Barsela24news.com | Lombok Timur NTB - Munculnya isu bahwa suami almarhumah Niken Hafizah Anggraeni telah mengikhlaskan kepergian istrinya dan berharap persoalan tersebut tidak lagi diperpanjang mendapat tanggapan tegas dari Ketua IT99 Indonesia, Hadiyat Dinata.
Menurut Dinata, sikap pribadi keluarga tidak dapat dijadikan alasan untuk menghentikan upaya mengungkap fakta mengenai kualitas pelayanan publik. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan adanya tekanan terhadap keluarga dan tidak ingin berspekulasi mengenai hal tersebut. Namun, menurutnya, terlepas dari dinamika tersebut, kepentingan publik untuk memperoleh kejelasan atas pelayanan kesehatan tetap harus dijaga.
"Ini bukan lagi sekadar persoalan satu keluarga. Yang sedang dipertanyakan adalah bagaimana sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah menjalankan amanah pelayanan kesehatan. Ketika muncul pertanyaan yang serius mengenai proses pelayanan, maka yang dibutuhkan bukan pembungkaman, melainkan keterbukaan dan pertanggungjawaban," tegas Dinata.
Ia menilai bahwa meninggalnya Niken hanyalah titik awal yang membuka ruang evaluasi terhadap sistem pelayanan kesehatan secara lebih luas. Menurutnya, perhatian publik tidak boleh berhenti pada satu nama, tetapi harus diarahkan pada upaya memastikan bahwa setiap pasien memperoleh pelayanan yang aman, profesional, dan sesuai standar.
"Kasus Niken bukan kami angkat untuk memperpanjang duka keluarga. Kasus ini menjadi pemantik untuk mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan. Bila seluruh prosedur memang telah dijalankan dengan benar, audit akan membuktikannya. Namun bila ditemukan kelemahan sistem, maka negara berkewajiban memperbaikinya. Jangan sampai ada Niken berikutnya."
Dinata mengungkapkan bahwa hasil penelusuran yang dilakukan timnya menemukan sejumlah aspek pelayanan yang menurut mereka layak diperiksa lebih lanjut melalui audit medis dan evaluasi independen. Di antaranya adalah kesiapan menghadapi risiko komplikasi operasi, proses pemantauan pascaoperasi, penanganan ketika kondisi pasien memburuk, hingga mekanisme rujukan. Seluruh aspek tersebut, kata dia, memerlukan penjelasan resmi dari pihak rumah sakit agar tidak menimbulkan spekulasi yang berkepanjangan.
Lebih lanjut, Dinata menyatakan bahwa dukungan untuk mengungkap fakta tidak hanya datang dari masyarakat Lombok Timur yang mengalami pelayanan buruk tetapi juga dari keluarga almarhumah. Ia menyebut ibu Niken secara tegas menyampaikan agar persoalan tersebut tidak dihentikan hanya karena anaknya telah meninggal.
"Semamen jak ndek mele pebelok masalah ne ye ampo ke omehne, aku jak keberatan ke," ungkap ibu almarhumah Niken.
Menurut Dinata, pernyataan tersebut mencerminkan harapan keluarga agar proses pencarian kejelasan tetap berjalan melalui mekanisme yang sah dan objektif.
"Kami menghormati setiap keputusan keluarga. Namun sebagai organisasi pemantau kebijakan publik, kami juga memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong evaluasi terhadap pelayanan publik. Yang kami perjuangkan bukan sensasi, melainkan akuntabilitas. Rumah sakit daerah dibiayai oleh uang rakyat dan karena itu setiap pertanyaan publik yang muncul harus dijawab dengan data, audit, dan transparansi, bukan dengan membiarkan keraguan terus berkembang."
Ia menegaskan bahwa IT99 akan tetap menempuh jalur konstitusional melalui hearing DPRD, permintaan audit, dan mekanisme pengawasan yang berlaku.
"Tujuan akhirnya bukan mencari siapa yang kalah atau menang. Tujuan kami adalah memastikan bahwa setiap pembelajaran dari kasus ini benar-benar menghasilkan perbaikan sistem pelayanan kesehatan. Sebab ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya membangun gedung rumah sakit, tetapi memastikan setiap pasien yang datang memperoleh pelayanan yang aman, bermutu, dan dapat dipertanggungjawabkan."
(Tim/Redaksi)
