Ketika Asosiasi Olahraga Menjadi Panggung Politik

Barsela24news.com
Haji Asgar Nawawi Waketum DPP Gajah Muda Nusantara. Foto: (Ist)

Barsela24news.com | Mataram NTB, 13 Agustus 2026 - Olahraga seharusnya menjadi ruang untuk membina atlet, mencetak prestasi, membangun karakter, dan melahirkan generasi yang menjunjung tinggi sportivitas. Namun ketika sebuah asosiasi olahraga dipimpin oleh seorang politisi, satu pertanyaan publik menjadi sulit dihindari: apakah organisasi itu benar-benar sedang membangun olahraga, atau justru sedang dijadikan panggung pencitraan politik?

Tidak ada yang salah ketika seorang politisi memimpin organisasi olahraga. Jabatan tersebut sah sepanjang dijalankan dengan profesional, transparan, dan benar-benar berorientasi pada kepentingan olahraga.

Ukuran keberhasilannya pun sebenarnya sederhana.

Apakah pembinaan atlet semakin baik? Apakah kompetisi semakin berkualitas? Apakah fasilitas olahraga bertambah? Apakah pelatih mendapatkan perhatian yang layak? Apakah regenerasi atlet berjalan? Dan yang paling penting, apakah prestasi meningkat?

Jika jawabannya tidak terlihat, sementara yang justru semakin sering muncul adalah foto kegiatan, baliho, spanduk, pemberitaan tentang sang pemimpin, serta aktivitas yang memperkuat popularitas pribadi, maka publik tentu berhak mempertanyakan arah organisasi tersebut.

Sebab asosiasi olahraga bukan kendaraan kampanye terselubung.

Atlet bukan properti politik. Komunitas olahraga bukan sekadar pelengkap seremoni. Lapangan pertandingan bukan panggung untuk membangun popularitas seseorang.

Organisasi olahraga dibentuk untuk memastikan atlet mendapatkan pembinaan, kesempatan bertanding, fasilitas, pelatih, dukungan anggaran, serta sistem yang mampu membawa mereka mencapai prestasi.

Karena itu, kepemimpinan organisasi olahraga semestinya dinilai bukan dari seberapa sering seorang ketua tampil di depan kamera, melainkan dari seberapa banyak atlet yang berhasil dibina dan seberapa besar prestasi yang berhasil dilahirkan.

Politisi boleh memimpin olahraga.

Tetapi olahraga jangan sampai dipimpin untuk kepentingan politik.

Jika jabatan organisasi lebih banyak menghasilkan popularitas daripada prestasi, lebih banyak menghasilkan pemberitaan daripada pembinaan, dan lebih banyak menghadirkan seremoni daripada solusi bagi atlet, maka publik patut bertanya: siapa sebenarnya yang sedang diperjuangkan—olahraga atau kepentingan politik?

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak foto yang terpampang di media.

Sejarah olahraga akan mengingat berapa banyak atlet yang berhasil dibina, berapa banyak prestasi yang diraih, dan seberapa besar perubahan nyata yang ditinggalkan.

Olahraga membutuhkan pemimpin yang bekerja ketika kamera mati, bukan hanya tampil ketika kamera menyala.

Sebab prestasi tidak lahir dari pencitraan. Prestasi lahir dari pembinaan, kerja keras, keberpihakan kepada atlet, dan kepemimpinan yang benar-benar bekerja.

Oleh: Haji Asgar Nawawi Waketum DPP Gajah Muda Nusantara

Redaksi