Sampah Menumpuk Sumbat Pintu Intake, Bendungan Irigasi Jambo Aye-Langkahan Kembali Krisis Pasokan Air

Barsela24news.com
Kondisi pintu intake Bendungan Irigasi Jambo Aye-Langkahan hari ini Selasa, 30/6/2026. (Photo: Ist)

ACEH UTARA I Baru sehari menikmati kondisi surplus air, Bendungan Irigasi Jambo Aye-Langkahan kembali menghadapi krisis pasokan air akibat tumpukan sampah yang menyumbat pintu utama pengambilan air (intake) irigasi.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu distribusi air ke ribuan hektare areal persawahan yang selama ini bergantung pada jaringan Irigasi Jambo Aye-Langkahan, terutama di tengah tingginya kebutuhan air untuk mendukung aktivitas pertanian.

Kepala Ranting Panton Labu Irigasi Jambo Aye-Langkahan, M. Hasan, SE, kepada media ini, Selasa, 30/6/2026, mengatakan gangguan pasokan air terjadi setelah berbagai jenis sampah, kayu, dan limbah yang terbawa arus sungai menumpuk di pintu intake utama bendungan.

“Padahal baru satu hari kondisi air surplus. Namun sekarang kembali mengalami kekurangan pasokan air karena pintu utama pengambilan air tersumbat sampah yang terbawa arus sungai,” ujar Hasan.

Menurutnya, tumpukan sampah tersebut menghambat aliran air yang masuk ke saluran irigasi sehingga debit air yang disalurkan ke jaringan irigasi mengalami penurunan signifikan. Akibatnya, distribusi air ke sejumlah daerah layanan irigasi ikut terdampak.

Hasan menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi bendungan dan berencana segera melakukan pembersihan. Namun upaya tersebut masih terkendala tingginya debit air sungai yang dinilai berisiko terhadap keselamatan petugas.

“Untuk saat ini kami masih menunggu debit air sungai turun. Jika dipaksakan melakukan pembersihan sekarang, arus sungai masih cukup deras dan dapat membahayakan petugas yang harus turun langsung membersihkan sumbatan di pintu air,” katanya.

Ia menegaskan bahwa faktor keselamatan menjadi prioritas utama sebelum pekerjaan pembersihan dilakukan. Setelah kondisi sungai memungkinkan, tim akan segera diterjunkan untuk mengangkat sampah yang menumpuk agar aliran air kembali normal.

Hasan mengungkapkan, persoalan sampah yang menyumbat bendungan bukanlah hal baru. Sebelum banjir besar yang melanda kawasan tersebut pada akhir tahun lalu, pembersihan sampah umumnya dilakukan satu kali dalam sebulan. Namun pascabanjir, frekuensi pembersihan meningkat drastis menjadi empat hingga lima kali setiap bulan.

“Belum selesai sampah dibersihkan dan air mengalir ke jaringan bagian hilir, sampah kembali menumpuk di pintu intake utama, terutama ketika debit sungai naik akibat hujan di daerah hulu. Sampah kayu, ranting, dan berbagai limbah lainnya terus terbawa arus dan menumpuk kembali,” jelasnya.

Menurut Hasan, kondisi jaringan Irigasi Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye-Langkahan pascabanjir belum sepenuhnya pulih seperti kondisi normal sebelumnya. Karena itu, ia berharap para petani dapat memahami berbagai kendala yang sedang dihadapi dalam pengelolaan irigasi.

“Kami berharap masyarakat tani yang berada di sembilan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Timur dapat memaklumi kondisi irigasi saat ini. Kami terus berupaya maksimal agar distribusi air tetap berjalan,” ujarnya.

Selain itu, Hasan juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Menurutnya, rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan sungai menjadi salah satu penyebab utama terganggunya operasional bendungan dan jaringan irigasi setiap kali debit sungai meningkat.

Sementara itu, para petani berharap penanganan dapat segera dilakukan mengingat pasokan air sangat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan tanaman padi. Mereka khawatir apabila krisis air berlangsung dalam waktu lama, produktivitas pertanian di wilayah layanan Irigasi Jambo Aye-Langkahan akan terganggu.

Hingga berita ini diturunkan, petugas masih terus memantau perkembangan debit air sungai sambil menyiapkan langkah pembersihan begitu kondisi dinilai aman. Dengan kembali normalnya pintu intake bendungan, distribusi air irigasi diharapkan dapat pulih sehingga kebutuhan air bagi petani kembali terpenuhi. (Alman)