Aksi Heroik Bripka Agus Salim: Saat Polisi Menjadi Keluarga bagi Mereka yang Tak Punya Siapa-Siapa

Barsela24news.com

Barsela24news.com Lombok Timur, NTB, 22 Agustus 2026 - Di saat sebagian orang memilih berjalan melewati mereka yang sedang terpuruk, Bripka Agus Salim justru berhenti.

Bukan karena mengenal mereka. Bukan pula karena ada imbalan yang menanti. Ia berhenti karena melihat manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Di wilayah hukum Polsek Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, nama Bripka Agus Salim mungkin tidak dikenal luas seperti pejabat atau tokoh publik. Namun bagi orang-orang terlantar, warga sakit tanpa keluarga, hingga mereka yang meninggal dunia tanpa sanak saudara, sosoknya justru menjadi tempat berharap.

Sejak awal 2026, Bripka Agus secara rutin melakukan aksi sosial di luar tugas pokoknya sebagai anggota Polri. Ia membantu warga sakit, mengantar pasien menggunakan ambulans pribadinya, mengevakuasi orang terlantar, membantu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), bahkan ikut mengurus jenazah yang tidak memiliki keluarga.
Semuanya dilakukan tanpa memungut biaya.

Kisah Abdurrahim: Dari Gerobak Bakso hingga Peristirahatan Terakhir
Kisah itu mencuat sekitar Maret 2026.
Seorang perantau asal Jawa Tengah bernama Abdurrahim, yang sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan pentol bakso keliling, datang dalam kondisi mengenaskan.

Kecelakaan membuat air kuah bakso yang sedang mendidih tumpah ke tubuhnya. Luka bakar parah memenuhi sebagian tubuhnya. Dalam kondisi kritis, Abdurrahim tidak hanya menghadapi rasa sakit, tetapi juga kenyataan bahwa ia berada jauh dari kampung halaman dan tidak memiliki keluarga yang bisa mendampingi.

Di tengah situasi itu, Bripka Agus Salim turun tangan. Abdurrahim dibawa ke RSUD Selong untuk mendapatkan perawatan intensif. Selama kurang lebih dua minggu, Agus terus memantau kondisinya. Ia berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan memastikan pasien yang nyaris tidak memiliki siapa-siapa itu tetap mendapatkan perawatan.

Namun manusia memiliki batas, sementara takdir berkata lain. Luka bakar yang terlalu parah akhirnya merenggut nyawa Abdurrahim.

Ketika keluarga tidak berada di sisinya, Bripka Agus kembali hadir. Ia membantu mengurus administrasi kematian hingga proses pemakaman. Bersama masyarakat, ia memastikan jenazah Abdurrahim diperlakukan secara layak.

Bahkan setelah pemakaman, kepeduliannya belum berhenti. Ia ikut menghadiri rangkaian zikir bersama warga hingga hari kesembilan.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Bripka Agus juga membelikan seekor kambing untuk acara yang disebut sebagai aqiqah bagi almarhum, karena semasa hidup Abdurrahim belum sempat melaksanakannya.

Bagi sebagian orang, mungkin kisah itu berakhir ketika tanah menutup liang lahat. Namun bagi Agus, kemanusiaan tidak berhenti di sana.
Zaenudin: Ketika Sakit Datang Bersamaan dengan Kesendirian
Belum selesai kisah duka tersebut, laporan kembali datang.

Kali ini seorang pria bernama Zaenudin, warga asal Sumbawa Besar, sedang menjalani perawatan di Puskesmas Labuan Lombok.
Kondisinya memprihatinkan. Ia menderita pembengkakan jantung yang membuat seluruh tubuhnya ikut membengkak. Kondisinya semakin lemah.

Masalahnya bukan hanya penyakit. Zaenudin tidak memiliki keluarga yang mendampingi. Ia juga tidak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan pengobatan.

Sekali lagi, Bripka Agus datang. Ia mendatangi puskesmas dan membantu proses administrasi agar Zaenudin dapat dirujuk ke RSUD Selong.

Ironisnya, pada saat yang sama kondisi kesehatan Bripka Agus sendiri sedang tidak baik.
Namun ia tetap memilih memastikan Zaenudin tidak menghadapi sakit seorang diri.

