Lombok Timur, NTB — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lombok Timur terus memperluas jangkauan pengumpulan zakat dengan strategi “jemput bola” guna mengoptimalkan potensi dari sektor informal dan pertanian yang selama ini belum terkelola secara maksimal. Langkah nyata diwujudkan melalui pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UMKM Sunrise Point di kawasan Labuan Haji sekaligus sosialisasi khusus zakat pertanian bagi para petani kelapa, yang digelar secara serentak pada Kamis (2/7).
Ketua BAZNAS Lombok Timur, H. Muhammad Kamli, menegaskan bahwa kehadiran UPZ bukan sekadar upaya mengumpulkan dana, melainkan membangun siklus kebaikan yang berkelanjutan bagi perekonomian lokal. “Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, melainkan instrumen keadilan sosial. Dana yang terkumpul dari pelaku usaha akan dikelola secara transparan dan dikembalikan kembali dalam bentuk program pemberdayaan, bantuan modal, serta pendampingan usaha agar UMKM makin tumbuh dan mampu menyerap tenaga kerja,” ujarnya.
Di sisi lain, BAZNAS juga memperkenalkan tata cara perhitungan dan penyaluran zakat hasil perkebunan kelapa sebagai komoditas andalan daerah. Selama ini, sebagian besar petani masih menyalurkan bantuan secara pribadi yang sulit diukur dampaknya. Melalui edukasi ini, diharapkan kebiasaan tersebut beralih ke saluran resmi agar penyaluran lebih teratur, merata, dan tepat sasaran bagi keluarga kurang mampu serta pelaku usaha mikro yang membutuhkan dukungan.
“Kelapa adalah emas hijau Lombok Timur. Jika potensi zakatnya dikelola dengan baik, manfaatnya bisa terasa luas: memperkuat ekonomi petani, membantu sesama, sekaligus menjaga keseimbangan sosial. Semakin besar potensi yang dikelola, semakin besar pula manfaatnya bagi kemajuan daerah,” tambah H. Kamli.
Untuk menjamin kepercayaan publik, BAZNAS Lotim terus mengembangkan sistem BAZNAS Smart yang memudahkan pengecekan laporan pengumpulan dan penyaluran secara daring. Transparansi ini menjadi kunci agar muzaki merasa tenang, sementara mustahik menerima haknya secara layak dan terukur.
Langkah ini mendapat apresiasi dari pelaku usaha dan kelompok tani. “Sekarang lebih mudah dan terjamin. Kami tidak perlu bingung lagi menyalurkan zakat, dan yakin bahwa dana tersebut akan kembali bermanfaat bagi kemajuan daerah,” ujar salah satu pengusaha kuliner di kawasan Sunrise Point.
Dengan sinergi yang terbangun dari hulu pertanian hingga hilir usaha mikro, BAZNAS Lotim ingin membuktikan bahwa zakat dapat menjadi pendorong utama pemerataan ekonomi, sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal yang dimiliki Lombok Timur.
Laporan: Bagoes
