Pujawali ke-22 Pura Gaduh Taman Sari Abiantubuh Utara: Bhakti, Gotong Royong, dan Penjagaan Adat Menjadi Satu

Barsela24news.com

Mataram NTB - Abiantubuh Utara, Minggu, 29 Juni 2029 – Purnamaning Sasih Kasa, wuku Langkir menjadi saksi khidmatnya pelaksanaan Pujawali ke-22 Pura Gaduh Taman Sari Abiantubuh Utara. Sejak pagi buta, jalan desa dipenuhi pemedek yang membawa banten ayaban dengan hati penuh suka cita. Suara gamelan baleganjur mengiringi langkah umat menuju merajan agung, menandai dimulainya rangkaian upacara yang sakral dan penuh makna.  

Om Swastiastu  

Pujawali kali ini bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah ruang untuk krama desa adat kembali menyelaraskan diri dengan leluhur, dengan alam, dan dengan sesama. Selama satu hari penuh, para sulinggih memuput upacara dengan runtut, mulai dari mebakti bersama, mapejati, hingga puncak upacara saat purnama naik ke tengah langit Abiantubuh. Asap dupa yang membumbung tinggi membawa doa seluruh krama, memohon kerahayuan jagat, keselamatan desa, dan kesejahteraan untuk setiap rumah tangga.  

Di balik kekhidmatan upacara, ada kerja kolektif yang tidak terlihat oleh banyak pemedek. Panitia Pujawali, sekaa teruna, ibu-ibu PKK, dan pecalang bekerja sejak berhari-hari sebelum hari H. Ada yang menyiapkan penjor, ada yang mengatur dapur umum, ada pula yang memastikan area pura tetap bersih dan tertata. Semangat ngayah ini menjadi cermin bahwa Pura memang rumah bersama, tempat nilai kebersamaan dirawat dari generasi ke generasi.  

Salah satu unsur penting yang menjaga kelancaran adalah pecalang desa adat. Tahun ini, peran tersebut dijalankan dengan sinergi kuat bersama pengurus RT setempat. I Made Mega Yuliantara, S.H., yang dipercaya sebagai Ketua Pecalang sekaligus Ketua RT 04, turun langsung memimpin pengamanan dan penataan kegiatan.  

Sebagai pecalang dan Ketua RT 04, tanggung jawab kami adalah memastikan seluruh pemedek dapat bersembahyang dengan tenang. Kami mengatur arus masuk keluar pura, menjaga keamanan areal upacara, menertibkan parkir kendaraan, dan membantu lansia maupun ibu hamil agar tidak berdesakan. Ini semua kami lakukan sebagai bentuk bakti kepada Ida Bhatara dan sebagai pengabdian kepada krama, ujar I Made Mega Yuliantara, S.H.  

Berkat koordinasi yang rapi antara pecalang, RT, dan panitia, seluruh rangkaian Pujawali berjalan lancar tanpa insiden. Jalur persembahyangan tertib, area suci tetap terjaga kesuciannya, dan suasana desa tetap damai hingga upacara pamerintah ditutup sore hari.  

Ketua Panitia Pujawali menyampaikan bahwa momentum ke-22 ini menjadi pengingat penting. Pura bukan hanya tempat sembahyang, tetapi juga tempat kita belajar menyama braya. Di sinilah kita saling membantu tanpa pamrih, saling mengingatkan, dan saling menguatkan. Di tengah arus zaman yang cepat, tradisi seperti inilah yang membuat Abiantubuh Utara tetap kuat dan bersatu, jelasnya.  

Pujawali ditutup dengan suasana haru dan syukur. Banyak pemedek yang tampak meneteskan air mata saat menerima tirta dan bija, sebagai simbol penyucian diri. Udara sore yang sejuk dan langit yang cerah seakan menjadi restu bahwa yadnya tahun ini diterima dengan baik.  

Panitia Pujawali ke-22 menghaturkan suksma mewali yang setulus-tulusnya kepada seluruh krama, pemedek, donatur, TNI-Polri, pecalang, dan semua pihak yang telah membantu. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan kerahayuan dan perlindungan kepada kita semua.  

(Made Mega)