Warga Aceh Selatan Minta Pemerintah Perhatikan Perasaan Anak Yatim dalam Gerakan Antar Anak ke Sekolah

Barsela24news.com

Aceh Selatan – Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang digagas untuk memperkuat peran keluarga dalam dunia pendidikan mendapat perhatian dari masyarakat. Selain dinilai sebagai program yang positif, pemerintah juga diharapkan memperhatikan kondisi psikologis anak-anak yatim maupun mereka yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

Harapan tersebut disampaikan salah seorang warga Aceh Selatan, Raja Muda. Menurutnya, gerakan mengantar anak ke sekolah merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Namun, pelaksanaannya juga perlu mempertimbangkan kondisi anak-anak yang tidak lagi memiliki ayah, ibu, atau keduanya.

"Bayangkan bagaimana perasaan seorang anak ketika teman-temannya diantar ayah dan ibunya ke sekolah, sementara dia harus datang sendiri karena sudah tidak memiliki orang tua. Kondisi seperti ini juga perlu menjadi perhatian," ujar Raja Muda, Jumat (10/7/2026).

Ia menilai, tujuan utama gerakan tersebut adalah menghadirkan kasih sayang, dukungan, dan semangat kepada anak-anak pada hari pertama masuk sekolah. Oleh karena itu, menurutnya, jangan sampai program yang memiliki niat baik justru tanpa disadari menimbulkan kesedihan atau rasa minder bagi anak-anak yang kehilangan figur orang tua.

Raja Muda berharap pemerintah tidak hanya mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak, tetapi juga menghadirkan perhatian khusus bagi anak-anak yatim melalui pendampingan dari wali, keluarga, guru, tokoh masyarakat, maupun relawan.

Menurutnya, kehadiran sosok pendamping pada hari pertama sekolah akan memberikan dukungan moral sehingga anak-anak yang kehilangan orang tua tetap merasakan perhatian, kasih sayang, dan semangat yang sama seperti teman-teman mereka.

"Esensi gerakan ini adalah menghadirkan kasih sayang dan dukungan kepada anak. Karena itu, jangan sampai ada anak yang justru merasa sedih atau terpinggirkan karena kondisi yang tidak bisa mereka pilih," katanya.

Lebih lanjut, Raja Muda menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian, serta penghormatan terhadap sesama. Karena itu, setiap kebijakan maupun program pendidikan hendaknya mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang keluarga mereka.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah bersama pihak sekolah menyusun mekanisme pendampingan khusus bagi anak-anak yatim pada hari pertama masuk sekolah. Pendampingan tersebut dapat dilakukan oleh guru, wali kelas, keluarga, maupun tokoh masyarakat agar mereka tetap merasakan kebersamaan dan perhatian.

"Jangan sampai gerakan yang baik ini tanpa disadari menyisakan kesedihan bagi sebagian anak. Semua anak berhak merasa dihargai, disayangi, dan mendapatkan semangat yang sama ketika mengawali perjalanan pendidikannya," tutup Raja Muda.

Laporan: Hartini