Barsela24news.com - Lombok Timur NTB – Pemerintah pusat menempatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program unggulan nasional. Program ini bukan sekadar memberikan makanan kepada peserta didik, tetapi dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tujuan besarnya sangat ambisius, yaitu meningkatkan status gizi masyarakat, mengurangi gizi buruk, mencegah stunting, meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan konsentrasi belajar anak, sekaligus mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Kelompok sasaran program ini pun sangat luas. Selain peserta didik mulai dari PAUD hingga SMA/sederajat, MBG juga menyasar kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Ketiga kelompok ini dipilih karena masa kehamilan hingga usia dua tahun pertama kehidupan anak merupakan periode paling krusial dalam mencegah stunting.
Di Kabupaten Lombok Timur, pelaksanaan MBG terus mengalami perluasan. Hingga Juli 2026, tercatat 262 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG telah beroperasi. Ratusan dapur tersebut melayani sekitar 550 ribu penerima manfaat, yang terdiri atas peserta didik dan kelompok 3B. Jumlah tersebut menunjukkan Lombok Timur menjadi salah satu daerah dengan cakupan pelaksanaan MBG terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Namun, di balik masifnya pembangunan dapur MBG dan besarnya cakupan penerima manfaat, muncul sebuah pertanyaan yang semakin menguat di tengah masyarakat: mengapa Lombok Timur masih menjadi kabupaten dengan angka stunting tertinggi di NTB?
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, prevalensi stunting masih berada di angka 22,39 persen berdasarkan data konsolidasi akhir 2025 yang hingga kini masih menjadi acuan pemerintah pada 2026. Pada awal 2026, pemerintah daerah juga mencatat 545 kasus baru stunting yang memerlukan intervensi lanjutan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting belum sepenuhnya dapat dikendalikan.
Status Lombok Timur sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di NTB tentu menjadi perhatian serius. Sebab, salah satu indikator keberhasilan utama Program Makan Bergizi Gratis adalah membaiknya status gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan yang menjadi sasaran program.
Masyarakat tentu tidak berharap keajaiban terjadi dalam hitungan minggu atau bulan. Para ahli gizi pun sepakat bahwa stunting merupakan persoalan yang sangat kompleks. Penyebabnya tidak hanya berkaitan dengan kurangnya makanan bergizi, tetapi juga dipengaruhi oleh kesehatan ibu sejak sebelum hamil, kualitas pelayanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, sanitasi lingkungan, akses air bersih, penyakit infeksi berulang, hingga kondisi ekonomi keluarga.
Karena itu, keberadaan 262 dapur MBG memang tidak otomatis menurunkan angka stunting. Program tersebut memerlukan waktu, ketepatan sasaran, kualitas menu yang sesuai standar gizi, serta sinergi dengan berbagai program kesehatan lainnya.
Meski demikian, publik memiliki hak untuk mempertanyakan efektivitas program. MBG merupakan program nasional dengan dukungan anggaran yang sangat besar. Oleh karena itu, keberhasilannya semestinya tidak hanya diukur dari jumlah dapur yang dibangun, banyaknya tenaga kerja yang direkrut, atau jutaan porsi makanan yang dibagikan setiap hari. Ukuran keberhasilan yang paling penting adalah apakah kondisi kesehatan masyarakat benar-benar berubah dan apakah angka stunting berhasil ditekan secara nyata.
Hingga akhir Juni 2026, belum ada publikasi resmi yang menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Lombok Timur telah menurun sebagai dampak pelaksanaan MBG. Kondisi ini tentu tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa program tersebut gagal.
Namun, di sisi lain, juga belum terdapat dasar yang cukup untuk mengklaim bahwa MBG telah berhasil menekan angka stunting di Lombok Timur.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi yang terbuka dan berbasis data. Pemerintah perlu menyampaikan kepada publik bagaimana perkembangan status gizi penerima manfaat MBG, bagaimana perubahan kondisi balita dan ibu hamil yang menjadi sasaran, serta bagaimana kontribusi program ini terhadap penurunan angka stunting dibandingkan sebelum program dijalankan.
Transparansi menjadi sangat penting karena MBG bukan sekadar program pembagian makanan. Program ini merupakan investasi negara yang menyerap anggaran dalam jumlah besar dan diharapkan mampu memutus rantai stunting yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan nasional.
Bagi masyarakat Lombok Timur, keberhasilan MBG bukan diukur dari banyaknya dapur yang berdiri atau panjangnya daftar penerima manfaat. Yang paling dinantikan adalah perubahan nyata: semakin sedikit balita yang mengalami stunting, semakin banyak ibu hamil yang melahirkan bayi sehat, dan semakin baik kualitas gizi generasi muda.
Selama Lombok Timur masih menyandang status sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di NTB, pertanyaan mengenai efektivitas Program Makan Bergizi Gratis akan terus mengemuka.
Jawaban atas pertanyaan itu tidak cukup disampaikan melalui seremoni, angka pembangunan dapur, atau besarnya anggaran yang telah digelontorkan. Jawaban sesungguhnya hanya bisa diberikan melalui data yang menunjukkan bahwa angka stunting benar-benar turun dan kualitas hidup masyarakat benar-benar meningkat.
Laporan: (Bagoes)
