Jembatan Enang-Enang di Aceh Dibangun dari Swadaya Rakyat: Ketika Gotong Royong Menutupi Lambannya Kehadiran Negara

Barsela24news.com

Barsela24news.com | Aceh – Jembatan Enang-Enang bukan sekadar infrastruktur yang menghubungkan dua wilayah. Hari ini, ia menjadi simbol yang lebih besar: tentang ketangguhan rakyat yang memilih bangkit ketika akses kehidupan mereka terputus akibat bencana.

Banjir bandang dan longsor yang menerjang Kabupaten Bener Meriah pada akhir 2025 merusak Jembatan Enang-Enang, memutus jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Pintu Rime Gayo dengan wilayah sekitarnya. Selama berbulan-bulan, aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan terganggu karena akses transportasi lumpuh.

Namun di tengah keterbatasan itu, masyarakat memilih tidak menunggu. Mereka bergotong royong menggalang dana, menyumbangkan tenaga, mengerahkan alat berat, dan membeli material untuk membuka kembali akses jembatan.

Yang paling menyita perhatian adalah besarnya partisipasi masyarakat. Melalui patungan warga, berhasil terkumpul dana sekitar Rp1 miliar yang digunakan untuk membangun kembali akses Jembatan Enang-Enang. Dana tersebut berasal dari sumbangan masyarakat, tokoh adat, pelaku usaha, para perantau asal Gayo, serta berbagai pihak yang tergerak membantu agar roda kehidupan masyarakat kembali berjalan.

Nominal tersebut menjadi bukti bahwa solidaritas masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata ketika kebutuhan mendesak harus segera dipenuhi. Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan publik: mengapa masyarakat harus mengumpulkan dana hingga Rp1 miliar untuk membangun kembali akses yang sejatinya merupakan bagian dari infrastruktur publik?

Gotong royong adalah warisan luhur bangsa Indonesia. Namun, gotong royong tidak seharusnya menjadi pengganti kehadiran negara dalam menjamin pelayanan dasar masyarakat, terutama pemulihan infrastruktur strategis pascabencana.

Pemerintah melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh telah menyatakan pembangunan jembatan permanen masuk dalam program tahun 2027. Sementara itu, akses hasil swadaya masyarakat digunakan sebagai solusi sementara dengan pembatasan bagi kendaraan berat demi alasan keselamatan.

Jembatan Enang-Enang kini berdiri bukan hanya sebagai penghubung antardesa, tetapi juga sebagai monumen gotong royong rakyat. Ia menjadi bukti bahwa ketika masyarakat bersatu, persoalan besar dapat diatasi. Namun, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa kecepatan respons terhadap infrastruktur vital pascabencana masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperbaiki.

Peristiwa ini layak menjadi evaluasi nasional. Semangat gotong royong patut diapresiasi, tetapi negara juga dituntut hadir lebih cepat, lebih tanggap, dan lebih efektif dalam memastikan masyarakat tidak harus memikul sendiri beban pemulihan infrastruktur publik.

Jembatan Enang-Enang akhirnya menjadi dua wajah sekaligus: simbol kekuatan solidaritas rakyat dan cermin bahwa percepatan pembangunan infrastruktur pascabencana masih menjadi tantangan yang harus dijawab oleh pemerintah. (Red)