi. Material yang terbawa arus bahkan sempat merusak badan jalan sehingga sebagian lapisan aspal ikut hanyut.

"Pasca banjir, sedimentasi memang sangat banyak. Bahkan sebagian aspal jalan sempat terbawa arus sehingga ketinggian badan jalan mengalami penurunan," katanya pada Senin (29/6/2026).

Menurut Budi, badan jalan yang rusak telah ditimbun kembali menggunakan material oleh pihak yang menangani pekerjaan jalan. Namun ia menegaskan bahwa penanganan badan jalan merupakan kewenangan PJL, bukan Unit Pelaksana Irigasi.

"Untuk persoalan badan jalan, itu merupakan tugas PJL dan tidak masuk dalam tanggung jawab UPI. Meski demikian, kami tetap berkoordinasi dengan pihak terkait agar permasalahan ini dapat segera ditangani," jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pembagian kewenangan antarlembaga. Namun bagi masyarakat, yang lebih penting adalah kepastian penanganan di lapangan agar kerusakan tidak terus meluas. Koordinasi tanpa tindakan cepat dikhawatirkan justru membuat risiko semakin besar ketika musim hujan kembali datang.

Pengamat infrastruktur menilai badan jalan yang juga berfungsi sebagai tanggul irigasi memiliki peran vital. Apabila tanggul mengalami kerusakan atau putus, distribusi air dapat terganggu, sementara biaya rehabilitasi akan jauh lebih besar dibandingkan penanganan dini.

Karena itu, masyarakat berharap dilakukan inspeksi teknis secara menyeluruh terhadap seluruh jaringan Irigasi Jambo Aye–Langkahan, meliputi kondisi badan jalan, sedimentasi saluran, fungsi pintu air, hingga kapasitas tampung saluran primer. Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan langkah rehabilitasi yang terintegrasi sehingga tidak hanya bersifat tambal sulam.

Bagi para petani, persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Jaringan irigasi merupakan urat nadi pertanian yang menentukan keberhasilan musim tanam. Keterlambatan penanganan dapat berujung pada terganggunya pasokan air, menurunnya produktivitas sawah, hingga berdampak pada pendapatan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian di wilayah layanan DI Jambo Aye–Langkahan. (Alman)