HEBOH! HAFAL SURAH AD-DHUHA DAPAT 1 BOTOL MIRAS — AYAT SUCI DIDUGA DIJADIKAN GIMMICK PROMOSI

Barsela24news.com

TERJADI DI THE SOUNDS PROJECT ANCOL, PUBLIK DESAK PENJELASAN: SIAPA PEMBUAT CHALLENGE?

Barsela24news.com | Jakarta — Sebuah video yang memperlihatkan challenge hafalan Surah Ad-Dhuha dengan hadiah berupa satu botol minuman beralkohol menghebohkan publik.

Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, saat festival musik The Sounds Project berlangsung di kawasan Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta.

Video yang beredar di media sosial itu kemudian memicu gelombang kecaman. Bukan hanya karena hadiah yang ditawarkan berupa minuman beralkohol, tetapi karena ayat suci Al-Qur'an disebut ditempatkan sebagai bagian dari sebuah permainan atau gimmick yang berujung pada pemberian minuman keras.

Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Ketika ayat suci dijadikan materi challenge dan miras dijadikan hadiahnya, publik pun bertanya: apakah ini sekadar promosi, kelalaian pengawasan, atau bentuk kreativitas yang sudah kebablasan?

HAFAL AD-DHUHA, HADIAHNYA MIRAS

Dalam video yang viral, peserta tampak mengikuti tantangan yang berkaitan dengan hafalan Surah Ad-Dhuha.

Jika peserta berhasil menyelesaikan tantangan tersebut, hadiah yang dikaitkan dengan aktivitas itu adalah satu botol minuman beralkohol.

Konsep inilah yang kemudian menjadi pusat kontroversi.

Surah Ad-Dhuha bukan sekadar rangkaian kata untuk dijadikan permainan. Surah tersebut merupakan bagian dari Al-Qur'an dan memiliki kedudukan sakral bagi umat Islam.

Karena itu, ketika hafalan surah tersebut ditempatkan dalam sebuah challenge promosi produk beralkohol, pertanyaan mengenai etika, kepatutan, dan batas kreativitas pemasaran tidak bisa dihindari.

BUKAN LAGI SOAL SEBOTOL MIRAS

Polemik ini tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menerima hadiah.

Persoalan utamanya adalah mengapa ayat Al-Qur'an bisa muncul dalam mekanisme sebuah promosi minuman beralkohol di ruang publik.

Jika benar aktivitas tersebut merupakan bagian dari promosi, siapa yang menyusun konsepnya?

Jika bukan bagian dari promosi resmi, siapa yang membuat dan menjalankannya?

Dan jika aktivitas tersebut berlangsung tanpa persetujuan pihak terkait, mengapa pengawasan di lokasi tidak segera menghentikannya?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena peristiwa berlangsung di tengah festival musik yang melibatkan banyak pihak, termasuk penyelenggara, pengisi acara, vendor, sponsor, serta kru lapangan.

PENYELENGGARA DAN BRAND BERI KLARIFIKASI

Setelah video tersebut viral, pihak penyelenggara The Sounds Project menyatakan aktivitas tersebut bukan bagian dari konsep atau arahan resmi acara yang mereka setujui.

Sementara pihak Newport juga menyampaikan permintaan maaf dan menyebut aktivitas tersebut bukan program atau konsep promosi resmi perusahaan.

Pihak brand menyatakan aktivitas tersebut berlangsung secara spontan di lokasi dan mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan.

Namun, klarifikasi tersebut justru membuka pertanyaan baru:

Jika memang bukan program resmi, siapa yang bertanggung jawab atas aktivitas tersebut?

Siapa yang menyediakan hadiah?

Siapa yang memberikan izin menggunakan area booth?

Dan mengapa aktivitas tersebut bisa berlangsung hingga direkam dan menyebar luas di media sosial?

Publik tentu tidak cukup hanya diberi jawaban bahwa semuanya terjadi secara spontan.

DPR SOROT KERAS

Kontroversi tersebut turut mendapat perhatian Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq.

Sorotan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini telah bergeser dari sekadar konten viral menjadi perdebatan mengenai penghormatan terhadap simbol dan nilai keagamaan dalam kegiatan komersial.

Ruang kreativitas memang luas.

Tetapi kreativitas bukan berarti bebas menggabungkan apa saja demi mengejar perhatian publik.

Apalagi jika yang digunakan sebagai bagian dari gimmick adalah ayat suci Al-Qur'an, sementara produk yang menjadi hadiah adalah minuman beralkohol.

POLISI DIMINTA BONGKAR SIAPA DI BALIK CHALLENGE

Peristiwa tersebut juga telah mendapat perhatian aparat penegak hukum setelah muncul laporan terkait video yang beredar.

Pendalaman menjadi penting untuk memastikan fakta sebenarnya:

Siapa penggagasnya?

Siapa pelaksananya?

Siapa yang menyediakan hadiahnya?

Apakah ada hubungan dengan strategi promosi?

Apakah penyelenggara mengetahui kegiatan tersebut?

Dan apakah ada pihak yang sengaja menggunakan unsur agama untuk menarik perhatian pengunjung?

Semua pertanyaan tersebut harus dijawab berdasarkan fakta dan bukti, bukan sekadar asumsi.

PUBLIK PANTAS MENDAPAT JAWABAN

Kasus ini menyisakan sejumlah pertanyaan yang kini menjadi sorotan:

Siapa pembuat konsep challenge hafalan Surah Ad-Dhuha?

Apakah aktivitas tersebut merupakan bagian dari promosi Newport?

Siapa yang menentukan hadiah satu botol minuman beralkohol?

Apakah pihak penyelenggara mengetahui aktivitas tersebut?

Apakah vendor atau kru booth memiliki kewenangan membuat challenge sendiri?

Bagaimana standar pengawasan terhadap aktivitas promosi di festival?

Apakah ada evaluasi internal setelah video tersebut viral?

Apakah ada pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban?

Jawaban atas pertanyaan tersebut penting untuk menghindari kesan bahwa persoalan ini dapat selesai hanya dengan permintaan maaf.

KETIKA AYAT SUCI BERTEMU GIMMICK KOMERSIAL

Kasus ini akhirnya memunculkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar satu botol minuman beralkohol.

Bagaimana seharusnya batas etika promosi ditarik ketika simbol agama digunakan untuk menarik perhatian konsumen?

Sebab dalam dunia pemasaran, viral memang menguntungkan.

Tetapi tidak semua yang viral dapat dibenarkan.

Dan tidak semua kreativitas layak dipertontonkan di ruang publik.

Kini publik menunggu penjelasan yang lebih terang mengenai apa sebenarnya yang terjadi pada 9 Agustus 2026 di The Sounds Project.

HAFAL SURAH AD-DHUHA, DAPAT 1 BOTOL MIRAS.

CHALLENGE SIAPA? PROMOSI SIAPA? IZIN SIAPA? DAN SIAPA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini menunggu jawaban.

Redaksi