Karena tidak mungkin terus berada di rumah sakit, Agus bahkan menyewa seseorang untuk menjaga dan menemani Zaenudin selama menjalani perawatan.

Sekitar 12 hari kemudian, kondisi Zaenudin semakin memburuk. Ia akhirnya meninggal dunia.
Dan sekali lagi, ketika tidak ada keluarga yang datang mengurus, Bripka Agus mengambil peran.

Bersama masyarakat sekitar, ia membantu menyiapkan kebutuhan pemakaman hingga Zaenudin dimakamkan secara layak.

Dua orang berbeda. Dua kisah berbeda. Tetapi memiliki satu persamaan: keduanya pernah berada di titik ketika dunia seakan tidak memiliki tempat bagi mereka.

Dan di titik itulah Bripka Agus hadir. Ambulans Pribadi untuk Mereka yang Tidak Mampu. Bagi Bripka Agus, dua kisah tersebut bukanlah kejadian pertama.

Hampir setiap minggu, ia masih melakukan kegiatan serupa.
Dengan ambulans milik pribadi, ia mengantar warga sakit menuju RSUD Selong maupun RSUP di Mataram.

Tidak ada tarif.
Tidak ada pungutan.
Tidak ada syarat harus membayar terlebih dahulu.

Bagi mereka yang tidak mampu, yang penting adalah sampai di rumah sakit.

Bahkan ketika menemukan orang terlantar di jalan, ia tidak sekadar melapor dan meninggalkannya.
ODGJ yang terlantar kerap ia evakuasi dan dibawa ke RS Mutiara Sukma Mataram untuk mendapatkan penanganan.

Jika identitas dan alamat keluarganya masih diketahui, ia bahkan bersedia mengantarkan orang tersebut kembali kepada keluarganya.

Perantau Kehabisan Uang Pun Tak Luput dari Perhatiannya
Kepedulian itu juga muncul dari hal-hal kecil.

Di perjalanan, Agus beberapa kali menemukan perantau yang kehabisan bekal dan uang.
Bagi orang yang sedang berada jauh dari kampung halaman, kehabisan uang bukan sekadar persoalan tidak bisa makan.

Itu bisa berarti tidak mampu membeli tiket pulang. Bripka Agus menggunakan uang pribadinya untuk membantu ongkos mereka kembali ke kampung halaman, baik ke Pulau Jawa maupun Pulau Sumbawa.
Mungkin nilainya tidak besar.

Tetapi bagi orang yang sedang berada dalam kondisi paling sulit, ongkos perjalanan pulang bisa berarti sangat besar.
Polisi yang Hadir Ketika Tidak Ada yang Datang
Seorang warga Pringgabaya menggambarkan sosok Agus dengan sederhana.

“Pak Agus itu sudah seperti saudara. Kalau ada orang susah, orang sakit, atau meninggal tidak ada keluarganya, pasti beliau yang duluan bergerak.”

Kalimat itu mungkin sederhana. Namun di baliknya ada gambaran tentang fungsi kepolisian yang tidak selalu terlihat dalam seragam, kendaraan dinas, maupun kegiatan penegakan hukum.

Kapolsek Pringgabaya turut menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi anggotanya dan berharap apa yang dilakukan Bripka Agus dapat menjadi contoh bagi anggota Polri lainnya.

Sebab menjadi polisi bukan hanya tentang menegakkan aturan.
Ada sisi lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: menjadi pelindung ketika seseorang ketakutan, menjadi pengayom ketika seseorang kehilangan tempat berlindung, dan menjadi manusia bagi mereka yang sedang kehilangan harapan.

Di tengah hiruk-pikuk persoalan sosial, Bripka Agus Salim memilih jalan yang mungkin tidak selalu terlihat kamera. Ia memilih berhenti ketika orang lain berjalan. Ia memilih membantu ketika orang lain hanya melihat.
Ia memilih mengantar ketika orang lain meninggalkan.

Dan ketika seseorang yang tidak memiliki keluarga akhirnya meninggal dunia, ia memastikan orang itu tetap memiliki seseorang yang mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir.

Bagi warga terlantar di Lombok Timur, Bripka Agus bukan sekadar seorang polisi. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada manusia yang bersedia berkata: “Kamu tidak sendirian.”. (BR)