Barsela24news.com | Lombok Timur NTB, 15 Agustus 2026 – Di momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Dewan Pimpinan Cabang Partai Hanura Lombok Timur bersama Laskar Muda Hanura Lombok Timur menegaskan kembali semangat kemerdekaan dalam bentuk kemerdekaan berpolitik bagi anak muda. Kemerdekaan 81 tahun yang lalu diperjuangkan dengan darah dan tenaga. Hari ini, kemerdekaan itu harus diisi dengan keberanian anak muda untuk masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan dan menentukan arah pembangunan daerah.
Konsolidasi politik dan pembekalan kader muda digelar di Lombok Timur, Jumat 15 Agustus 2026. Agenda ini menjadi titik awal penguatan mesin politik Hanura dalam menghadapi agenda politik lima tahun ke depan dengan sasaran utama Gen Z dan Milenial. Kegiatan dipimpin langsung oleh Mahesapati T, SH selaku Ketua Bapilu DPC Hanura Lombok Timur dan dihadiri oleh Heru Margi Pangestu selaku Ketua Umum DPP Laskar Muda Hanura. Puluhan koordinator kecamatan, pengurus ranting, dan relawan anak muda hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam arahannya, Mahesapati T, SH menyampaikan bahwa semangat kemerdekaan harus diterjemahkan ke dalam politik yang memberi ruang. Menurutnya, Bapilu DPC Hanura Lombok Timur tidak akan bekerja dengan pola lama yang hanya menjadikan anak muda sebagai pelengkap.
"81 tahun Indonesia merdeka. Tapi kalau anak muda masih hanya diajak saat butuh tenaga, saat butuh like, saat butuh massa, lalu setelah pemilu selesai ditinggal, berarti kemerdekaan itu belum sampai ke ruang politik. Pola itu harus kita putus. Di Hanura Lombok Timur, Bapilu hadir untuk memastikan anak muda bukan hanya pendukung, tapi juga pemain utama," ujar Mahesapati.
Mahesapati menjelaskan, Bapilu ke depan akan fokus pada tiga kerja besar. Pertama, rekrutmen kader muda berbasis kompetensi. Bapilu akan turun ke kampus, sekolah vokasi, komunitas kreatif, dan UMKM untuk mencari calon-calon pemimpin baru yang punya program, bukan hanya punya nama besar atau kedekatan.
Kedua, pelatihan politik praktis. Bapilu akan menyelenggarakan Sekolah Politik Milenial yang isinya materi kampanye digital, cara menyusun visi misi desa, teknik debat, komunikasi publik, dan memahami APBD. Tujuannya agar kader muda yang maju tidak gagap saat duduk di kursi legislatif maupun eksekutif.
Ketiga, pendampingan program nyata. Bapilu tidak ingin kader muda hanya jago orasi. Mereka harus punya kerja di lapangan. Karena itu Bapilu akan menggandeng BUMD, koperasi, dan pelaku usaha untuk membuka akses modal dan pasar bagi UMKM anak muda.
"Elektabilitas Gen Z dan Milenial tidak akan naik kalau kita hanya bicara di atas panggung. Elektabilitas naik kalau anak muda merasakan manfaat langsung dari kehadiran partai politik. Bapilu harus jadi jembatan antara aspirasi anak muda dengan kebijakan," tegas Mahesapati.
Ia juga menyinggung target besar Hanura Lombok Timur di Pemilu 2029. Bapilu menargetkan minimal 30 persen bakal calon legislatif dari DPC Hanura Lombok Timur berasal dari usia di bawah 40 tahun. Target ini akan diukur bukan dari janji, tapi dari jumlah kader muda yang sudah dibina sejak sekarang.
"Kami tidak mau cari caleg dadakan 3 bulan sebelum pendaftaran. Kami mulai dari sekarang. Kami data, kami bina, kami uji di lapangan. Kalau dia lulus di masyarakat, dia layak maju. Ini bentuk tanggung jawab kami dalam mengisi kemerdekaan," lanjut Mahesapati.
Di sisi lain, sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP Laskar Muda Hanura Heru Margi Pangestu yang hadir beberapa waktu lalu saat pelantikan pengurus DPD,DPC se NTB menegaskan bahwa arah gerak Laskar Muda se-Indonesia sudah satu komando.
Kita tidak boleh berhenti di seremoni. Setelah dilantik, tugas kita adalah turun, membina, dan memastikan anak muda punya tempat di politik dan di pembangunan," kata Heru.
Laskar Muda Hanura akan menjadi sayap lapangan yang mengawal setiap program Bapilu. "Tugas kami turun ke 21 kecamatan. Dengarkan keluhan anak muda di desa. Bawa itu ke Bapilu. Bapilu yang nanti dorong ke dalam sistem partai dan ke dalam kebijakan. Hubungan ini harus nyambung, jangan sampai putus di tengah jalan,"
Heru juga menyebut, isu yang paling banyak disuarakan anak muda saat ini adalah lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, akses internet desa, dan pendidikan vokasi. Hal-hal inilah yang akan menjadi bahan utama Bapilu dalam menyusun strategi pemenangan.
Menutup arahannya, Mahesapati mengajak seluruh pengurus DPC, PAC, dan ranting untuk satu komando di bawah kerja-kerja Bapilu.
"Kemerdekaan ini milik kita semua. 2026 ini tahun konsolidasi. 2027 tahun kerja lapangan. 2028 tahun pemanasan. 2029 kita buktikan. Kalau anak muda Lombok Timur tidak kita siapkan dari sekarang, maka 10 tahun lagi kita akan menyesal karena membiarkan masa depan diambil alih orang lain," pungkasnya. (BR)
