Lombok Timur, NTB — Gelombang musibah kebakaran bertubi-tubi melanda wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, dalam kurun waktu belakangan ini. Satu per satu si jago merah mengamuk di berbagai titik, mulai dari Kota Mataram, kawasan wisata ikonik Desa Adat Sade, hingga Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani di Lombok Timur. Rangkaian peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.
Rangkaian kebakaran bermula di Kota Mataram, tepatnya pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 18.19 WITA, ketika sebuah ruko di Jalan Bung Karno, Petemon, Pagutan, dilalap api hebat. Peristiwa itu merusak parah bagian depan bangunan dan menimbulkan kerugian sekitar Rp300 juta, serta menyebabkan satu orang mengalami luka bakar . Tak lama berselang, pada Sabtu (22/8/2026) malam sekitar pukul 22.00 WITA, kebakaran dahsyat kembali melanda kawasan bersejarah Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Api yang diduga bermula dari salah satu rumah dengan cepat menjalar menghanguskan sekitar 120–150 rumah adat Suku Sasak, memaksa ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian . Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah pun segera menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk penanganan musibah tersebut .
Kemudian pada Minggu (23/8/2026) malam sekitar pukul 19.00 WITA, giliran lingkungan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur yang dilanda musibah. Asrama santri Madrasah Aliyah (MA) Muallimin NW Anjani terbakar hebat, dengan sedikitnya empat lokal ruang asrama hangus dilalap api. Petaka berawal saat kobaran api dan asap pekat mendadak membumbung tinggi dari atap salah satu blok asrama, memecah kesunyian malam dan memicu kepanikan warga sekitar. Ratusan warga bersama pengurus pondok segera berhamburan ke lokasi, berjuang dengan peralatan seadanya untuk menahan laju api sebelum armada Dinas Pemadam Kebakaran tiba dan berhasil memadamkan kobaran api secara menyeluruh.
Kapolsek Suralaga, Iptu Lalu Masoan, membenarkan peristiwa tersebut dan menjelaskan bahwa penyebab awal kebakaran diduga kuat berasal dari gangguan arus pendek listrik. Kabar yang paling melegakan dari seluruh rangkaian musibah ini adalah tidak adanya korban jiwa — di Pondok Pesantren NW Anjani khususnya, para santri sedang menjalani masa libur sekolah sehingga asrama dalam keadaan kosong saat api mengamuk.
"Yang terbakar adalah perlengkapan santri yang tersimpan di asrama. Kerugian materi cukup besar, sejumlah perabot, kasur, lemari, dan fasilitas asrama lainnya ikut hangus. Namun syukurlah, tidak ada satu pun santri atau warga yang terluka dalam peristiwa ini," terang Iptu Masoan.
Hingga saat ini, aparat kepolisian bersama pihak pengurus madrasah dan pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk melakukan penyelidikan mendalam guna menelusuri penyebab pasti kebakaran serta mendata total kerusakan dan kerugian secara rinci. Beruntung di tengah rentetan musibah kebakaran beruntun yang melanda NTB ini, tidak ada korban jiwa yang berjatuhan , semoga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk senantiasa waspada terhadap kelistrikan dan potensi bahaya kebakaran, serta saling bergotong-royong membantu para korban agar dapat segera membangun kembali tempat tinggal dan fasilitas mereka dengan lebih baik dan aman.
Laporan : Bagoes
